12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Hadramaut, Pigefatta: Jejak Islam di Nusa Tenggara Timur

Hadramaut, Pigefatta: Jejak Islam di Nusa Tenggara Timur


Fiqhislam.com - Islam diyakini sampai ke Pulau Solor, NTT pada abad ke-13 dibawa oleh Imam Patiduri dari Hadramaut.

Nusa Tenggara Timur (NTT) kini, merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang penduduknya mayoritas non-Muslim. Maka, siapa sangka di masa lalu, wilayah ini pernah menjadi lokasi berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang dibangun masy rakat Muslim.

Mereka pernah memberikan perlawanan sengit terhadap Portugis yang ingin berkuasa di wilayah tersebut. Lima kerajaan kecil itu, yakni Kerajaan Lohayong, Kerajaan Lamakera, Kerajaan La mahala, Kerajaan Terong, dan Kerajaan Labala. Letaknya di Pulau Solor, Adonara, dan Lomblen.

Masyarakat Desa Menanga, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT misalnya, memiliki tradisi lisan tentang sejarah kedatangan Islam ke wilayahnya. Mereka meyakini bahwa Islam sampai ke Pulau Solor pada abad ke-13 dibawa oleh Sayyid Rifaduddin al-Fatih atau Jou Imam Patiduri dari Hadramaut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Peneliti Agama Indonesia (APAI) Muhamad Murtadlo pernah melakukan penelitian di Solor. Ia menerangkan, sejarah masuknya Islam ke Solor identik dengan kehadiran Shahbudin bin Ali bin Salman al-Farisi yang nantinya dikenal sebagai Sultan Menanga. Bahkan, kadang-kadang muncul asumsi bahwa Portugis yang membawa Katolik lebih dahulu tiba Solor sebelum Muslim.

Akan tetapi, pandangan tentang sejarah masuknya Islam ke Solor itu dibantah oleh masyarakat Desa Menanga di Pulau Solor. Mereka meyakini, Imam Patiduri lebih dulu menginjakkan kaki di Solor jauh sebelum kedatangan Portugis sekitar tahun 1561 dan Sultan Menanga sekitar tahun 1598.

Yang membuktikan Jou Imam Patiduri pernah ada di Pulau Solor adalah keberadaan makamnya, pengakuan keturunannya dan cerita rakyat, kata Murtadlo saat diwawancarai Republika, Senin (26/8) malam.

Kesaksian Pigefatta Tentang Islam di Pantai Timor

Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dan penjelajah yang melakukan perjalanan bersama Ferdinand Magellan pernah berlabuh di Pulau Timor. Berdasarkan pengakuannya pada tahun 1522, Pigafetta menyaksikan orang-orang Islam di pantai-pantai Timor. Dia mengatakan ketika sampai di Maluku dan wilayah Indonesia Timur lainnya, bila melihat para 'Kaje' (haji) yang bersorban dan bertopi putih. Mereka memang orang yang datang atau pernah berkunjung ke Makkah.

Menurut Murtadlo yang juga peneliti dari Kementerian Agama, kesaksian Pigafetta secara tidak langsung mendukung tradisi lisan masyarakat Menanga yang meyakini Islam sudah tiba di Solor jauh sebelum kedatangan Bangsa Portugis dan Sultan Menanga. Keyakinan mereka terhadap Jou Imam Patiduri didukung oleh bukti fisik adanya makam Jou Imam Patiduri di Desa Menanga.

Bahkan, ada orang-orang yang mengaku sebagai keturunannya.

Murtadlo juga mengatakan, banyak sejarawan berpendapat, perkembangan Islam di NTT dimulai dari Pulau Solor.

Kemungkinan Solor menjadi daerah pertama yang tersentuh Islam karena letaknya sangat strategis.

Pulau Solor memiliki bandar atau pelabuhan penting, seperti Pamakayo, Lohayong, Menanga, dan Labala, pelabuhan itu sangat penting bagi kapal yang menunggu angin untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Timor dan Maluku,ujarnya.

Karena itu, penyebaran agama Islam dimulai dari lokasi di sekitar pelabuhan.

Sebab, agama Islam juga dibawa oleh para pedagang yang menggunakan trans portasi laut. Sementara itu, Pulau Solor menjadi tempat peristirahatan sebelum mereka melanjutkan pelayaran.

Dalam pandangan sejarawan Islam, Tiar Anwar Bachtiar, masuknya Islam ke wilayah Indonesia timur kemungkinan dibawa oleh ulama dan pendakwah dari Kesultanan Buton. Para pendakwah Islam yang sudah mengislamkan Buton terus bergerak ke daerah timur sampai ke kawasan NTT, Maluku, dan Papua.

Biasanya, masyarakatnya dulu yang memeluk Islam kemudian kerajaannya menjadi kerajaan Islam, jadi tidak harus kerajaannya menjadi Islam dulu baru masyarakatnya, di Indonesia modelnya begitu, kata Tiar saat diwawancarai Republika, Senin (26/8).

Mengenai tersebarnya Islam di wilayah NTT, Tiar berpendapat, kemungkin an tidak lepas dari pengaruh tersebar nya Islam di Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah NTB, NTT, Sulawesi, dan Maluku adalah kepulauan. Untuk beraktivitas, masyarakatnya harus mengarungi lautan, sehingga intensitas mereka datang ke berbagai pulau untuk ber interaksi sangat dinamis. Dengan cara seperti itu, Islam menyebar di kawasan kepulauan.

Mengenai tradisi lisan masyarakat Desa Menanga yang meyakini Islam tiba di sana sekitar abad ke-13 dibawa oleh ulama dari Hadramaut, Tiar menilai, hal itu tidak mustahil. Sebab, hubungan perdagangan antara orang-orang Arab dan Nusantara sudah ada sejak abad per tama.

Jadi, orang Arab sudah sangat intensif datang ke kawasan Nusantara ini termasuk ke wilayah timur, maka ada marga Arab yang lebih banyak populasinya di Indonesia timur seperti Alkatiri, ujarnya.

Tiar menerangkan, orang Arab berlayar ke Nusantara ada yang untuk berdagang, berdakwah, dan berdagang sekaligus berdakwah. Mengingat hubungan dagang sudah berlangsung sejak lama, tentu sangat mungkin Muslim yang berdagang sambil menyebarkan Islam.

Bisa jadi pada masa lalu ada pen dakwah khusus untuk menyebarkan Islam yang ikut dengan para pedagang berlayar ke Nusantara. Namun, Islam datang dalam konteks hubungan biasa yang sangat terbuka, tidak dengan cara berhadap-hadapan.

Tiar menegaskan, hubungan dagang antara umat Islam dari Arab dan masyarakat Nusantara sudah berlangsung sejak lama. Artinya, Islam di Indonesia sudah mengakar dan sudah menjadi bagian yang inheren dengan budaya masya rakat Indonesia.

Maka, kalau bicara mengenai Indonesia dan Islam seharusnya tidak boleh dibenturkan. Sebab, salah satu unsur pembentuk Indonesia adalah Islam.

Islam sudah mendarah daging dengan orang Indonesia, Islam adalah salah satu yang memberi corak bagi identitas keindonesiaan, Indonesia kenal dengan Islam sudah sangat lama dan intensif.''

Persekutuan Kerajaan Islam

Lima kerajaan kecil yang dibangun masya rakat Muslim membangun persekutuan untuk melawan Portugis di Pulau Solor, NTT. Selanjutnya, mereka disebut persekutuan Solor Watan Lema atau Negeri Lima Pantai.

Kerajaan yang tergabung dalam persekutuan di antaranya Kerajaan Lohayong, Kerajaan Lamakera, Kerajaan Lamahala, Kerajaan Terong, dan Kerajaan Labala. Lima kerajaan itu tersebar di tiga pulau di antaranya Pulau Solor, Adonara, dan Lomblen.

Latar belakang terbentuknya persekutuan Solor Watan Lema dijelaskan dalam jurnal berjudul Situs Menanga Solor Flores Timur, Jejak Islam di NTTyang ditulis Muhamad Murtadlo.

Dalam tulisan yang diterbitkan Jurnal Lektur Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017 tersebut, Murtadlo menceritakan, Sultan Menanga bernama Shahbudin bin Ali bin Salman al-Farisi yang datang ke Pulau Solor berhasil memimpin persekutuan Solor Watan Lema antara tahun 1613-1645. Kemudian, Shahbudin menyebut dirinya Sul tan Menanga karena berkuasa di wilayah Menanga.

Persekutuan lima kerajaan kecil itu bertujuan melawan bangsa Portugis yang telah membangun benteng di Lohayong. Benteng tersebut kini dikenal dengan nama Benteng Lohayong atau Benteng Fort Henricus.

Karena ada momen itu, lima kerajaan pantai yang semuanya hampir bisa dikatakan kerajaan Islam, bersatu, mereka menyusun kekuatan bersama untuk menaklukkan Benteng Portugis,kata Murtadlo.

Sebelumnya, diceritakan dalam jurnalnya, bang sa Portugis datang ke Solor sekitar tahun 1561. Kemudian, mereka membangun Benteng Lohayong pada tahun 1566. Pada saat itu masyarakat Solor dan sekitarnya meminta Sultan Mena nga untuk memimpin perlawanan terhadap Portugis.

Perlawanan Sultan Menanga bersama Negeri Lima Pantai terhadap Portugis didukung oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dike tahui, VOC sendiri memiliki keinginan menggeser kekuasaan Portugis di daerah Lohayong.

Sebagai imbalan untuk Sultan Menanga, VOC akan mengakui kedaulatan persekutuan Solor Watan Lema. Terkait tujuan VOC menggeser Portugis, tidak lepas dari kepentingan mereka untuk mendapatkan keuntungan dari kepergian Portugis.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Murtadlo menduga, ketika Portugis datang ke Solor belum ada Islam yang melembaga dalam bentuk masjid atau kerajaan Islam. Tapi, diakui bahwa setelah Kerajaan Majapahit runtuh, ada komunikasi perdagangan dan kepercayaan antara Jawa, Ternate dan masyarakat lokal di Pulau Solor, jelasnya.

Murtadlo menjelaskan, keberadaan kerajaan-kerajaan Islam di wilayah NTT memang belum banyak tertulis. Sebab, kebanyakan masih berupa cerita rakyat, tapi menurut dia adanya kekuatan rakyat bernama Solor Watan Lema yang menyerang Benteng Lohayong pada tahun 1613, itu merupakan bukti penting.

Kekuatan rakyat tersebut menandakan, sebelum bangsa Portugis tiba, Islam telah hadir di Solor. Dia menerangkan, jika Portugis datang ke Solor dan berkuasa dengan aman tanpa adanya perlawanan, hal itu membuktikan tidak ada kekuatan lain selain Portugis.

Tapi, faktanya ada perlawanan (rakyat)terhadap Portugis, itu artinya sudah ada kekuatan lain yang lebih dulu ada di Solor sebelum Portugis tiba, katanya.

Di Desa Menanga, terdapat bekas-bekas keberadaan situs Menanga yang menjadi pusat pemerintahan Solor Watan Lema. Di sana terdapat bukti fisik berupa fondasi Masjid Sultan Menanga yang didirikan oleh Sultan Menanga.

Hasil penelitian Murtadlo menjelaskan, di sekeliling masjid terdapat sisa-sisa Benteng Menanga. Benteng tersebut lebarnya 125 meter dan panjangnya 140 meter. Luas Benteng Menanga lebih luas dari Benteng Lohayong yang berukuran lebar 46 meter dan panjang 58 meter.

Dengan benteng sebesar itu, maka Menanga menjadi bukti yang paling solid dari keberadaan Menanga sebagai pemegang kendali tertinggi dari Solor Watan Lema, kata Murtadlo.

Selain itu, terdapat makam Shahbudin bergelar Sultan Menanga atau Kaicili Pertawi dan makan Nyai Sili Pertawi sebagai istri kedua Sultan Menanga. Juga terdapat makam Jou Imam Patiduri yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tokoh yang pertama kali menyebarkan Islam di Solor.

Dulu, kata Murtadlo, Menanga menjadi titik awal perkembangan agama Islam di wilayah Solor Watan Lima.

Sementara itu, Lohayong dijadikan Portugis sebagai pangkalan dengan dibangunnya Benteng Lohayong dan menjadi awal penyebaran Katolik di Flores Timur.''

Alquran Tua Di Pulau Alor dan Panthar

Jejak Islam di wilayah Nusa Tengara Timur semakin nyata bila mengunjungi Pulau Alor dan Pantar. Di Pantar di dekat masjid tua yang ada di pinggir pantai tersimpan Alquran tua yang terbuat dari kulit kayu.

''Ini diperkirakan merupakan hadiah dari raja Ternate,'' kata penjaga Alquran itu.

Dalam legenda setempat kaitan antara wilayah itu dengan dakwah agama Islam juga terjejak. Di sana ada legenda Olelang, seorang anak dari Pantar yang merantau selama 11 tahun untuk belajar di pesantren Sunan Giri yang ada di Gresik, Jawa Timur. Fakta ini bersesuaain dengan kenyataan bahwa pusat penyebaran agama Islam ke wilayah timur Indonesia adalah kota ini.

Dan memang Gresik saat itu menjadi pesaing dari kota-kota lain di Majapahit yang kala itu telah mengalami kemunduran karena muncul perang saudarayang bertubi-tubi setelah peninggalan Raja Hayam Wuruk. Di kala itu perang saudara dikenal dengan sebutan Perang Paregreg. Akibat lemahnya Majapahit, maka Gresik dengan Sunan Girinya menjadi 'moncer' pengaruhnya hingga ke wilayah timur Indonesia, misalnya sampai di Pantar sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur.

Khusus untuk legenda Olelang kisahnya begini. Kala itu di kawasan pantai pulau Pantar ada sekelompok pelaut yang tengah melepas sauhnya. Mereka adalah 'orang Jawa' yang berasal dari Gresik.

Kedatangan para pelaut Gresik ini menarik perhatian seorang bocah yang bernama Olelang. Dia anak asli pulau pantar. Saking tertariknya bocah itu mau diajak ikut berlayar pulang ke Jawa. Anehnya bocah itu pun mau.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama di Gresik, bocah asal Pantar ini ternyata di masukan ke sebuah pesantren. Di sana dia belajar aneka ilmu ke Islaman. Dia menjadi murid di pesantren Gresik selama 11 tahun. Dan setelah itu 'Panembahan Gresik' (Sunan Gresik) mengirimkan pulanh anak ini ke kampung halamannya di pulau yang berada di ujung timur yang berada di dekat pulau Timor itu. Olelang inilah yang dipercaya sebagai jalan pembuka makin merebaknya dakwah Islam di kawasan tersebut.

Di kawasan Pantar jejaj orang Majapahit juga ada. Selain makam, hingga surau khas Jawa, juga di sana ada sisa tembok yang disebut dibuat oleh orang Majapahit. Jejak ini ada di sebuah perkampungan tua yang ada di dekat kawasan pantai.

Namun, selaian terdapat jejak orang Jawa Majapahit, di sana juga ada jejak orang Aceh. Ini diketahui dari sebuah makam tua yang berada di baswah rimbun pohon beringin tua. Maka di sini bisa disimpulkan memang sudah ada hubungan antara tempat itu dengan Gresik di Jawa dan Aceh yang letaknya di ujung barat Indonesia. [yy//republika]

Oleh Fuji E Permana, Jurnalis Republika