16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Ali bin Husain, Cicit Nabi Muhammad Setiap Malam Memanggul Tepung Sedekah

Ali bin Husain, Cicit Nabi Muhammad Setiap Malam Memanggul Tepung Sedekah

Fiqhislam.com - Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau lebih dikenal dengan julukan Zainul Abidin dikenal sebagai tabi'in yang tajir. Cicit Rasulullah SAW ini banyak memiliki budak. Di sisi lain, ia juga sangat rajin membebaskan budak.

Salah seorang budaknya bercerita: “Aku adalah pembantu Ali bin Husain. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.

Aku menangis bercampur marah sebab dia tidak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, “Allah…Allah… Wahai Ali bin Husain, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah aku penuhi Anda justru memukulku?”

Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, “Pergilah ke masjid Nabawi, salatlah dua rakaat kemudian berdo’alah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain.’ Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan.”

Aku mengikuti kata-katanya. Aku salat dan berdo’a seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumah, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka.”

Allah memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.

Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya digunakan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat.

Begitulah kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang saleh. Di antara amal saleh yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

Di saat malam mulai gelap, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau keliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya.

Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui darimana jatuhnya rizki untuk mereka itu. Setelah Ali bin Husain wafat dan mereka tak lagi menerima rezeki itu, barulah mereka menyadari siapakah gerangan manusia dermawan itu.

Sewaktu jenazah Zainul Abidin dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya, “Bekas apa ini?” di antara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.” Setelah wafatnya Zainul Abidin, terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu.

Pembebasan budak secara besar-besaran yang dilakukan Zainul Abidin disebarkan oleh para perantau ke Timur dan Barat. Tingkah lakunya seakan seperti dongeng yang direkayasa dan banyaknya melebihi hitungan orang yang membilangnya.

Zainul Abidin bisa memerdekakan budak yang bekerja dengan baik sebagai imbalan untuk mereka. Beliau juga membebaskan budak yang terlanjur dipukul atau dianiaya sebagai tebusan.

Diriwayatkan bahwa beliau telah memerdekakan seribu budak dan tak pernah memakai tenaga seorang budak lebih dari satu tahun. Kebanyakan mereka dimerdekakan pada malam ‘Idul Fitri, malam yang penuh berkah.

Dimintanya mereka menghadap ke kiblat dan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain,” sebelum mereka pergi, beliau memberinya bekal dua kali lipat untuk berlebaran agar mereka merasakan kebahagiaan yang berlipat. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]