27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Kenapa Pasar Jadi Tempat Paling Dibenci Allah?

Kenapa Pasar Jadi Tempat Paling Dibenci Allah?

Fiqhislam.com - Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid-Nya dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya. Demikian sabda Nabi Muhammad Saw dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.

Kenapa pasar jadi tempat paling dibenci Allah Ta'ala? Pengasuh Ponpes Al-Fachriyah Tangerang Al-Habib Jindan bin Novel Salim Jindan mengatakan, sebenarnya bukan karena tempatnya, tetapi karena perbuatan dan aktivitas yang dilakukan orang-orang di tempat (pasar) itu dibenci oleh Allah Ta'ala.

Banyak di antara manusia melakukan perbuatan yang dibenci Allah sehingga pasar menjadi tempat yang tidak disukai Allah. Masjid menjadi mulia dan berkah karena dimakmurkan dan diisi dengan aktivitas mulia sehingga tempat itu menjadi mulia. Orang menjadi baik karena melakukan amalan yang baik.

"Kalau amalan masjid dibawa ke rumah maka rumah kita akan mulia. Ayo masjidkan rumah kita. Masjidkan pasar kita. Pasar dibenci Allah, tetapi kalau dimasuki oleh orang yang ke masjid dia melakukan aktivitas mulia, maka ia akan menjadi orang mulia," kata Habib Jindan dalam tausiyahnya.

Kita patut introspeksi diri lebih banyak mana kita berada, apalah di tempat yang dicintai Allah atau tempat yang dibenci Allah Ta'ala? Bukan soal tempatnya, tapi aktivitas yang dilakukan di dalamnya.

Imam An-Nawawi memaparkan dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan: "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid karena masjid merupakan tempat ketaatan, dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat 'tempat yang paling Allah benci adalah pasar', karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, riba, janji-janji palsu, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya." (Lihat Imam An-Nawawi, Syarah An-Nawawi 'ala Sahih Muslim, Beirut, Daru Ihyait Turats Al-Arabi: 1392 H).

Salah satu yang diajarkan Nabi ketika ingin masuk pasar adalah membaca doa masuk pasar. Dikisahkan, Al-Imam Junaid (220-298 Hijriyah) memiliki toko kristal di pasar. Apabila masuk ke pasar, beliau menggelar sajadah di tokonya kemudian mendirikan salat Dhuha. Jangan tanya berapa rakaat, beliau mengerjakan salat di tokonya hingga 300 rakaat.

Sayyidina Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Barang siapa yang tidak belajar fiqih tidak mengerti mu'amalah, maka jangan bertransaksi di pasar karena nanti membawa yang haram.". Wallahu A'lam. [yy/sindonews]