14 Muharram 1444  |  Jumat 12 Agustus 2022

basmalah.png

Rahasia Nama Dua Surah

Rahasia Nama Dua Surah

Fiqhislam.com - Beberapa nama surah dalam Alquran diambil dari nama-nama hewan. Misalnya, surah al-Baqarah (sapi betina). Apa rahasia di balik penamaan ini?

Sebagaimana kita ketahui, nama-nama surah berdasarkan wahyu dari Allah SWT. Begitu pula dengan nama surah al-Baqarah. Nama surah sanaamul Qur’an (puncak Alquran) ini terkait dengan sebuah kejadian pada zaman Nabi Musa AS.

Di kalangan Bani Israil kala itu, terdapat satu kasus pembunuhan. Namun, tidak ada yang mengetahui siapa pelaku kejahatan itu. Mereka lantas mendatangi Nabi Musa agar bertanya kepada Allah.

Turunlah jawaban-Nya. Mereka diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi. Singkat cerita, mereka mendapatkan sapi, seperti yang ditentukan. Hewan itu pun disembelihnya.

Setelah itu, mereka diperintahkan agar mengambil sebagian daging sapi itu untuk dipukulkan kepada si mayat. Seketika jenazah tersebut bangkit dan mengatakan, “Qatalani fulan bin fulan” (aku telah dibunuh oleh si fulan bin fulan). Setelah itu, ia mati lagi.

Ada banyak pelajaran dari kisah sapi ini. Di antaranya, kepastian adanya hidup sesudah mati. Bahwa hari kiamat adalah ketetapan yang pasti. Siapa pun yang mengingkarinya, pasti akan celaka selamanya.

Salah satu tema pokok Alquran ialah keniscayaan hari kiamat. Karena itu, dalam Alquran ada banyak sekali nama hari tersebut: al-qaari’ah (peristiwa yang sangat menggetarkan hati), al-ghasyiah (tragedi yang akan membuat pingsan), an-naba’ (berita penting), al-waqi’ah (kenyataan yang pasti terjadi), dan sebagainya.

Selain nama al-Baqarah, ada juga an-Nahl (lebah). Ternyata kandungan pokok surah tersebut mengenai nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala turunkan untuk kemaslahatan manusia. Sebut saja, nikmat wahyu (QS an-Nahl: 2), yang dengannya manusia selamat di dunia dan akhirat.

Kemudian, nikmat penciptaan langit dan bumi (QS an-Nahl: 3); nikmat tersedianya binatang ternak (QS an-Nahl: 5); nikmat diturunkannya air dari langit (QS an-Nahl: 10); nikmat ditumbuhkannya tanaman (QS an-Nahl: 11); serta nikmat perputaran siang dan malam (QS an-Nahl: 12).

Di luar itu, masih banyak lagi nikmat yang disebutkan secara detail. Umpamanya, nikmat ditundukkannya lautan (QS an-Nahl: 14), penciptaan gunung (QS an-Nahl: 15), dan sebagainya.

Disebutkan pula, nikmat tentang dihadirkannya binatang lebah (QS an-Nahl: 68-69). Bukan hanya karena hewan tersebut menghasilkan madu sebagai obat bagi manusia. Ada banyak pula pelajaran yang bisa dipetik dari cara hidup serangga itu.

Ada dimensi kepemimpinan atau ketangkasan dalam membuat rumah—yang sangat rapi dan kokoh. Menariknya, semua itu berdasarkan wahyu, seperti yang difirmankan Allah dalam an-Nahl ayat 68, “Wa awhaa rabbuka ilan nahl” (dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah).

Artinya, kehidupan lebah adalah panduan hidup bagi manusia. Perhatikan, lebah tidak pernah hinggap kecuali di tempat yang baik. Tidak pernah pula memberikan kecuali yang terbaik.

Kaum Muslimin pun dapat memetik ibrah dari hal tersebut. Sebagai contoh, dalam mencari nafkah janganlah mendekati yang syubhat, apalagi yang haram. “Yaa ayyuhannaasu kuluu mimma fil ardhi halaalan thoyyibaa, wa laa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithaan”, “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan” (QS al-Baqarah:168). [yy/republika]

Ustaz DR Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute