14 Muharram 1444  |  Jumat 12 Agustus 2022

basmalah.png

Ali bin Husain, Cicit Nabi Muhammad Setiap Malam Memanggul Tepung Sedekah

Ali bin Husain, Cicit Nabi Muhammad Setiap Malam Memanggul Tepung Sedekah

Fiqhislam.com - Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau lebih dikenal dengan julukan Zainul Abidin dikenal sebagai tabi'in yang tajir. Cicit Rasulullah SAW ini banyak memiliki budak. Di sisi lain, ia juga sangat rajin membebaskan budak.

Salah seorang budaknya bercerita: “Aku adalah pembantu Ali bin Husain. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.

Aku menangis bercampur marah sebab dia tidak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, “Allah…Allah… Wahai Ali bin Husain, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah aku penuhi Anda justru memukulku?”

Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, “Pergilah ke masjid Nabawi, salatlah dua rakaat kemudian berdo’alah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain.’ Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan.”

Aku mengikuti kata-katanya. Aku salat dan berdo’a seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumah, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka.”

Allah memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.

Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya digunakan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat.

Begitulah kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang saleh. Di antara amal saleh yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

Di saat malam mulai gelap, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau keliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya.

Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui darimana jatuhnya rizki untuk mereka itu. Setelah Ali bin Husain wafat dan mereka tak lagi menerima rezeki itu, barulah mereka menyadari siapakah gerangan manusia dermawan itu.

Sewaktu jenazah Zainul Abidin dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya, “Bekas apa ini?” di antara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.” Setelah wafatnya Zainul Abidin, terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu.

Pembebasan budak secara besar-besaran yang dilakukan Zainul Abidin disebarkan oleh para perantau ke Timur dan Barat. Tingkah lakunya seakan seperti dongeng yang direkayasa dan banyaknya melebihi hitungan orang yang membilangnya.

Zainul Abidin bisa memerdekakan budak yang bekerja dengan baik sebagai imbalan untuk mereka. Beliau juga membebaskan budak yang terlanjur dipukul atau dianiaya sebagai tebusan.

Diriwayatkan bahwa beliau telah memerdekakan seribu budak dan tak pernah memakai tenaga seorang budak lebih dari satu tahun. Kebanyakan mereka dimerdekakan pada malam ‘Idul Fitri, malam yang penuh berkah.

Dimintanya mereka menghadap ke kiblat dan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain,” sebelum mereka pergi, beliau memberinya bekal dua kali lipat untuk berlebaran agar mereka merasakan kebahagiaan yang berlipat. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]

 

Ali bin Husain, Cicit Nabi Muhammad Setiap Malam Memanggul Tepung Sedekah

Fiqhislam.com - Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau lebih dikenal dengan julukan Zainul Abidin dikenal sebagai tabi'in yang tajir. Cicit Rasulullah SAW ini banyak memiliki budak. Di sisi lain, ia juga sangat rajin membebaskan budak.

Salah seorang budaknya bercerita: “Aku adalah pembantu Ali bin Husain. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.

Aku menangis bercampur marah sebab dia tidak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, “Allah…Allah… Wahai Ali bin Husain, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah aku penuhi Anda justru memukulku?”

Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, “Pergilah ke masjid Nabawi, salatlah dua rakaat kemudian berdo’alah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain.’ Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan.”

Aku mengikuti kata-katanya. Aku salat dan berdo’a seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumah, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka.”

Allah memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.

Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya digunakan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat.

Begitulah kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang saleh. Di antara amal saleh yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

Di saat malam mulai gelap, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau keliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya.

Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui darimana jatuhnya rizki untuk mereka itu. Setelah Ali bin Husain wafat dan mereka tak lagi menerima rezeki itu, barulah mereka menyadari siapakah gerangan manusia dermawan itu.

Sewaktu jenazah Zainul Abidin dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya, “Bekas apa ini?” di antara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.” Setelah wafatnya Zainul Abidin, terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu.

Pembebasan budak secara besar-besaran yang dilakukan Zainul Abidin disebarkan oleh para perantau ke Timur dan Barat. Tingkah lakunya seakan seperti dongeng yang direkayasa dan banyaknya melebihi hitungan orang yang membilangnya.

Zainul Abidin bisa memerdekakan budak yang bekerja dengan baik sebagai imbalan untuk mereka. Beliau juga membebaskan budak yang terlanjur dipukul atau dianiaya sebagai tebusan.

Diriwayatkan bahwa beliau telah memerdekakan seribu budak dan tak pernah memakai tenaga seorang budak lebih dari satu tahun. Kebanyakan mereka dimerdekakan pada malam ‘Idul Fitri, malam yang penuh berkah.

Dimintanya mereka menghadap ke kiblat dan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain,” sebelum mereka pergi, beliau memberinya bekal dua kali lipat untuk berlebaran agar mereka merasakan kebahagiaan yang berlipat. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]

 

Cucu Ali bin Abu Thalib

Ali bin Husain, Cucu Ali bin Abu Thalib yang Banyak Julukan


Fiqhislam.com - Tahun itu, tamatlah riwayat kekaisaran Persia. Yazdajurd , kaisar terakhir Persi wafat di pengasingan, sementara seluruh harta, prajurit dan istana menjadi tawanan kaum muslimin. Semuanya diangkut ke Madinah Al-Munawarah.

Kemenangan kaum muslimin itu menghasilkan tawanan yang berjumlah banyak, dari kalangan terhormat dan belum pernah penduduk Madinah melihat hasil ghanimah sebanyak dan begitu berharga seperti itu. Di antara tawanan tersebut terdapat pula tiga orang putri kaisar Yazdajurd.

Orang-orang memperhatikan para tawanan tersebut dan beberapa saat kemudian sebagian mereka ikut membelinya, sedangkan bayarannya dimasukkan ke baitul maal kaum muslimin. Tidak ada lagi yang tertinggal selain para putri kaisar yang sangat jelita lagi masih belia.

Ketika ditawarkan untuk dijual, mereka semua tertunduk ke bumi merasa hina dan rendah. Air mata meleleh dari kedua pipi mereka.

Ali bin Abi Thalib merasa iba melihatnya dan berharap semoga yang akan membeli para putri itu adalah orang yang bisa menghargai martabat mereka dan sanggup memelihara mereka dengan baik, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kasihanilah para bangsawan yang terhina.”

Dengan segera beliau mendekati Amirul Mukminin Umar bin Khathab dan mengusulkan, “Para putri itu sebaiknya tidak diperlakukan seperti tawanan lainnya.”

Umar berkata, “Engkau benar, tapi bagaimana caranya?”

Ali berkata, “Umumkanlah harga mereka setinggi mungkin, lalu beri mereka kebebasan untuk memilih orang yang bersedia membelinya.”

Saran Ali disetujui dan segera dilaksanakan oleh Umar. Putri yang pertama memilih Abdullah bin Umar, putri kedua memilih Muhammad bin Abu Bakar, sedangkan ketiga yang dipanggil dengan Syah Zinan memilih Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tak lama setelah itu, putri yang ketiga langsung masuk Islam dan bagus keislamannya. Sehingga dia beruntung dengan agama yang lurus, juga dimerdekakan dan diambil istri oleh Husain setelah tadinya berstatus budak.

Setelah itu dia tinggalkan segala sesuatu yang berkenaan dengan paganisme (penyembahan berhala) dan mengganti nama “Syah Zinan” yang berarti ratunya para wanita menjadi “Ghazalah”.

Ghazalah amat bahagia menjadi istri dari suami yang paling baik dan paling layak untuk mendapatkan putri raja. Sehingga tiada lagi yang dia cita-citakan selain mendapatkan karunia anak.

Beberapa waktu kemudian, Allah pun memuliakan beliau dengan dikaruniai seorang anak yang tampan. Beliau memberinya nama Ali, sama dengan nama kakeknya Ali bin Abi Thalib.

Hanya saja, kebahagiaan itu tidak lama dirasakan Ghazalah. Ia segera memenuhi panggilan Rabb-nya akibat pendarahan terus-menerus setelah melahirkan. Sehingga tidak ada kesempatan bagi beliau untuk bersenang-senang dengan anaknya.

Selanjutnya anak tersebut dirawat oleh seorang budak wanita. Dia dicintai seperti darah dagingnya sendiri, dipelihara lebih baik daripada anaknya sendiri. Maka si kecil tumbuh tanpa mengenal orang lain selain budak wanita itu.

Menginjak usia remaja Ali bin Husain sangat tekun dan antusias menuntut ilmu. Madrasah pertama beliau adalah rumahnya sendiri, rumah yang paling mulia dan gurunya pun ayahandanya sendiri. Madrasah yang kedua adalah masjid Nabawi Asy-Syarif yang ramai dikunjungi sisa-sisa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi tabi’in.

Mereka begitu semangat mendidik para putra sahabat utama. Mengajari Kitabullah, fiqih serta riwayat hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan target dan obyek yang ditujunya.

Juga menceritakan tentang perjalanan dan perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang syair-syair Arab dan keindahannya. Mengisi hati mereka dengan kecintaan, takut dan ketakwaan kepada Allah. Dan akhirnya mereka berhasil menjadi ulama yang mau beramal dan menjadi pembimbing bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hanya saja hati Ali bin Husain tidaklah terkait dengan sesuatu melebihi keterpautan hatinya terhadap Kitabullah. Tak ada hal lain yang boleh dikagumi sekaligus ditakuti daripada kalimat-kalimat, janji dan ancaman yang ada di dalamnya.

Jika ayat yang beliau baca menyebut-nyebut tentang surga, serasa terbang kerinduan beliau terhadapnya. Bila membaca ayat-ayat tentang neraka, gentar gemetar seakan melihat dan merasakan panas api di tubuhnya.

Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, menceritakan memasuki usia dewasa, Ali bin Husain tumbuh menadi seorang pemuda yang kaya ilmu dan ketakwaan.

Penduduk Madinah mendapatinya sebagai pemuda bani Hasyim yang patut diteladani ibadah dan ketakwaannya, terhormat, luas pengetahuan dan ilmunya, mencapai puncak ibadah dan takwanya. Sampai-sampai setiap kali selesai wudhu terlihat wajahnya pucat seperti ketakutan. Bila ditanya tentang hal itu menjawab, “Duhai celaka, tidakkah kalian tahu, kepada siapa aku akan menghadap dan siapa yang akan aku ajak bicara?”

Melihat kepribadian beliau tersebut, kaumnya memberi julukan “Zainul ‘Abdin” (hiasan para ahli ibadah) dan julukan ini justru lebih dikenal daripada nama aslinya. Selain itu karena sujud yang sangat lama, penduduk Madinah juga menyebutnya sebagai Assajad. Karena jiwanya yang bersih, dijuluki pula dengan “Az-Zakiy”. [yy/Miftah H yusufpati/sindonews]