<
pustaka.png
basmalah.png

Titik Balik Peradaban Islam, dari Era Keemasan Hingga Mundur Perlahan

Titik Balik Peradaban Islam, dari Era Keemasan Hingga Mundur Perlahan

Fiqhislam.com - Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar ke Utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya arus dari utara semakin deras, membawa barang-barang baru, pikiran-pikiran baru, agama baru. Juga ke Tuban.

Penggalan kalimat di atas merupakan anggitan kata-kata Pramudya Ananta Toer dalam salah satu karya monumentalnya, Arus Balik.

Pram, nama panggilannya, berupaya untuk menggambarkan titik balik peradaban Nusantara yang setidaknya dimulai pada abad ke-15 Masehi, pada periode akhir Majapahit. Tentu saja, seperti diungkapkan Fritjof Capra bahwa tidak mudah untuk memberikan keterangan waktu secara persis tentang kapan titik balik mundurnya suatu peradaban itu terjadi.

Namun yang pasti, pada sekitaran abad ke-15 sampai dengan abad ke-17 Masehi dunia menyaksikan menyingsingnya fajar baru peradaban Eropa yang dengannya ide-ide dan teknologi baru memporak-porandakan pondasi peradaban Islam yang sempat berjaya pada abad-abad sebelumnya.

Selain kapal, sebagai representasi kebudayaan material, masyarakat Nusantara juga membawa serta cerita-cerita rakyat yang konon digemari masyarakat di belahan dunia lainnya. Hal ini dapat diibaratkan seperti K-Pop, kebudayaan Korea Selatan, yang kini digandrungi oleh muda-mudi sedunia, termasuk di Indonesia.

Lebih lanjut, Pram menulis:

“Tak ada seorang pun di antara pemuda desa ini pernah menginjakkan kaki di bumi Atas Angin. Di sana pun dahulu kalian akan dengar gamelan kalian sendiri. Orang sana juga menggemari cerita-cerita Panji dari Jenggala seperti kalian. Mereka juga mencintai Panji Semirang, juga seperti kalian di desa ini.

Di belahan bumi lainnya, Turki Usmani, kekhalifahan Islam terbesar sepanjang sejarah, pada saat yang sama berhasil mencapai puncak kedigdayaannya. Di bawah Muhammad II bergelar Al-Fatih, dinasti ini berhasil menjebol benteng-benteng raksasa Konstantinopel, Ibu Kota Romawi Timur. Imperium Islam yang berhasil menguasai berbagai kawasan di Asia, Afrika Utara dan Eropa pada masa pemerintahan Sulaiman Al-Qanuni ini, juga tidak mampu merespons tantangan yang datang dari peradaban Eropa yang membawa pikiran-pikiran baru dan teknologi baru sebagaimana yang terjadi di negeri Bawah Angin, Nusantara.

Kemunduran Turki Usmani tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan-perubahan di internal kekhalifahan, tetapi lebih kepada ketidakmampuan untuk berpacu dengan cepatnya laju kemajuan kebudayaan Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni perang dan damai, tata kelola pemerintahan, dan perdagangan (Bernard Lewis, 1995: 289).

Sementara itu, di negeri-negeri Islam yang berada di kawasan Rusia modern saat ini, menyaksikan munculnya kekuatan baru kekaisaran Rusia yang berpusat di Moskow. Di bawah pemerintahan Tsar Ivan yang Bengis (memerintah 1533–1584) dan beberapa penguasa berikutnya, satu demi satu negeri-negeri Islam yang penting ditaklukan dan disatukan ke dalam wilayah Imperium Rusia, termasuk Kazan (1552), Astrakhan (1556), dan Siberia Barat (1598). Mereka tidak hanya ditaklukan, tetapi juga terjadi penghancuran kebudayaan Islam dan pemaksaan untuk beradaptasi dengan nilai-nilai Rusia (Rusifikasi) dengan memeluk agama Kristen Ortodoks.

Titik balik peradaban itu juga terjadi di Spanyol. Pada penghujung abad ke-15 M, umat Islam di Granada dipaksa untuk melakukan konversi ke agama Kristen atau pergi dari bumi Spanyol. Penaklukan Granada pada 2 Januari 1599 itu oleh sebagian masyarakat Spanyol masih diperingati sampai hari ini sebagai Dia de la Toma sebagai hari bersejarah cikal bakal terbentuknya negara Spanyol modern.

Pikiran-Pikiran Baru

Pada 1798, Napoleon Bonaparte mendarat di pelabuhan Alexandria, Mesir. Di samping membawa angkatan militer, Napoleon juga membawa para ilmuwan untuk melakukan kajian terhadap kebudayaan Mesir yang dianggap eksotis. Penguasaan Napoleon yang hanya sekitar 3 tahun ini, 1798-1801, memberikan dampak psikologis bagi umat Islam yang menyadari ketertinggalan mereka dari budaya baru yang dibawa oleh Prancis.

Pada 1789 terjadi Revolusi Prancis. Mereka membawa nilai-nilai baru dalam bidang politik yang kemudian dikenal dengan jargon Persaudaraan, Kebebasan, dan Persatuan. Perluasan kekuasaan Prancis ini menjadi pelajaran berharga bagi Mesir dan dunia Islam saat itu: bahwa kekuatan politik dan militer baru yang lebih tangguh telah tiba. Sebelumnya Mesir dikuasai oleh Inggris, dan sekarang Perancis dengan mudah bisa menaklukan Mesir sebagai salah satu jantung peradaban Islam.

Sepanjang abad ke-15 sampai dengan ke-18, Eropa mengalami titik balik peradabannya. Filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan diiringi penemuan-penemuan penting yang mengubah tatanan dunia seperti mesin cetak, mesin uap, dan persenjataan modern.

Mesin cetak membawa perubahan mendasar pada persebaran ilmu pengetahuan. Buku menjadi teman akrab masyarakat Eropa dan ide-ide baru dapat tersebar secara lebih cepat dan lebih luas. Mesin uap mengantarkan Eropa pada Revolusi Industri, menggantikan tenaga manusia dengan mesin dan melahirkan upaya pencarian bahan-bahan mentah untuk industri dan pasar baru mereka. Sementara itu, persenjataan modern menguatkan aspek militer untuk melakukan penaklukan demi penaklukan ke bangsa-bangsa Muslim di seluruh dunia.

Tanggapan Umat Islam

Apakah para khalifah tidak menyadari perubahan-perubahan ini? sudah barang tentu mereka menyadarinya. Bahkan, mereka telah berupaya untuk mengatasi perubahan baru yang sedang terjadi. Namun, seperti dikatakan Bernard Lewis, mereka tidak mampu untuk mengatasi halangan ideologis dan kelembagaan untuk menerima ide-ide baru dan cara-cara baru yang kemudian dikenal sebagai dunia modern.

Memang, setiap zaman memiliki tantangan-tantangan tersendiri. Keberhasilan dalam menanggapi tantangan-tantangan itulah yang menentukan apakah suatu kebudayaan akan terus berlangsung ataukah mengalami kemandegan atau hilang dari muka bumi.

Sejarah telah mencatat bahwa pada abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi umat Islam telah berhasil secara gemilang dalam menghadapi tantangan baru yang datang dari kebudayaan lain. seperti dicatat oleh Fazlurrahman bahwa umat Islam secara gemilang berhasil melewati krisis intelektual dan kebudayaan dengan mengadaptasi, menyerap, dan menyingkirkan bagian-bagian tertentu dari warisan budaya helenisme, khususnya ilmu pengetahuan.

Helenisme sendiri secara umum dipahami sebagai kebudayaan Yunani, baik Yunano kuno maupun pasca meninggalnya Alexander Agung, yang telah diadopsi oleh kebudayaan lain yang berkembang di kawasan Asia Kecil, Mesopotamia, Syria, dan Mesir. Wilayah-wilayah ini menjadi titik-titik penting pertemuan antara umat Islam dan pemeluk agama lainnya di mana mereka saling berinteraksi dan berdebat untuk mempertahankan argumentasi keyakininan masing-masing.

Memasuki periode modern, umat Islam nampak tergopoh-gopoh dalam merespon kemajuan Barat ini. Tidak hanya secara politik dan militer umat Islam mengalami kekalahan, tetapi mereka juga mendapatkan tantangan dari berbagai aspek mulai dari para misionaris Kristen, pemikiran Barat Modern, dan kritik-kritik yang tajam terhadap agama Islam maupun penganut agama Islam dari para sarjana Eropa (Fazlurrahman, 2010: 312).

Sejumlah cendekiawan Muslim kemudian menyerukan diterapkannya pembaruan keagamaan. Mereka berpandangan bahwa hanya dengan kembali kepada pokok-pokok ajaran Islam, yakni Al Quran dan Hadits, dan menyerukan dibukanya pintu ijtihad umat Islam akan mampu meraih kejayaannya. Sebagian lainnya menyerukan agar umat Islam mengadopsi kemajuan-kemajuan Barat baik dalam bidang politik, pendidikan, maupun kemiliteran.

Dalam rangka mencari jawaban-jawaban atas tantangan inilah, kita akan menyaksikan perubahan-perubahan mendasar dalam dunia Islam sehingga menjadi seperti yang kita saksikan dewasa ini. kekhalifahan Islam, seperti Turki Usmani, Dinasi Safawiyah di Iran, Mamluk di Mesir, dan kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara, secara berangsur berada di bawah tikaman kolonialisme.

Negeri-negeri Muslim, singkatnya, menjadi seperti kue ulang tahun yang dibagi-bagi dan diperebutkan oleh negara-negara modern seperti Perancis, Spanyol, Portugis, Belanda, Rusia, dan Inggris.

Pada tulisan-tulisan berikutnya, saya akan menyoroti tentang upaya-upaya umat Islam dalam merespon tantangan ini. Mulai dari upaya pembaruan di kesultanan Turki Usmani, menyaksikan gejolak yang terjadi di Mesir, Arab Saudi, dan kawasan-kawasan Islam lainnya. [yy/islamico]

Aziz Ahmad
Pegiat kajian sejarah di Islami Institute

 

top