12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Al-Quran Buta Sejarah Nabi Musa?

Al-Quran Buta Sejarah Nabi Musa?

Fiqhislam.com - Pendeta Dr Rafat Amari melanjutkan serangannya terhadap kewibawaan Al-Qur'an. Dalam buku “Islam: In Light Of History” (506 halaman), pendeta Arab Jordan penganut Kristen Ortodoks Yunani Arab ini mengklaim Al-Qur'an buta sejarah.

Masih dalam subjudul ““The Unhistorical and False Chronology of the Narration Found in the Qur’an,” Amari melanjutkan gugatannya terhadap Al-Qur'an. Berdasarkan surat Thaha 85-97, ia menuding Al-Qur'an buta sejarah terhadap kisah Nabi Musa AS:

“Mohammed applied the name “Samaritan” to the time of Moses, even though the Samaritans did not appear before the 6th century BC. One example of a misapplied title is found in Mohammed’s narration concerning the golden calf, which the book of Exodus says Aaron made in the wilderness. This occurred when Moses went to the mountain to receive the Ten Commandments. Due to pressure from the Israelites who saw that Moses was delayed for 40 days, Aaron submitted to the Israelites’ demands and made the golden calf idol for them to worship. Mohammed reported the event in Surah Ta Ha 20:85-97.

The city of Samaria was built by Omri, King of Israel, around the year 880 B.C., but the name “Samaritans” was not coined until the 6th century B.C., when it was given to the people whom the Assyrians brought to Samaria after Sargon II occupied the city in year 721 B.C. Mohammed, who was ignorant of the history of the Samaritans, was caught in a major historical mistake” (p. 26-27).

[Muhammad menyebut orang-orang Samiri hidup di jaman Musa, padahal orang-orang Samiri (Samaria) baru muncul pada abad ke-6 SM. Contoh lain kesalahan Al-Qur'an  terdapat pada cerita Muhammad tentang anak sapi emas. Dalam kitab Keluaran tertulis bahwa Nabi Harun membuat patung ini di gurun. Kejadian ini berlangsung saat Musa naik ke gunung untuk menerima Sepuluh Perintah Tuhan (Dasa Titah). Karena tekanan bani Israel yang tidak sabar lagi setelah menunggu Musa selama 40 hari, Harun tunduk pada permintaan bani Israel dan membuat patung anak lembu emas untuk disembah mereka. Muhammad melaporkan kejadian ini dalam Qur’an surat Thaha ayat 85-97.

Kota Samaria dibangun oleh Omri, Raja Israel, di sekitar tahun 880 SM, tapi nama “orang-orang Samaria” baru tercatat di uang logam setelah abad ke-6 SM, saat masyarakat Assyria dibawa ke Samaria setelah Sargon II menguasai kota itu di tahun 721 SM. Muhammad tidak tahu sejarah masyarakat Samaria, sehingga dia melakukan kesalahan sejarah yang fatal].

Dr Amari membabi buta menuduh Al-Qur'an buta sejarah hanya berdasarkan kemiripan nama orang yang bernama “Samiri” dalam Al-Qur'an dengan nama kota “Samaria” dalam Bibel. Lalu dengan tergesa-gesa ia menyimpulkan bahwa terjadi anakronisme (penempatan kejadian pada waktu yang salah) dan kesalahan sejarah.

Dengan demikian, tuduhan ini jelas salah alamat. Rasulullah SAW tidak pernah salah mengutip Bibel maupun salah menulis sejarah. Karena di samping tidak pernah belajar sejarah Israel pada siapa pun, beliau adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis (ummiy).

Jika pernyataan Al-Qur'an berbeda bahkan bertentangan dengan pernyataan Bibel, itu bukan karena Rasulullah salah belajar sejarah maupun keliru mengutip Bibel. Melainkan karena Allah mewahyukan Al-Qur'an untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan Bibel.

Dalam kasus perbedaan kisah berhala Sapi Emas padan zaman Musa ini, Bibel menuding Nabi Harun sebagai pembuat patung sapi emas untuk dijadikan sesembahan bani Israel.

“Lalu berkatalah Harun kepada mereka: “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga istrimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.” Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemu¬dian berkatalah mereka: “Hai Israel, inilah Allah-mu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” (Keluaran 32:2-4).

Mungkinkah Nabi Allah yang diutus untuk membimbing umat ke jalan yang lurus justru mengajarkan kesyirikan dan penyembahan berhala?

Al-Qur'an hadir untuk mengoreksi Bibel dan membersihkan nama Nabi Harun yang dituduh Bibel  sebagai aktor intelektual pembuatan berhala sapi emas. Al-Qur’an surat Thaha ayat 85-97 membantah dengan tegas bahwa pembuat patung sapi emas itu bukanlah Harun, melainkan Samiri.

Samiri adalah salah seorang umat Nabi Musa AS yang berasal dari suku Assamirah. Ulah Samiri inilah yang menyebabkan umat Nabi Musa tersesat dan menyembah berhala (patung anak lembu).

Ketika keluar dari Mesir, umat Nabi Musa membawa banyak perhiasan. Perhiasan yang dibawa itu diperintahkan Samiri untuk dilemparkan ke dalam api yang telah dinyalakan dalam sebuah lubang untuk dijadikan ‘tuhan’ dalam bentuk anak lembu.

Patung yang dibuat oleh Samiri ini konon bisa melenguh (bersuara) apabila angin masuk ke dalamnya. Kendati perbuatan mereka ini sudah ditentang oleh Nabi Harun, Bani Israil tak memedulikannya. Mereka tetap memaksakan diri untuk membuat patung tersebut.

Surat Thaha 85 secara gamblang mengungkap Samiri telah mengkhianati Musa, sehingga Musa menegur Samiri: “Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?” (Thaha 95). Bahkan Nabi Musa juga mengusir Samiri (Thaha 97).

Mustahil Nabi Harun mengajarkan kesyirikan, karena Allah SWT telah mengabulkan permohonan Nabi Musa untuk menjadikan Harun sebagai mitra dakwah yang tangguh (Qs Thaha 20-36). Bersama Musa, Harun berdakwah kepada Firaun yang memproklamirkan diri sebagai tuhan (Qs Thaha 42-44).

Seharusnya, para misionaris Kristen tidak merasa asing dengan akidah dan keshalihan Nabi Harun. Karena Bibel sendiri menyebut Harun sebagai manusia pilihan yang dilantik sebagai nabi oleh Tuhan:

“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu” (Keluaran 7:1).

Tuhan menyertai lidah Harun, sehingga ia mampu menjadi penyambung lidah Musa (Keluaran 4:14-16). Tuhan berfirman: “Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan” (ayat 15).

Al-Qur'an Mengoreksi Pelecehan terhadap Para Nabi Allah

Polemik kisah berhala Sapi Emas itu bukanlah satu-satunya perbedaan antara Al-Qur'an dan Bibel. Perbedaan ini bukan karena Rasulullah SAW salah mengutip Bibel, tapi karena salah satu fungsional Al-Qur'an adalah mengoreksi Bibel.

Kisah para nabi Allah yang dilecehkan sedemikian keji dalam Bibel, dikoreksi dan dibenarkan namanya dalam Al-Qur'anul Karim, di antaranya:

1. Bibel mengisahkan Nabi Daud melakukan skandal zina dengan Batsyeba, istri pembantunya hingga hamil di luar nikah. Karena takut ketahuan, maka Daud merekayasa pembunuhan terhadap suami Batsyeba. Setelah suaminya tewas, maka Daud memboyong Batsyeba ke istana. Kisah selengkapnya terdapat dalam kitab II Samuel 11:1-27. Dalam ayat yang lain, Bibel menyebut Nabi Daud suka tidur di pangkuan perawan yang masih muda dan cantik” (I Raja-raja 1: 1-3).

2. Nabi Sulaiman (Salomo) difitnah Bibel sebagai orang yang rakus wanita dan berpaling Tuhan. Disebutkan dalam ddd bahwa seribu istri dan gundiknya telah memalingkan Nabi Sulaiman dari ibadah kepada Allah (I Raja-raja 11: 3-9).

Al-Qur'an hadir mengoreksi tuduhan ini dengan bantahan bahwa Nabi Daud dan Sulaiman AS bukan orang yang bermoral bejat. Mereka adalah nabi yang makshum dan selalu taat kepada Allah Ta’ala: “Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)” (Qs. Shad 30).

3. Bibel memfitnah Nabi Luth (Lot) sebagai pezina yang tega menggilir kedua putri kandungnya hingga hamil dan beranak pinak (Kejadian 19: 30-38).

Ayat suci Al-Qur’an meralat fitnah Ahli Kitab terhadap Nabi Luth dengan menggaransi bahwa Luth adalah orang yang derajatnya dilebihkan di atas seluruh manusia sezamannya (Al-An’am 86). Luth adalah benar-benar rasul (Ash-Shaffat 133) yang shalih penuh hikmah dan ilmu (Al-Anbiya’ 74-75)

4. Bibel memfitnah Nabi Nuh sebagai tukang mabuk. Suatu hari ia mabuk berat hingga telanjang bulat sehingga auratnya terlihat anak-anaknya (Kejadian 9: 20-22).

Al-Qur'an pun mengoreksi dengan menyatakan bahwa Nuh adalah nabi yang dipilih Allah (Ali Imran 33) yang banyak bersyukur” (Al-Isra’ 3, Al-An’am 84, Al-A’raf 61, Hud 25). [yy/suara-islam]

A. Ahmad Hizbullah MAG
ahmad-hizbullah.com