29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Muslimah Haid Tetap Bisa Beribadah, Apa Saja yang Dibolehkan?

Muslimah Haid Tetap Bisa Beribadah, Apa Saja yang Dibolehkan?

Fiqhislam.com - Muslimah yang sedang mengalami haid atau datang bulan, dia tidak diperbolehkan untuk menjalankan beberapa ibadah seperti shalat, berpuasa, menyentuh mushaf atau Alquran, dan thawaf di Kabah.

Meski demikian masih ada beberapa amalan yang bisa dilakukan Muslimah yang sedang haid. Dengan melakukan amalan-amalan ini, ia tetap menegakkan ibadah dan dekat dengan Sang Pencipta.

Amalan pertama yang bisa dilakukan adalah membaca Alquran tanpa menyentuh lembarannya. Seorang muslimah bisa membaca dengan menggunakan perantara sebelum menyentuh Mushaf atau dengan menggunakan aplikasi yang tersedia pada gawai (pendapat ini sah menurut sejumlah mazhab).

Cara lain, Muslimah bisa mengikuti dari bacaan Alquran yang telah direkam sebelumnya dan diunggah di beberapa media sosial. Amalan lainnya yakni berzikir. Ada banyak zikir yang bisa dilakukan oleh seorang muslimah yang sedang haid. Beberapa yang bisa dilakukan adalah ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Yang paling mudah dan bisa dilakukan adalah membiasakan diri membaca  subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, dan Allahuakbar 33 kali yang selalu dibaca seusai shalat. 

Amalan berikutnya yang bisa dikerjakan adalah beristighfar dan bertaubat. Dengan beristighfar, seorang umat telah mengoreksi diri dari tindakan-tindakan buruk yang dilakukan sebelumnya dan mengingat kekurangan yang dimiliki.  

Ada banyak kelebihan istighfar yang dilakukan oleh seorang hamba. Disebut oleh Ibni Abbas, Rasul bersabda, "Barangsiapa yang sentiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."  

Amalan kelima yang bisa dilakukan adalah bershalawat. Shalawat yang diucapkan oleh umat Nabi Muhammad akan sampai kepadaNya. Ini juga menjadi bukti cinta kita kepada Allah dan RasulNya. Berikutnya yang bisa dilakukan yaitu belajar ilmu agama. 

Cara ini bisa dilakukan sendirian dengan membaca buku-buku tentang agama maupun mendatangi kajian-kajian keagamaan. Tidak ada yang bisa menghalangi seseorang dalam mencari ilmu.

 

Muslimah Haid Tetap Bisa Beribadah, Apa Saja yang Dibolehkan?

Fiqhislam.com - Muslimah yang sedang mengalami haid atau datang bulan, dia tidak diperbolehkan untuk menjalankan beberapa ibadah seperti shalat, berpuasa, menyentuh mushaf atau Alquran, dan thawaf di Kabah.

Meski demikian masih ada beberapa amalan yang bisa dilakukan Muslimah yang sedang haid. Dengan melakukan amalan-amalan ini, ia tetap menegakkan ibadah dan dekat dengan Sang Pencipta.

Amalan pertama yang bisa dilakukan adalah membaca Alquran tanpa menyentuh lembarannya. Seorang muslimah bisa membaca dengan menggunakan perantara sebelum menyentuh Mushaf atau dengan menggunakan aplikasi yang tersedia pada gawai (pendapat ini sah menurut sejumlah mazhab).

Cara lain, Muslimah bisa mengikuti dari bacaan Alquran yang telah direkam sebelumnya dan diunggah di beberapa media sosial. Amalan lainnya yakni berzikir. Ada banyak zikir yang bisa dilakukan oleh seorang muslimah yang sedang haid. Beberapa yang bisa dilakukan adalah ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Yang paling mudah dan bisa dilakukan adalah membiasakan diri membaca  subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, dan Allahuakbar 33 kali yang selalu dibaca seusai shalat. 

Amalan berikutnya yang bisa dikerjakan adalah beristighfar dan bertaubat. Dengan beristighfar, seorang umat telah mengoreksi diri dari tindakan-tindakan buruk yang dilakukan sebelumnya dan mengingat kekurangan yang dimiliki.  

Ada banyak kelebihan istighfar yang dilakukan oleh seorang hamba. Disebut oleh Ibni Abbas, Rasul bersabda, "Barangsiapa yang sentiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."  

Amalan kelima yang bisa dilakukan adalah bershalawat. Shalawat yang diucapkan oleh umat Nabi Muhammad akan sampai kepadaNya. Ini juga menjadi bukti cinta kita kepada Allah dan RasulNya. Berikutnya yang bisa dilakukan yaitu belajar ilmu agama. 

Cara ini bisa dilakukan sendirian dengan membaca buku-buku tentang agama maupun mendatangi kajian-kajian keagamaan. Tidak ada yang bisa menghalangi seseorang dalam mencari ilmu.

 

Perempuan Haid, Bolehkah Berdiam Diri di Masjid?

Perempuan Haid, Bolehkah Berdiam Diri di Masjid?


Fiqhislam.com - Hadas besar bagi perempuan berupa siklus bulanan memberikan konsekuensi hukum, salah satuunya adalah soal berdiam diri di masjid. Apa hukum perempuan yang sedang haid berdiam diri di masjid untuk melakukan sejumlah aktivitas, seperti mendengarkan pengajian atau taklim misalnya?

Para ulama berbeda pendapat. Imam an-Nawawi termasuk salah satu yang beranggapan haram bagi seorang perempuan dalam keadaan haid memasuki masjid. Dalam kitab al-Majmu' disebutkan, "Bagi orang haid dan nifas haram hukumnya menyentuh dan membawa mushaf Alquran, dan berdiam di masjid. Semua itu telah disepakati di kalangan kami Mazhab Syafi’i. Dalilnya sudah dijelaskan. Banyak cabang masalah ini diulas agak panjang pada bab Hal-hal yang Menyebabkan Mandi Wajib. Hadis perihal ini diriwayatkan Abu Dawud, al-Baihaqi, dan perawi lainnya dari A‘isyah RA dengan sanad yang tidak kuat. Penjelasannya sudah lewat di sana."

Pendapat kedua menyatakan seorang perempuan haid boleh memasuki masjid dengan alasan tertentu. Misalnya, hanya lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid dan dia tidak tinggal lama di dalamnya. Hal ini dikemukakan berdasarkan pendapat ulama Mazhab Hanbali. Dalil yang mendasari pendapat ini adalah yang tertulis dalam an-Nisa ayat ke-43, "Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendekati shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan dan jangan pula orang yang junub kecuali sekedar lewat sampai kalian mandi."

Syekh Khalid al-Muslih menyebut perempuan haid boleh saja masuk masjid jika ada hajat. Menurutnya ini adalah pendapat yang lebih tepat. Syekh Khalid berpatokan pada kitab Shahih Muslim bahwasanya Nabi SAW berkata pada Aisyah, "Berikan padaku sajadah kecil di masjid." Lalu Aisyah berkata, "Saya sedang  haid." Lantas Rasul SAW bersabda, "Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu."

Syekh Khalid mengartikan riwayat ini berarti menunjukkan bahwa boleh saja bagi perempuan yang sedang haid untuk memasuki masjid jika; ada hajat dan tidak sampai mengotori masjid. Demikian dua syarat yang mesti dipenuhi bagi wanita haid yang ingin masuk masjid.

Syekh M Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayat az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in menyebut Mazhab Imam Ahmad membolehkan orang junub berdiam di masjid hanya dengan berwudhu tanpa alasan darurat sekalipun. Pendapat ini boleh diikuti.

Pendapat lainnya menerangkan bahwa seorang wanita yang sedang haid boleh memasuki masjid asalkan darah haidnya tidak mengotori masjid atau tempat ibadah tersebut. Dalam suatu hadits disebutkan saat Rasulullah berhaji bersama Aisyah RA, beliau SAW tidak melarang Aisyah untuk memasuki masjid dan melakukan ritual haji sebagaimana para jemaah haji lainnya. Di HR Bukhari Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah apa yang diperbuat  seorang yang berhaji kecuali jangan engkau Thawaf di Ka’bah

Dalam hadis ini, Nabi SAW menyuruh Aisyah yang sedang haid pada musim haji supaya melakukan semua manasik haji yang dilakukan oleh orang yang sedang haji, kecuali satu, yaitu tawaf.

Orang yang sedang haji tentu keluar masuk masjid maka Aisyah yang haid juga boleh keluar masuk masjid. Yang tidak boleh dilakukannya adalah tawaf, karena tawaf dalam suatu hadis dikatakan sama dengan shalat dan wanita haid dilarang mengerjakan shalat.

Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Kasyifat as-Saja juga membolehkan wanita haid untuk menghadiri majelis ilmu dalam rangka belajar agama. Dalam kitab itu dia menyebut tiada keharaman bagi wanita yang tengah haid atau yang tengah menanti habisnya masa nifas untuk menghadiri tempat hadir (majelis taklim).

 

Flek bagi Perempuan, Apakah Hukumnya Termasuk Darah Haid?

Flek bagi Perempuan, Apakah Hukumnya Termasuk Darah Haid?


Fiqhislam.com - Keberadaan flek darah selama masa menstruasi acapkali memunculkan keraguan bagi Muslimah.  Apakah dinilai sebagai darah haid dan kotor atau tidak? 

Flek atau bercak darah yang biasanya berwarna coklat, merah kehitaman, maupun jernih kekuningan ini biasanya muncul sebelum maupun sesudah haid. Secara medis, kemunculan flek ini sifatnya normal. Flek bisa muncul karena stres maupun kelelahan atau penyebab lainnya.

Dalam kitab al-Inshaf, Syekh Taqiyuddin, menyatakan, "Flek bukanlah darah haid secara mutlak." Para ulama pun membagi darah flek menjadi tiga berdasar waktu keluarnya. Flek yang muncul sebelum siklus haid dimulai, bisa dinilai sebagai haid bisa juga bukan. 

Jika kemunculan flek ini disertai dengan rasa nyeri atau bertepatan dengan jadwal haid biasanya, maka flek ini dihukumi sebagai haid. Karena flek tersebut merupakan tanda peluruhan dinding rahim, meskipun darah yang keluar baru beberapa tetes.

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berkata, "Dalam mazhab kami (Syafi’i) mengenai flek, telah kami sebutkan bahwa yang sahih jika keluar pada waktu memungkinkan (waktu kebiasaan haid wanita) maka termasuk darah haid." 

Namun jika bercak darah yang keluar di luar masa kebiasaan haid Muslimah tersebut maka bercak tersebut tidak dihitung sebagai darah haid. Muslimah tetap wajib melakukan ibadah shalat dan puasa sebagaimana mestinya.  

Syekh al-Utsaimin dalam Majmu' Fatawa wa Rasa'il menjelaskan, "Flek yang sebelum haid seperti ini (tidak di masa kebiasaan wanita), bukanlah termasuk haid lebih-lebih datang sebelum masa kebiasaan wanita, tidak ada tanda-tanda haid seperti nyeri haid atau sakit punggung/panggul atau sejenisnya." 

Flek yang muncul di akhir masa haid, atau sesudah keluarnya haid yang sedang deras, maka flek ini dianggap sebagai sisa darah haid. Hal ini dituliskan dalam HR Ibnu Majah, "Kami para perempuan menghadap Aisyah dengan membawa wadah kecil yang di dalamnya terdapat kapas/pembalut agak kekuningan, Aisyah berkata: 'Jangan terburu-buru (bersuci) hingga kalian melihat cairan bening'." 

Dengan begitu, jika keluar di akhir masa haid, maka bercak darah ini dinilai darah haid. Dan Muslimah yang mengalaminya harus mengikuti larangan yang berlaku sesuai saat dia mengalami haid.

Seorang wanita juga tidak boleh terburu-buru untuk mandi besar karena flek kecoklatan yang bersambung dengan darah haid, menjadi bukti bahwa haid belum selesai. Karena itu jika muncul flek kekuningan dan kecoklatan sebelum benar-benar suci maka hal itu menjadi bukti bahwa haid belum selesai.  

Adapun menunggu selama 15 hari berlaku bagi wanita yang masih tetap keluar darah atau flek. Setelahnya dia harus bersuci dan shalat serta puasa menurut mayoritas ahli fikih. 

Terakhir, flek yang keluar sesudah suci dari masa haid. Bila flek muncul di masa suci, maka flek tersebut tidak dinilai sebagai darah haid. Perempuan yang mengalaminya berarti tetap diwajibkan untuk shalat wajib dan berpuasa maupun melakukan ibadah lainnya. 

Berdasarkan hadis Ummu Athiyah ra yang dituliskan dalam HR Abu Daud dijelaskan, "Dahulu kami tidak menganggap apapun cairan keruh dan kekuning-kuningan (yang keluar) setelah masa suci."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Syarah Shahih Bukhari mengatakan, hadis Ummu Atiyah di atas tidak boleh dipahami secara umum, karena terdapat hadis lain yang justru bertentangan yakni pernyataan Aisyah sebelumnya. 

Pernyataan Aisyah dijelaskan berlaku jika flek yang keluar berada dalam masa haid, sedangkan hadis Ummu Atiyah ini berlaku saat perempuan berada dalam masa suci.  

Imam Nawawi pun menyebutkan hal serupa. Dalam Kitab al-Majmu disebutkan, "Tanda berakhirnya haid dan keberadaan masa sucinya, bahwa keluarnya darah dan flek kekuningan dan kecoklatan akan terhenti, jika sudah terhenti maka seorang wanita dianggap sudah suci, meskipun setelahnya keluar cairan bening atau tidak." [yy/republika]