18 Muharram 1444  |  Selasa 16 Agustus 2022

basmalah.png

Biografi Imam Abu Dawud: Ulama Hadis yang Sangat Sederhana

Biografi Imam Abu Dawud: Ulama Hadis yang Sangat Sederhana

Fiqhislam.com - Biografi Imam Abu Dawud sangat baik untuk diketahui kaum Muslimin. Beliau merupakan ulama ahli hadis yang tidak perlu diragukan lagi keilmuannya. Imam Abu Dawud termasuk ulama hadits yang sangat sederhana. Seperti dalam berpakaian, sebelah lengan baju Imam Abu Dawud lebih lebar dibanding satunya yang sempit. Menurut dia, lengan baju yang lebar untuk membawa kitab, sedangkan lengan yang sempit tidak perlu diperpanjang karena hanya memboroskan kain.

Dikutip dari laman Suara Muhammadiyah, Ustadz Syaifullah yang juga mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengisahkan bahwa Imam Abu Dawud dilahirkan di daerah Sijistani, termasuk wilayah Kota Basrah. Beliau memiliki nama lengkap Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al-Sijistani.

Dia berkembang dalam keluarga taat beragama. Sebagaimana tradisi ulama Islam lainnya, Imam Abu Dawud sejak dini telah belajar keilmuan Islam. Ia belajar Alquran, hadis, dan ilmu bahasa Arab.

Pengetahuan dan penguasaannya tentang ilmu hadis dilatarbelakangi lingkungan keluarganya. Bapaknya Al-Asy’as adalah perawi hadis. Saudaranya Muhammad bin Al Asy’as merupakan seorang yang menekuni ilmu hadits. Dialah yang selalu menemani Abu Dawud dalam perjalanan mencari dan belajar ilmu hadis. Lingkungan inilah yang mendukung Imam Abu Dawud memperoleh ilmu hadis secara mendalam.

Ketika masa muda, Imam Abu Dawud melakukan al-rihlah li thalabi al-hadits (perjalanan untuk belajar dan mencari hadis). Dia melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Ia ke Khurasan, Baghdad, Hijaz, Mesir, Irak, Naisabur, dan tempat-tempat lain.

Imam Abu Dawud menjadi ulama hadis tidak lepas dari manfaat dari rihlah yang dilakukan. Banyak ulama hadis yang ditemui. Ia berguru kepada mereka. Salah satu gurunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Selain banyak berguru, Imam Abu Dawud juga mengajarkan dan meriwayatkan hadis kepada para muridnya seperti An-Nasa’i dan At-Tirmizi.

Berkat ketenarannya sebagai ahli hadis, Amir di Baghdad yakni Abu Ahmad al-Muwaffaq memintanya tinggal di sana. Imam Abu dawud diminta mendirikan majelis ilmu guna mengundang orang-orang belajar hadis.

Permintaan ini dianggap penting karena saat itu Kota Basrah dan Baghdad dilanda tragedi peperangan. Kehadiran majelis ilmu diharapkan menjadikan dua kota tersebut makmur serta ramai kembali dalam dunia keilmuan.

Imam Abu Dawud pun menerimanya, sembari tetap melakukan pencarian hadis. Ia pun menetap di Kota Basrah hingga wafatnya pada 16 Syawal 275 Hijriah dalam usia 73 tahun.

Selain kitab Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud melahirkan beberapa karya lain. Di antaranya adalah Al-Marasil, Masail al-Imam Ahmad, Al-Nasikh wa al-Mansukh, Risalah fi Wasf Kitab Sunan, Al-Zuhud, Ijabat al-Salawat al-‘Ajjurri, Musnad Malik, Qaul Qadr, Al-Du’a, A’lam an-Nubuwwat, dan lain-lain.

Kitab Sunan Abu Dawud

Pengaruh dan perkembangan ilmu fikih pada saat Imam Abu Dawud hidup sangat kuat. Pada masa itu, beberapa ulama menulis kitab hadis mengikuti perkembangan itu. Penulisan kitab hadis menyesuaikan urutannya dengan urutan ilmu fikih. Sehingga, model ini pun dikenal dengan istilah kitab sunan.

Demikian halnya dengan kitab Sunan Abu Dawud. Selain Imam Abu Dawud, beberapa ulama yang menulis kitab hadis dengan sistematika kitab fikih seperti Ibnu Majah, An-Nasa’i, dan At-Tirmizi. Kitab hadis yang disusun dengan metode sunan berbeda dengan kitab yang disusun dengan model jami’, yakni kitab hadis yang disusun dengan bab-bab tertentu dan tema yang bermacam-macam. Contoh kitab hadits model ini adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Selain itu, ada lagi model yang disebut dengan musnad, yakni kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dengan mengacu kepada nama sahabat. Contoh kitab hadits model ini adalah Musnad Ahmad.

Sunan Abu Dawud sendiri terdiri dari 4.800 hadis. Akan tetapi, beberapa ulama mengatakan ada 5.274 hadis. Pendapat ini karena didasarkan pada seringnya Imam Abu Dawud mengutip hadis di tempat berbeda untuk menguatkan atau menjelaskan dari sebuah hadits.

Sunan Abu Dawud hanya memuat hadits marfu’ (hadis atau riwayat dari Nabi). Tidak ada riwayat mauquf (riwayat dari perkataan maupun perbuatan sahabat) atau riwayat maqtu’ (riwayat dari perkataan maupun perbuatan tabi’in). Menurut Imam Abu Dawud, hadis dapat dinamakan sunah hanya karena riwayatnya dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.

Dalam Sunan Abu Dawud ini tidak hanya berisi hadis yang berderajat shahih, tetapi juga memiliki kualitas lemah atau dha’if. Ada beberapa istilah dalam Sunan Abu Dawud untuk menilai sebuah hadis. Ada yang disebut dengan shahih, yakni hadis yang memenuhi syarat-syarat sebuah hadis (ketersambungan sanad, keadilan rawi, kedhabitan rawi, tidak ada cacat, maupun janggal).

Selain shahih, ada ma yusybihu (menyerupai sahih). Hal ini mempunyai arti bahwa kualitas hadis itu di bawah sahih, tetapi ada riwayat atau pendapat yang menguatkannya. Istilah ini kemudian dikenal dengan shahih li ghairihi.

Kriteria lainnya adalah yuqaribuhu (mendekati hadis sahih). Di kemudian hari, para ulama menyebut hadis ini dengan istilah hadis hasan. Istilah lain lagi adalah wahn syadid, yakni bahwa hadis dimaksud mempunyai kualitas sangat lemah.

Terakhir, istilah kualitas hadits dalam Sunan Abu Dawud adalah shalih. Istilah terakhir ini menjadi perdebatan para ulama setelah Imam Abu Dawud. Perdebatan muncul karena Imam Abu Dawud menempatkan istilah hadis shalih ini pada hadis sahih, hasan, maupun dhaif. Sehingga, istilah tersebut dianggap tidak jelas kepada hadis mana derajat shalih ini dialamatkan.

Banyaknya istilah derajat hadis dalam Sunan Abu Dawud lebih disebabkan saat itu belum ada kesepakatan di antara ulama dalam menilai kualitas sebuah hadis. Kualitas hadis pada zaman Imam Abu Dawud hanya dibagi menjadi dua: sahih dan dhaif

Baru setelah era Imam Abu Dawud, terutama Imam At-Tirmizi, membagi hadis menjadi beberapa istilah yang jelas seperti shahih li zatihi, shahih lighairihi, shahih gharib hasan lizatihi, hasan lighairihi, hasan gharib, dan lain-lain. Wallahu a'lam bishawab. [yy/okezone]