15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Utang Rasulullah pada Akasyah

Utang Rasulullah pada Akasyah

Fiqhislam.com - Kisah ini terjadi saat Rasulullah SAW sakit cukup lama. Ia merasa bahwa waktunya telah dekat untuk kembali pada Allah. Sehingga satu waktu, ia mengumpulkan para sahabat. Saat sakit, Rasulullah SAW sampai tidak dapat shalat berjamaah dengan para sahabatnya di masjid. Dari buku 'Kisah Teladan Rasulullah Menghadirkan Jiwa Muraqabah Lewat Puasa', diriwayatkan Rasulullah SAW meminta beberapa sahabat membawanya ke Masjid. Beliau duduk di atas mimbar dan meminta Bilal memanggil semua sahabatnya untuk datang ke masjid.

Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sahabat-sahabatku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah Tuhan yang layak disembah?"



Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, "Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Tuhan yang layak disembah.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka." Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Hingga akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, aku akan pergi bertemu Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang dengan kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau jika bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua sahabat diam. Dalam hati masing-masing mereka berkata, "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang dengan Rasulullah.”

Namun tiba-tiba, bangun seorang lelaki yang bernama Akasyah. Ia berkata, "Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta kau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa.”

Sahabat lain keheranan. Maka Akasyah pun mulai bercerita, "Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu Engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Tetapi, cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda, sebenarnya cemeti itu terkena pada dadaku karena ketika itu aku berdiri di sebelah belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah.”

Mendengar yang demikian, Rasulullah SAW berkata, "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Akasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama." Dengan suara yang agak tinggi, Akasyah berkata, "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Para sahabat terkaget-kaget melihat pengakuan Akasyah. Antara marah dan terkejut, para sahabat melihat Akasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sebagian sahabat bahkan langsung berteriak memarahi Akasyah.
 
"Sesungguhnya engkau tidak berperasaan wahai Akasyah. Bukankah Baginda sedang sakit?" Akasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cemeti di rumah Fatimah. Setelah mengambil cemeti, Akasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Namun, ia kemudian dihadang Abu Bakar yang tiba-tiba berdiri. Ia berkata, "Wahai Akasyah kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah temannya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW, "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini antara aku dengan Akasyah." Akasyah melanjutkan langkahnya menuju hadapan Rasulullah. Namun tiba-tiba bangunlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW, yaitu Hasan dan Husein. Mereka berdua merayu dan meronta.

"Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami wahai Paman. Sesungguhnya kami ini adalah cucu kesayangan Rasulullah, pukullah kami wahai Paman." Rasulullah pun meminta mereka mundur hingga Akasyah bisa lewat.

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan tegasnya Akasyah berkata, "Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini." Peristiwa ini membuat para sahabat panas.

Namun, Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Ia dengan tenang meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah pun didudukkan pada sebuah kursi. Lalu dengan suara tegas Akasyah berkata lagi:
"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah."

Para sahabat semakin naik pitam dengan tingkah Akasyah. Namun, Rasulullah tetap menuruti perintahnya dengan membuka bajunya. Terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah. Beberapa buah batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Wahai Akasyah, bersegeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu."

Akasyah tampak lebih bergegas menghampiri Rasulullah SAW dengan tangan yang memegang cemeti. Saat sudah begit dekat, ia langsung melempar cemeti itu kemudian memeluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya.

Sambil berteriak menangis, Akasyah berkata, "Ya Rasulullah, ampunkanlah aku, maafkanlah aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sesungguhnya aku takut dengan api neraka. Maafkanlah aku ya Rasulullah."

Rasulullah SAW dalam keadaan sakit berkata, "Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli syurga, maka lihatlah Akasyah." Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW. [yy/republika]

 

Tags: Akasyah | Utang