29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Perempuan dalam Sejarah Pendidikan Islam

Perempuan dalam Sejarah Pendidikan Islam

Fiqhislam.com - Sepanjang sejarah Islam, mendidik perempuan telah menjadi prioritas utama. Islam tidak memandang perempuan untuk dilihat sebelah mata. Hal ini dilihat dari istri Nabi Muhammad, Aisya. Dia merupakan salah satu ulama terkemuka dan dikenal sebagai guru dari banyak orang di Madinah setelah kematian Nabi.

Dalam sejarah Islam, terlihat banyak pengaruh perempuan. Wanita menghadiri ceramah di masjid, madrasah, dan dalam banyak kasus menjadi guru. Misal, cendekiawan abad ke-12 Ibnu Asakir yang terkenal dengan karyanya tentang sejarah Damaskus, belajar menuntut ilmu di bawah 80 guru wanita yang berbeda.

Selain itu, perempuaan juga berperan penting sebagai pendukung pendidikan. Madrasah formal pertama di dunia Muslim, Universitas Al-Karaouine di Fes, Maroko didirikan pada tahun 859 oleh saudagar kaya bernama Fatima al-Fihri. Sementara itu, istri Khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid, Zubayda, secara pribadi mendanai banyak proyek konstruksi untuk masjid, jalan, dan sumur di Hijaz yang sangat bermanfaat bagi banyak siswa yang melakukan perjalanan melalui daerah-daerah ini.

Istri Sultan Sulaiman Utsmaniyah Hurrem Sultan, mewariskan banyak madrasah selain membangun rumah sakit, pemandian umum, dan dapur umum. Selama periode Ayyubiyah di Damaskus mulai dari tahun 1174 hingga 1260, 26 warisan keagamaan termasuk madrasah, masjid, dan monumen keagamaan dibangun oleh perempuan.

Tidak seperti Eropa selama Abad Pertengahan dan sampai tahun 1800-an dan 1900-an, perempuan memainkan peran utama dalam pendidikan Islam dalam 1400 tahun terakhir. aAlih-alih dilihat sebagai warga negara kelas dua, perempuan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di bidang pendidikan.

Dilansir About Islam, tradisi madrasah dan bentuk pendidikan Islam klasik lainnya terus berlanjut hingga saat ini. Faktor yang menentukan adalah gangguan kekuatan Eropa di tanah Muslim sepanjang tahun 1800-an. Misal, di Kesultanan Utsmaniyah, para penasehat sekuler Prancis untuk para sultan menganjurkan reformasi lengkap sistem pendidikan untuk menghapus agama dari kurikulum dan hanya mengajarkan ilmu-ilmu sekuler.

Sekolah umum dengan demikian mulai mengajarkan kurikulum Eropa berdasarkan buku-buku Eropa menggantikan bidang pengetahuan tradisional yang telah diajarkan selama ratusan tahun. Meskipun madrasah-madrasah Islam terus eksis, madrasah-madrasah tersebut kehilangan banyak relevansinya di dunia Muslim modern.

Saat ini, sebagian besar bekas Kekaisaran Ottoman masih menjalankan pendidikan di sepanjang jalur Eropa. Misalnya, apa yang diperbolehkan untuk mengambil jurusan di tingkat universitas tergantung pada tes standar tertentu di akhir karir sekolah menengah.

Terlepas dari sistem baru yang diterapkan di sebagian besar dunia Muslim, pendidikan tradisional masih bertahan. Universitas seperti al-Azhar, al-Karaouine, dan Darul Uloom di Deoband, India, terus menawarkan kurikulum tradisional yang menyatukan ilmu-ilmu Islam dan sekuler.

Tradisi intelektual semacam itu berakar dari lembaga-lembaga besar di masa lalu yang menghasilkan beberapa sarjana terbesar dalam sejarah Islam dan terus menyebarkan pengetahuan Islam kepada massa. [yy/ihram]