24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Al Fatihah: Tujuh Kiat Pembelajaran

Al Fatihah: Tujuh Kiat Pembelajaran

Fiqhislam.com -  Sungguh, Alquran adalah manhajul hayah (kurikulum kehidupan) yang sempurna dan relevan sepanjang zaman. Maka, siapa saja orang beriman yang membaca, mengkaji, dan mengamalkannya, niscaya akan meraih kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) di dunia dan akhirat (QS an-Nahl [16]: 97).

Demikian petuah Prof KH Didin Hafidhuddin dalam buku Membangun Kemandirian Umat (2021). Surah al-Fatihah sebagai pembuka Alquran merupakan “Mahkota Tuntunan Ilahi”. Dia adalah “Ummul Qur’an” atau “Induk Alquran”, tidak kurang dari 20 nama yang disandangkan kepadanya.

Dari nama-namanya dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat diperoleh bagi pembacanya. Tidak heran jika doa dianjurkan agar ditutup dengan “al-hamdulillahi rabbil ‘alamin” atau bahkan ditutup dengan surah ini (Prof M Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah, 2005).

Intisari kandungan Alquran pun terhimpun dalam surah al-Fatihah. Istimewanya, walaupun kajian-kajian ilmiah terus berupaya mengungkap rahasianya, ia tidak pernah kering dari butir-butir mutiara hikmah. Bak menggali sumur, semakin dalam akan menemukan mata air yang jernih dan menyegarkan.

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar UIKA Bogor, Prof HE Mujahidin pun mengupas surah al-Fatihah dan menemukan tujuh strategi pembelajaran dalam pendidikan Islam, yakni:

Pertama, menghilangkan energi negatif. Konsep ta’awudz adalah permohonan agar terhindar dari bujuk rayu setan. Ungkapan a’udzu billahi minasy-syaithanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) harus dibiasakan di awal pembelajaran (QS al-A’raf [7]: 200).

Kedua, mengaitkan pembelajaran kepada Allah SWT. Konsep basmalah memberikan isyarat agar amal kebaikan selalu dimulai dengan nama Allah. Sebab, setiap perkataan atau urusan yang tidak dimulai dengan basmalah akan terputus (HR Ahmad).

Ketiga, menumbuhkan kasih sayang. Konsep ar-rahmah (kasih sayang) merujuk pada dua kata, yakni rahman dan rahim. Kasih sayang dalam penbelajaran pun harus ditunjukkan kepada anak didik, sebab mereka sangat membutuhkan perhatian (QS an-Nisa [4]: 28).

Keempat, mengedepankan pujian kepada anak didik. Konsep al-hamd (pujian) menunjukkan bahwa memuji dan berterima kasih (syukur) menjadi kunci penting dalam pendidikan Islam. Sebab, mukmin yang bersyukur akan selalu menakjubkan (HR Muslim).

Kelima, menumbuhkan tanggung jawab. Konsep maliki yaumiddin (pemilik hari pembalasan) menandakan bahwa setiap perbuatan akan ditanya. Oleh karena itu, kita mesti memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah goyah oleh godaan (HR at-Tirmidzi).

Keenam, pendidikan sebagai ibadah. Konsep iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan) bermakna setiap perbuatan harus bernilai ibadah. Artinya, proses pembelajaran harus dilandasi niat yang ikhlas (QS al-Bayyinah [98]: 5).

Ketujuh, melanggengkan doa. Konsep ihdinash-shirathal mustaqiim (tunjukilah kami jalan yang lurus) mengajarkan kita agar selalu mohon petunjuk ke jalan yang benar. Sebab, meskipun bertambah ilmu belum tentu membuat kita dekat, bahkan bisa makin jauh dari Allah SWT (HR ad-Dailami). Allahu a’lam bissawab. [yy/republika]

Oleh Hasan Basri Tanjung