11 Rajab 1444  |  Kamis 02 Februari 2023

basmalah.png

Seberapa Sering Kita Harus Berbekam?

Seberapa Sering Kita Harus Berbekam?Fiqhislam.com - “Tidaklah aku melewati sekumpulan malaikat pada malam aku di-Isra’kan, melainkan mereka (para malaikat) semua mengatakan kepadaku: “Hai Muhammad, Engkau harus berbekam,” (HR.Tirmidzi)

Kesembuhan dapat diperoleh dengan tiga cara: pertama dengan meminum madu (dengan obat herbal), kedua dengan berbekam/hijamah, dan ketiga dengan (terapi) besi panas. Dan aku tidak menganjurkan umatku untuk melakukan pengobatan dengan besi panas,” (HR. Bukhori).

Jelas sekali dalam dua hadist di atas, berbekam adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Rasul. Pertanyaannya, seberapa sering kita harus berbekam?

Jawabannya sebenarnya tergantung kondisi orang tersebut.

Kalau kita mengikuti sunnah Nabi, idealnya sebulan sekali. Terutama tanggal 17, 19, atau 21 Hijriyah (2 hari sesudah bulan purnama). Nabi rutin berbekam sehingga ada hadits yang menceritakan Nabi berbekam di bulan puasa dan waktu ihrom.

Kadang ada orang yang malas mengikuti sunnah Nabi. Minimal dia berbekam 6 bulan / setahun sekali agar darah “kotornya” bisa dikeluarkan untuk diganti dengan darah baru yang segar.

Namun saat orang tersebut menderita penyakit darah tinggi, misalnya tensi darah 190/120 dan kepala sudah pusing/kliyengan, sebaiknya bekam dilakukan sebulan sekali. Paling lama 2 bulan sekali. Jangan sampai 6 bulan lebih tidak dibekam sehingga bisa terkena stroke terlebih dahulu.

Sudah ada beberapa keluarga/ipar yang meski sudah dibekam, namun karena 6 bulan lebih tidak dibekam meski punya penyakit darah tinggi, akhirnya masuk rumah sakit karena stroke. Saat itu terjadi, maka kelumpuhan pun meski cuma sebagian tubuh, akhirnya membuat mereka hanya duduk/tiduran tanpa bisa bekerja atau berusaha.

Oleh karena itu jika Anda punya penyakit darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, asam urat, atau penyakit lain yang bisa dideteksi dengan darah, sebaiknya rutinlah berbekam agar penyakitnya tidak menjadi fatal. Yakinlah bahwa setiap penyakit—kecuali kematian—ada obatnya. [yy/islampos.com]