27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Yang Tidak Mati Saat Tiupan Sangkakala

Yang Tidak Mati Saat Tiupan Sangkakala

Fiqhislam.com - Allah SWT telah memberi tahu kita bahwa sebagian yang di langit dan di bumi tidak mati ketika makhluk-makhluk lain, di langit dan di bumi mati. “Dan ditiuplah sangkakala, maka ‘tersambar’ (kematian) semua yang di langit dan yang di bumi kecuali yang Allah kehendaki,” (QS. az-Zumar: 68).

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang Allah kecualikan dalam firman-Nya “kecuali yang Allah kehendaki.”

Ibn Hazm berpendapat bahwa mereka adalah seluruh malaikat. Menurut keyakinannya, malaikat adalah roh yang tidak ada roh lagi di dalamnya, sehingga mereka pada dasarya tidak mati.

Pendapat ini tidak dapat diterima, karena malaikat adalah makhluk Allah juga, yang dipelihara dan dikuasai oleh Allah juga. Allah menciptakan mereka, dan Allah mampu mematikan dan menghidupkan mereka. Dalam hadits shahih diriwayatkan dari Nabi SAW tanpa kesamaran dan oleh lebih dari satu sahabat bahwa beliau bersabda, “Jika Allah menyampaikan wahyu, maka malaikat akan menerimanya sampai seperti pingsan.” Dalam riwayat lain, “Jika malaikat mendengar kalam-Nya, mereka hilang kesadaran.” Dalam hadits ini diberitakan bahwa malaikat mengalami pingsan. Jika demikian, mereka pun dapat mengalami kematian.

Muqatil dan lainnya berpendapat bahwa mereka adalah Jibril, Mika’il, Israfil, dan malaikat maut. Sebagian ulama menambahkan para malaikat pembawa ‘Arasy.

Keabsahan pendapat ini tergantung pada hadits-hadits yang mereka riwayatkan. Nyatanya, para ulama hadits tidak menganggap shahih hadits-hadits seperti itu.

Imam Ahmad ibn Hanbal berpendapat bahwa yang dikecualikan itu adalah bidadari dan anak-anak muda di syurga. Abu Ishaq ibn Syaqilan, seorang pengikut Mazhab Hanbali, dan Adh-Dhahhak ibn Muzahim menambahkan penjaga surga dan neraka serta ular dan kalajengking yang ada dalam neraka.

Ibn Taimiyyah mengatakan, “Yang dikecualikan itu adalah bidadari yang ada di syurga, karena di dalam syurga tidak ada kematian.”

Abu al-‘Abbas al-Qurthubi, penulis al-Mufhim ila Syarh Muslim, berpendapat bahwa yang dikecualikan itu adalah seluruh mayat (yang sudah mati lebih dahulu-pen), karena mereka tidak memiliki rasa sehingga mereka pun tidak merasa terkena sambaran.

Pendapat Abu al-‘Abbas benar jika kita menafsirkan “tersambar” (sha’iqa) dalam ayat tersebut dengan mati, karena manusia hanya mati satu kali. Allah SWT berfirman, “Di sana mereka tidak merasakan mati selain kematian yang pertama (di dunia).”

Ibn Qayyim, dalam bukunya ar-Ruh, menulis satu bab khusus yang menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang kematian roh saat tiupan sangkakala. Pendapat yang dipilih Ibn Qayyim sendiri ialah bahwa kematian roh berarti terpisahnya dan keluarnya roh dari jasad. Ia menolak pendapat bahwa kematian roh berarti binasa dan musnahnya roh, karena nas-nas menunjukkan bahwa roh hidup di alam barzakh, dalam keadaan disiksa atau pun mendapat nikmat.

Bila kita menafsirkan “tersambar” itu dengan pingsan, maka roh (dari orang yang sudah mati-pen) pun terkena sambaran dengan arti ini, sehingga tidak masuk dalam kategori yang Allah kecualikan. Manusia, ketika mendengar atau melihat hal yang menakutkan, bisa jatuh pingsan, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Musa AS ketika melihat gunung terlempar dari tempatnya.

Arti ini terdapat secara jelas dalam beberapa nas. Dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian unggulkan aku atas Musa, karena seluruh manusia akan tidka sadarkan diri, dan aku orang pertama yang sadar, namun ternyata Musa telah berada di samping ‘Arasy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk yang tidak sadar lalu sadar sebelum aku atau termasuk yang Allah kecualikan.”

Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah dengan lafal, “Aku adalah orang pertama yang mengangkat kepala (bangun) setelah tiupan terakhir, dan ternyata aku melihat Musa bertengger di ‘Arasy. Aku tidak tahu apakah ia sudah begitu sejak sebelumnya atau setelah tiupan.”

Di tempat lain Bukhari juga meriwayatkan dengan lafal, “Manusia pada hari kiamat tidak sadarkan diri. Aku kemudian menjadi orang pertama yang sadar, dan ternyata Musa sudah berada di sisi ‘Arasy. Aku tidak tahu apakah ia termasuk yang sadar sebelum aku atau termasuk yang Allah kecualikan.”

Hadits ini jelas menyatakan bahwa orang-orang mati pun terkena sambaran (pingsan). Apabila Rasulullah SAW saja, yang merupakan penghulu para rasul, tidak sadarkan diri, maka yang lain apalagi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang terkena sambaran pingsan adalah para syuhada saja, bukan semua orang mati, dan sebagian ulama lainnya menambahkan para nabi.

Alasan terbatasnya pingsan hanya pada para syuhada dan para nabi, sebagaimana dikatakan oleh Ahmad ibn ‘Umar, guru al-Qurhubi adalah:

Para syuhada setelah terbunuh dan mati, tetap hidup di sisi Tuhan, sambil mendapat rezeki dalam keadaaan bahagia dan gembira, seperti keadaan manusia yang hidup di dunia. Jika keadaan para syuhada seperti ini, maka para nabi lebih berhak dan lebih pantas lagi menerimanya. Tambahan lagi, dalam hadits-hadits shahih dikatakan bahwa bumi tidak memakan jasad para nabi, bahwa Nabi SAW pada malam Isra’ berkumpul dengan para nabi di Baitul Maqdis dan dengan Musa di langit, bahwa Allah SWT memberikan kepada Nabi Roh-Nya sehingga Allah menjawab salam setiap orang yang mengucapkan salam kepadanya, dan seterusnya, yang kesemuanya memastikan bahwa kematian para nabi hanyalah berarti menghilang dari pandangan kita, namun mereka jika sangkakala ditiup dengan tiupan kematian, matilah semua yang dilangir dan yang di bumi kecuali yang Allah kehendaki.

Al-Baihaqi berpendapat bahwa para syuhada dan para nabi terkena sambaran pingsan. Tentang pingsannya para nabi, ia berkata:

Menurut saya, mereka tetap hidup di sisi Tuhan, seperi para syuhada. Maka, ketika sagkakala diitup dengan tiupan yang pertama, mereka jatuh pingsan. Mereka tidak mati dalam pengertian secara total, melainkan sekedar hilang kesadaran. Dan Nabi SAW telah mengatakan bahwa Musa mungkin termasuk yang Allah kecualikan. Jika ia termasuk dari mereka yang dikecualikan, maka kesdarannya tidak hilang pada kejadian itu karena ia sudah pernah pingsan saat di bukit.

Berdasarkan pemahaman ini, maka para nabi dan para syuhada termasuk orang-orang yang tidak sadarkan diri dan tidak termasuk dalam pengecualian. Dari Ibn ‘Abbas , Abu Hurairah, dan Sa’id ibn Jubair telah dinukil bahwa para nabi dan syuhada termasuk yang dikecualikan oleh Allah, dan Ibn Hajar menelusurinya sampai ke al-Baihaqi. Jika yang dimaksud adalah pengecualian mereka dari kematian, maka ini benar; jika yang dimaksud adalah pengecualian mereka dari ketidaksadaran diri yang menimpa orang-orang mati, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits tentang Musa di atas, maka ini tidak benar.

Sebagian ulama menyatakan bahwa sikap yang paling benar adalah tidak memaksakan diri untuk memastikan siapa yang Allah kecualikan itu, karena tidak ada nas shahih yang secara gambling menunjukkan hal itu.

Al-Qurthubi, penulis at-Tadzirah, mengatakan, “Guru kami, Abu al-‘Abbas, berkata, ‘Yang benar adalah bahwa tidak ada nas yang shahih tentang siapa mereka sebenarnya, dan semua pendapat yang ada hanyalah spekulasi’.”

Ibn Taimiyah mengatakan:

Kelompok yang dikecualikan itu mencakup bidadari yang ada di surga, karena di surga tidak ada kematian, dan mencakup juga selain mereka, tapi tidak mungkin bagi kita untuk memastikan setiap yang Allah kecualikan itu, karena Allah dalam kitab-Nya tidak menyebutkan secara spesifik. Bahkan, Nabi SAW pun tidak tahu tentang Musa, apakah ia termasuk yang dikecualikan Allah atau tidak. Apabila Nabi SAW saja tidak diberi tahu tentang siapa-siapa yang Allah kecualikan, tidak mungkin kita menentukannya. Hal ini seperti pengetahuan tentang waktu kiamat, diri para nabi dan hal-hal lain seperti itu yang tidak diberitakan oleh Allah. Pengetahuan tentang ini hanya diperoleh melalui berita dari Allah. Wallahu ‘alam.

Al-Qurthubi menukil pendapat al-Halimi yang tidak setuju bahwa yang dikecualikan itu adalah para pemikul ‘Arasy, Jibril, Mika’il dan malaikat maut, atau anak-anak muda dan bidadari di surga, atu Musa. Menjelaskan alasan ketidaksetujuannya, dia mengatakan:

Mengenai yang pertama, para pemikul ‘Arasy itu bukan penduduk langit dan bumi, sebab ‘Arasy berada di atas seluruh langit, sehingga bagaimana mungkin para pemikulnya berada di langit. Bagaimana dengan Jibril, Mika’il dan malaikat maut? Mereka termasuk dalam kelompok “mereka yang berbaris dan bertasbih di sekitar ‘Arasy.” Jika ‘Arasy di atas langit, tidak mungkin mereka yang mengitarinya berada di langit.

Begitu pula yang kedua, karena anak-anak muda dan bidadari berada di surga, dan surga, walaupun sebagiannya lebih tinggi daripada sebagian yang lain, keseluruhannya tetap berada di atas langit. Lagi pula, surga merupakan satu-satunya alam yang diciptakan untuk kekal. Maka, tidak diragukan lagi, ia terisolasikan dari makhluk Allah yang fana.

Anggapan bahwa itu adalah Musa tidaklah beralasan, karena ia kenyataannya telah wafat, sehingga tidak mungkin wafat lagi ketika tiupan sangkakala.

Al-Halimi juga menolak pendapat bahwa yang dikecualikan adalah orang-orang mati, “karena pengecualian hanya berlaku bagi yang mungkin masuk dalam keseluruhan. Adapun yang tidak mungkin masuk dalam keseluruhan, maka tidak ada artinya ia dikecualikan dari keseluruhan itu. Orang-orang yang telah mati sebelum peniupan sangkakala tidak dapt ‘tersambar’ (kematian lagi-pen), sehingga tidak beralasan mengecualikan mereka.”

Pendapat yang dipilihnya ialah bahwa pingsan yang menimpa Musa bukanlah sambaran yang membinasakan dan mematikan umat manusia, melainkan sambaran yang menimpa manusia pada suatu situasi setelah kebangkitan.

Al-Qurthubi menukil dari gurunya, Ahmad ibn ‘Umar, yang juga berpendapat demikian. Al-Qurthubi mengatakan:

Guru kami, Ahmad ibn ‘Umar, berkata: Hadits Nabi SAW secara jelas menunjukkan bahwa pengecualian itu adalah setelah tiupan yang kedua, yaitu tiupan kebangkitan. Sementara, nas al-Qur’an mengharuskan bahwa pengecualian itu terjadi setelah tiupan kematian. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa Musa mungkin termasuk nabi yang tidak mati. Ini salah, karena kematiannya telah disebutkan. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “sambaran” (dalam ayat al-Qur’an-pen) adalah sambaran ketakutan (bukan sambaran kematian-pen) setelah kebangkitan, ketika langit dan bumi terbelah. Jadi, hadits-hadits dan ayat-ayat itu masing-masing berdiri sendiri.

Ibn al-Qayyim meyakini bahwa sambaran yang dibicarakan oleh Rasulullah SAW adalah sambaran setelah kebangkitan, dan itulah yang dimaksud oleh firman Allah, “Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari di mana mereka di sambar.” [yy/islampos]

Wallahu ‘alam bish-shawwab!

Sumber: Ensiklopedia Kiamat/ Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi

 


 

Tags: Sangkakala | Kiamat