14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Shanon Abulnasr: Islam Mengajariku Dapatkan Kebahagiaan

Shanon Abulnasr: Islam Mengajariku Dapatkan Kebahagiaan

Fiqhislam.com - Sebagian besar hidup Shanon Abulnasr habis dengan rasa tidak bahagia. Apa yang terjadi?

"Sejak muda, saya seorang yang berjuang keras. Saya merasa tidak punya waktu untuk bahagia, memiliki harapan dan selalu merasa tidak puas," ucap dia seperti dilansir onislam.net, Ahad (21/9).

Sebelum menjadi Muslim, Shanono seorang yang percaya pada Tuhan. Namun, hanya sebatas itu. Selanjutnya, ia merasa punya cara untuk mencari kebahagiaan. Yakni, dengan mengikuti pesta, konsumsi minuman keras dan banyak hal diluar kebiasaannya.

Di luar rasa frustasinya itu, Shanon ingin mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ia merasa butuh bimbingan Tuhan. "Saya ingin Tuhan membimbing saya untuk tahu, dimana posisiku berdiri," kata dia.

Seseorang lalu memperkenalkan Shanon pada Islam. Pertama kali mendengar, Shanon hanya bisa sumringah. Selama ini, ia tidak pernah mengenal Islam. Ia juga tidak tahu, apakah Islam itu benar atau tidak.

Jeda sejenak, Shanon mulai kembali aktif dengan pekerjaan. Suatu saat, ia ditipu oleh salah seorang rekan bisnisnya. Shanon kembali putus asa. "Saya merasa marah, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk keluar dari kekacauan ini," kenang dia.

Di masa suramnya itu, Shanon kembali bersentuhan dengan Islam. Ada seseorang yang lagi-lagi menasihatinya. "Allah akan memberikan hidayah kepada Anda dengan cobaan itu. Anda telah diselamatkan Allah berkali-kali, dan saya percaya Allah akan menyelamatkan Anda lagi," kata Shanon menirukan perkataan seseorang itu.

Alhamdulillah, Shanon akhirnya menerima Islam. Momentum itu tidak disia-siakannya untuk mempelajari Islam. "Satu kunci yang saya dapat dari keputusan saya ini. Ketika Anda menaruh kepercayaan penuh kepada Allah. Mulai tunduk kepada-Nya, kesulitan apapun akan dihadapi lebih mudah," kata dia.

Shanon mengaku hingga hari ini cobaan masih saja ada. Namun, rasa ikhlas itulah yang membuatnya merasa berbeda ketika sebelum menjadi Muslim. Ia banyak berdoa dengan harapan diberikan kemudahan jalan.

"Ini yang membuatku bahagia. Satu hal yang tidak pernah saya rasakan. Memang, saya mengalami kesulitan juga, tapi saya bahagia. Saya tidak fokus dengan masalah apa yang saya alami, tapi saya fokus pada harapan ke depan untuk lebih baik," kata dia.

Seperti hal manusia biasa, Shanon juga kerap mengeluh. Namun, ia menjaga diri untuk tidak melakukan itu. "Intinya, Anda coba ingatkan diri Anda untuk menuju kebahagiaan. Jangan meletakan kunci kebahagiaan itu pada orang lain, tetapi kepada Allah. Ketika Anda bisa terapkan ini, Insya Allah, Anda akan mendapatkan seni kebahagiaan," kata dia. [yy/republika.co.id]