12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Derajat Akal Tentukan Kebahagiaan Manusia

Derajat Akal Tentukan Kebahagiaan Manusia

Fiqhislam.com - Ulama asal Sumatra Barat, Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal Buya Hamka menjelaskan tentang makna kebahagiaan menurut Nabi Muhammad SAW. Dia memulai penjelasannya dengan sabda Rasulullah SAW bahwa Allah SWT membagi akal menjadi tiga bagian.

Siapa yang mempunyai tiga bagian tersebut, sempurnalah akalnya. "Kalau kekurangan meski sebagian, tidaklah ia terhitung sebagai orang yang berakal," demikian sabda Nabi SAW, dikutip dari buku Tasauf Modern karya Buya Hamka.

Lalu Rasulullah ditanya lagi, "Ya Rasulullah, manakah bagian yang tiga macam itu?" Rasulullah menjawab, pertama ialah baik makrifatnya kepada Allah. Kedua, baik taatnya kepada Allah, dan baik pula sabarnya atas ketentuan Allah.

Buya Hamka menyampaikan dari sabda Nabi itu dapat disimpulkan bahwa sebetulnya derajat bahagia manusia itu didasarkan pada derajat akalnya. Karena akallah yang dapat membedakan antara baik dengan buruk. Akal jugalah yang menelaah hakikat dan kejadian segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup di dunia.

Bertambah sempurna, bertambah indah dan murni akal itu, maka bertambah pulalah tinggi derajat bahagia yang kita capai. Karena menurut kehendak hadis tadi, Buya Hamka menjelaskan, kesempurnaan bahagia ada pada kesempurnaan akal.

Buya Hamka juga menyampaikan, akal manusia itu bartingkat dan kehendak manusia berbeda-beda menurut tingkat akal masing-masing. Setengah manusia sangat cinta kepada kehormatan dan kemuliaan, sehingga simpang perjalanan dan segala ikhtiar dipergunakannya untuk sampai ke situ.

"Ia mau berkorban, mau menempuh kesusahan dan kesakitan asal ia boleh mencapai kemuliaan dan kehormatan. Padahal setengah golongan tidak peduli semua itu. Buat dia, asal dapat mencapai hidup, tak mengganggu orang lain, cukuplah. Apa guna menghabiskan tenaga untuk mencapai kemuliaan dan kehormatan yang bagaikan mimpi itu," jelas Buya Hamka.

Sebagian besar manusia berusaha mencari, bersusah payah dan menghabiskan tenaga demi harta benda dunia. Tanpa peduli hujan-panas, haus lapar, sampai meninggalkan kampung, anak dan istri. Padahal ada pula golongan yang tidak peduli akan harta benda itu, asal hatinya tenteram di dalam khalwat mengingat Tuhannya.

"Sebagaimana kebiasaan ahli-ahli zuhud dan sufi yang masyhur, asal lekat pakaian untuk penutup aurat, dapat sesuap pagi dan petang, cukuplah. Dia juga ingin kekayaan, tetapi kekayaan jiwa. Dia ingin juga kemuliaan, tetapi kemuliaan yang lebih kekal dari harta," kata Buya Hamka. [yy/republika]