12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Yahudi yang Akhirnya Mencintai Al-Quran

Yahudi yang Akhirnya Mencintai Al-QuranFiqhislam.com - Pria bernama William ini aktif membela Amerika Serikat dengan menjadi salah satu personil kepolisian. Sekaligus pemeluk Yahudi yang taat.

William yang tinggal di pinggiran kota Midwestern bersama istri dan anaknya memiliki keluarga mapan dan karier cemerlang. Kadang-kadang, lelaki itu suka bepergian dengan truk pick up sambil mengenakan sepatu bot koboi. Khas sosok koloni Redneck yang bergaya hidup konservatif dan rasis.

Di antara figur Yahudi Amerika yang kuat tadi, ternyata William adalah seorang Muslim. Tentu saja status tersebut sangatlah kontras. Maka, William pun memaparkan keunikan identitasnya di acara The Deen Show, Rabu (26/8).

“Saya mengenal Islam ketika bertemu Nasir, lewat sebuah hubungan kerja pada akhir tahun 1980-an,” ungkapnya.

 William terkesan dengan sopan santun dan cara Nasir memperlakukan dia. Lewat Nasir, Wliliam mendapat kesan mendalam tentang Islam dan pemeluknya. Persahabatan di antara mereka mulai terjalin.  
 
Selama bertahun-tahun, ia melihat Nasir menyelesaikan beragam urusan dan berhadapan dengan aneka situasi yang berbeda. Ia terkesan akan kebijaksanaan dan kesabaran sahabatnya. Nasir selalu mengatasi setiap masalah dengan tepat.
 
Kadang William bertanya, mengapa ia melakukan kebaikan-kebaikan itu. Nasir selalu menjawab, ada kebijaksanaan yang memandunya untuk melakukan perbuatan itu. Ia menjelaskan segala sesuatu dengan cara lemah lembut, seolah-olah sedang mengajarkan pada seorang anak. Di kemudian hari William menyadari, sebagian besar kebijaksanaan itu berasal dari Alquran.
 
Sekitar musim dingin tahun 2000, William mulai menaruh minat serius pada Islam. Ia pun belajar membaca Alquran. Mulanya, ia merasa tidak bisa memahami Alquran. Tapi, ia pantang menyerah. 
 
Sembari itu, ia juga membaca buku-buku tentang Islam. Ia mempelajari banyak hal dengan pendekatan akademis.

“Saya selalu memeriksa ulang tiap kali menemukan penemuan modern yang telah dibahas dalam Alquran, dan sangat terkejut dengan apa yang saya temukan,” kenang William.
 
Sekali lagi, ia  mencoba membaca Alquran. Kini, ia memutuskan untuk meminta bantuan Nasir.

Belum lagi terlaksana niatan itu, insiden 11 September 2001 telah pecah dan menggegerkan dunia. Semua orang memaparkan Islam dengan cara negatif. Sebagai komandan polisi, ia terus menerus menerima laporan mengenai ancaman Muslim terhadap rakyat Amerika. Orang-orang di sekitarnya menganggap Islam sebagai musuh.
 
Merasa malu, William pun menahan semua keingintahuannya tentang Islam. Meski, William tidak menutup mata seluruhnya. Ia hanya menunggu saat yang tepat.

Sampai akhirnya, pada akhir musim panas tahun 2004, dalam keinginan dan kondisi emosional yang tiba-tiba menguat, ia datang kepada Nasir untuk minta bimbingan.
 
Nasir menguraikan padanya tentang prinsip-prinsip ajaran Islam. Yang membuat William lebih terkesan lagi, dia mengungkapkan betapa penting Islam dalam hidupnya dan seberapa kuat keyakinannya. Menurut Nasir, Alquran tidak sekedar firman Tuhan yang harus dibaca, tetapi juga cara hidup.
 
Nasir dan saudaranya, Riyadh, kemudian memberi dia buku tentang Islam. Buku itu menjawab berbagai pertanyaan yang telah ia pendam. Dengan pengetahuan di tangan, Wiliam kembali mendekati Alquran.

Sekarang, ia menemukan betapa Alquran tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga masuk akal. Wiliam pikir dia hanya tidak siap mental sebelumnya. Atau, dia hanya membutuhkan input tambahan untuk memahami dan memproses informasi yang ada.
 
Singkat kata, Wiliam membaca dan membaca kembali setiap literatur keislaman yang telah dia miliki. Ia selalu memeriksa ulang fakta-fakta baru yang ia temukan. “Semakin banyak saya membaca, semakin saya terkagum-kagum,” kata William.
 
Ia menemukan, informasi yang tersedia dalam Alquran tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad SAW, meski dia seorang nabi. Bukan hanya tidak mungkin bagi seorang pria dengan latar belakang dan lokasi geografis seperti itu, tetapi juga tidak mungkin bagi siapapun dari periode itu untuk menyingkap berbagai rahasia alam yang ada dalam Alquran.  
 
Menurut dia, Alquran tidak sekedar memuat informasi tentang abad-abad yang akan datang, tetapi juga sangat detail memaparkan rincian itu. Ada banyak misteri yang belum terungkap sampai abad ini, ternyata sudah diisyaratkan dalam Alquran.
 
Sampai di situ, William telah meyakini Muhammad sebagai Nabi. Allah telah menurunkan wahyu kepada Muhammad melalui perantaraan malaikat-Nya. Walau demikian, sampai titik itu ia masih menghadapi dilema.

William masih bingung apa yang harus dia lakukan. Segala sesuatu yang selama ini dia pernah percayai tiba-tiba terbalik seratus delapan puluh derajat. Ia bingung bagaimana penjelasan semua itu.
 
Malam itu juga, ia berdoa supaya mendapat bimbingan dan pemahaman. William hanya percaya pada satu Tuhan, tapi ia tidak tahu agama mana yang harus ia pegang keyakinannya.
 
Dan, memang itulah yang ia rasakan keesokan harinya. Semua tiba-tiba menjadi jelas. Wiliam sekarang mengerti, semua ritual yang telah dia praktikkan sebelum ini hanyalah ibadah bikinan manusia. Prinsip-prinsip agamanya telah terdistorsi selama ribuan tahun. Ia merasa gembira dan damai. Pagi itu juga, ia berniat mengucapkan syahadat.   
 
“Saya mengatakan pada Nasir dan dia membawa saya ke sebuah masjid di dekat rumahnya untuk shalat Jumat. Kebetulan waktu itu tepat hari Jumat. Di masjid, saya dibimbing untuk maju ke depan oleh Nasir. Saya mengisahkan alasan kedatangan saya datang ke sana pada jamaah,” tutur Wiliam.

Nasir dan Imam masjid kemudian membantu dia mengulangi pengakuan syahadat dalam bahasa Arab.
 
Setiap kali William ingat momen itu, satu perasaan damai menyergap. “Walaupun saya masih belajar dalam tahap sangat awal, saya senang dan yakin telah membuat keputusan yang tepat,” ungkap William tegas. [yy/republika]