22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Bolehkah Pindah Madzhab?

Bolehkah Pindah Madzhab?

Fiqhislam.com - Sebagian kaum muslim barangkali masih awam soal ilmu perbandingan madzhab. Bahkan ada yang belum paham tentang hakikat bermadzhab.

Untuk diketahui, madzhab bermakna sebagai jalan untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Untuk belajar ilmu fiqih dan syariat, seorang muslim harus merujuk kepada empat Imam madzhab dalam Ahlus Sunnah waljamaah.

Di antaranya Imam Abu Hanifah (madzhab Hanafi); Imam Malik (madzhab Maliki); Imam Muhammad Bin Idris Asy-Syafi'i (madzhab Syafi'i); dan Imam Ahmad Bin Hanbal (madzhab Hambali). Merekalah yang paling alim dan mengerti ilmu fiqih. Ilmu fiqih artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syar'i (syariat Islam).

Muncul pertanyaan, bolehkah kita pindah madzhab? Berikut jawaban Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia Ustaz Ahmad Sarwar Lc dalam satu catatannya yang dilansir dari media sosialnya.

"Secara teori bisa-bisa aja sih, tapi buat apa? Sebab secara praktek urusan pindah madzhab sulit dilakukan. Tidak semudah yang kita pikirkan. Sebab, bermadzhab itu kan ibarat orang hidup di suatu lingkungan dan seluruh kehidupan kita pastinya dipengaruhi dengan lingkungan itu.

Tidak bisa dengan mudah tiba-tiba kita berubah sendirian dan jadi bertentangan dengan lingkungan kita. Contoh sederhananya adalah masalah bahasa. Kenapa Anda bicara dalam bahasa Indonesia dan bukan berbahasa Inggris atau Arab?

Jawabannya karena kita tinggal di Indonesia. Semua orang bicara pakai bahasa Indonesia. Tidak ada orang yang bicara pakai bahasa Arab atau Inggris, kecuali seuprit.

Nggak mungkin dong kalau tiba-tiba kita langsung pindah jadi berbahasa Inggris atau bahasa Arab. Dan buat apa sih ngomong bahasa asing di negeri sendiri?

Emangnya situ sudah pernah kursus bahasa asing? Terus kursus bahasa asing itu tujuannya buat apa? Dari mana ceritanya kok tiba-tiba pindah ke bahasa Inggris atau bahasa Arab? Dan buat apa juga kok pakai acara ganti bahasa. Buat apa?

Begitu juga dalam urusan bermadzhab. Selama kita tinggal di negeri yang madzhabnya Syafi'i, tidak mudah ujug-ujug pindah ke madzhab lain. Dan buat apa juga? Toh tidak ada kepentingannya juga.

Sebaliknya, saudara kita orang Pakistan yang sejak kecil terididik dalam frame madzhab Hanafi. Tidak mudah bagi mereka tiba-tiba jadi bermadzhab Syafi'i. Buat apa? Toh tidak ada kepentingannya juga.

Ustaz, bukankah semua madzhab itu benar dan kita boleh pilih yang mana saja? Kenapa terkesan tidak boleh memilih madzhab? Pastilah semua madzhab itu benar. Makanya buat apa capek-capek pindah madzhab?

Asal tahu aja, bermadzhab itu bukan urusan pilihan. Sebab bermadzhab itu tidak sama dengan pemilu, tinggal coblos salah satu. Bermadzhab itu lebih mirip dengan berbahasa. Siapa saja yang tinggal di suatu negara, maka dia cenderung pandai menguasai bahasa negeri itu.

Maka tidak mudah kita ujug-ujug pindah ke bahasa lain, kecuali kita kursus bahas asing dulu. Jadi berbahasa itu bukan masalah pilihan, berbahasa itu faktor taqdir.

Kita ditaqdirkan lahir di Indonesia, ya sudah lah kita jadi berbahasa Indonesia. Teman kita ditaqdirkan lahir di Saudi, ya sudah lah dia jadi berbahasa Arab.

Sebelas dua belas dengan beragama. Kita lahir di keluarga muslim, maka kita pun dididik secara agama Islam. Pindah ke agama lain tentu bukan hal sepele.

Jika kita lahir di keluarga Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu, wajar kalau dididik dengan keyakinan agama orang tua dan lingkungan. Pindah ke agama lain termasuk ke Islam jelas bukan perkara sederhana. Lagian pasti akan ditanya: "ngapain ujug-ujug pindah agama?"

Ustaz, jadi maksud ustadz kita ditakdirkan terpenjara dalam madzhab Syafi'i dan tidak boleh pindah madzhab? Bukan terpenjara, tapi justru dapat karunia. Sebab, tahukah anda bahwa madzhab Syafi'i itu justru madzhab yang paling keren?

Pertama, madzhab Syafi'i boleh dibilang menggabungkan dua kekuatan madzhab Hanafi dan Maliki. Semacam edisi penyempurnaan dari produk sebelumnya.

Kedua, madzhab Syafi'i paling banyak mengalami penyebaran di banyak negeri. Sehingga dimanapun kita berapa, nyaris ketemu dengan madzhab Syafi'i.

Ketiga, khusus di Indonesia dan beberapa negara lain, justru yang tersedia hanya madzhab Syafi'i.

Keempat, literatur madzhab Syafi'i termasuk yang paling banyak ditulis sepanjang sejarah. Sehingga kita tidak akan kehabisan bahan rujukan.

Kelima, madzhab Syafi'i paling banyak varian ulamanya dengan beragam perbedaan pendapat secara internal.

Jadi kita tidak terpenjara di dalam madzhab Syafi'i, tapi dapat anugerah ditakdirkan hidup di negeri bermadzhab Syafi'i. Maka secara bahasa, kita tidak pernah mengatakan: 'Terpenjara di surga'. Yang kita katakan bahwa kita dikaruniai masuk surga.

Sebegitu rendah kah madzhab Syafi'i dalam pandangan kita, sehingga kita harus meninggalkannya dan kudu dicampur dengan madzhab lain? Sebegitu keren kah madzhab lain sehingga kita kudu mentalifqnya dengan madzhab kita?

Kok bisa-bisanya menyangka madzhab lain lebih keren? Siapa yang ngajarin? Memangnya pernah kuliah di jurusan perbandingan madzhab?"

Demikian penjelasan Ustaz Ahmad Sarwat terkait pentingnya mengikuti satu madzhab. Semoga Allah memberi kita kefahaman dalam mempelajari ilmu agama. Aamiin. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]