12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Pembelaan Malaikat Kepada Hamba Allah

Pembelaan Malaikat Kepada Hamba Allah

Fiqhislam.com - Malaikat selalu membela dan mendoakan seorang hamba apabila mereka melakukan hal-hal yang baik.

Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, Malaikat senantiasa membela seorang hamba jika ada yang menganiaya atau mencelanya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwasanya ada dua orang yang bersengketa di hadapan Rasulullah.

Salah satu dari mereka pun mencela yang lain, sedangkan yang dicela tadi diam saja. Akan tetapi, tidak lama kemudian dia balik membalas pencela tadi dengan suatu kalimat. Maka berdirilah Nabi. Orang itu lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau berdiri saat aku membalas sebagian ucapannya? Nabi Saw menjawab: "Tadi Malaikat membelamu. Namun, ketika engkau membalasnya, lantas datanglah syaitan sehingga aku tidak jadi duduk" (Hadits sahih. Lihat takhrij-nya dalam al-Arbaun Haditsan fid Dawah wad Dua).

Kemudian jika seorang Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka Malaikat mengamininya, lalu berkata: "Demikian juga untukmu yang semisalnya." (HR muslim dari Abu ad-Darda).

"Apabila umat Islam selesai membaca surat Al-Faatihah, maka para Malaikat segera mengamini doanya." (Sahih Bukhari dan Muslim).

Jika seorang Mukmin yang bertauhid, mengikuti jalan-Nya, dan meneladani sunnah Rasul-Nya tanpa berbuat dosa, niscaya para Malaikat yang memikul al-Arsy dan yang berada di sekelilingnya memintakan ampunan untuknya. (Kitab al-Haba-ik fi Akhbaril Mala-ik karya as-Suyuthi).

"Apabila seorang Muslim tidur dalam keadaan berwudhu, maka Malaikat bermalam di bawah bajunya. Setiap kali dia terbangun pada malam hari, Malaikat tersebut memintakan ampun untuknya." (HR. Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ibnul Mubarak).

Malaikat selalu membela, melindungi, mengajari, meneguhkan, dan memberanikan orang Mukmin. Ia adalah tetangga dan tamu bagi setiap Muslim. Oleh karena itu, tidak sepantasnya dia bersikap buruk kepada tetangganya, menyakitinya, mengusirnya, serta menjauhkannya. Jika memuliakan tamu dari kalangan anak Adam dan berbuat baik terhadap tetangga termasuk konsekuensi iman, maka bagaimana pula dengan memuliakan tamu yang paling mulia, dan tetangga yang paling baik serta paling berbakti?. [yy/republika]