12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Beda Pandangan Barat dan Islam tentang Manusia

Beda Pandangan Barat dan Islam tentang Manusia

Fiqhislam.com - Sejak dahulu kala, banyak pemikir mengajukan beragam interpretasi mengenai manusia. Salah satu tafsiran yang paling sering dijumpai ialah, semua insan terdiri atas jiwa dan raga.

Filsuf Yunani Kuno, Plato, termasuk yang paling awal mengajukan konsep dualisme tersebut.

Tokoh yang hidup pada abad keempat sebelum Masehi (SM) itu memandang, jiwa dan raga bergabung dalam persekutuan yang tidak bahagia.

Raga diibaratkannya sebagai penjara, sementara jiwa mendamba untuk kembali ke asalnya. Jiwa bersifat abadi dan transenden serta memiliki pengetahuan bawaan (idea) sejak lahir. Adapun jasad selalu temporal dan profan.

Murid Plato, Aristoteles, menekankan keunikan jiwa manusia dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya. Tanaman hanya memiliki jiwa nutrisi, sedangkan binatang berjiwa nutrisi sekaligus persepsi.

Manusia tidak hanya mempunyai jiwa keduanya, melainkan juga pikiran. Bahkan, menurut Aristoteles, esensi jiwa manusia adalah penalaran. Karena itulah, guru Aleksander Agung itu mendefinisikan manusia sebagai hewan yang berpikir (animal rationale).

Para pemikir Barat abad modern pun tidak kurang antusiasnya dalam merumuskan pengertian tentang manusia. Sebagai contoh, Karl Marx (1818-1883) yang menilai manusia hanya dikendalikan aspek kebendaan (materiil).

Di samping itu, dia menekankan, esensi manusia adalah totalitas hubungan sosial mereka. Maka dari itu, kesadaran manusia dibentuk oleh keadaan sosialnya; bukan sebaliknya. Lebih khusus lagi, kondisi produksi-material atau ekonomilah yang menentukan kesadaran manusia di se panjang sejarah.

Pemikir Barat lainnya, Sigmund Freud (1856- 1939), berpendapat, manusia merupakan suatu sistem yang terisolasi dan didorong oleh dua impuls, yakni insting untuk bertahan hidup dan merasakan kenikmatan.

Untuk mewujudkan kedua dorongan tersebut, manusia menggunakan tiga struktur kepribadian dalam dirinya, yakni id, ego, dan superego. Dari ketiganya, id menjadi sumber tingkah laku manusia.

Tujuannya adalah meraih kepuasan dengan cara menghilangkan atau mengurangi ketegangan-ketegangan yang ada. Pada tubuh manusia, sumber ketegangan itu dilokalisasi dalam zona-zona yang membangkitkan hasrat seksual (erogenous), salah satunya adalah alat kelamin.

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa pemikiran Barat sejak zaman kuno mengenai manusia bersandar pada konsep dualisme, yakni sekurang-kurangnya antara jiwa dan raga. Namun, gagasan itu pada akhirnya dijelaskan dengan paradigma sekulerisme belaka.

Alhasil, pembicaraan tentang Tuhan tidak dianggap relevan untuk mendiskusikan tentang apa itu dan bagaimana menjadi manusia. Marx, misalnya, bersikukuh mempertahankan materialisme sehingga menolak signifikansi ide. Baginya, manusia-lah yang menciptakan Tuhan; bukan sebaliknya. Adapun Freud menganggap, agama sebagai bentuk gangguan jiwa.

Sementara itu, Islam menyajikan definisi yang tuntas tentang manusia. Seluruh insan diciptakan dengan tujuan utama, yakni menyembah hanya kepada Allah SWT (QS Az Zariyat 56).

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Alquran sebagai sumber ajaran agama ini menyebutkan manusia dengan terminologi yang berbeda-beda. Istilah basyar disebut 35 kali dalam bentuk mufrad dan sekali dalam bentuk mutsanna. Sebutan al ins sebanyak 18 kali. Al Insan, 65 kali. An Nas, 240 kali. Bani Adam, tujuh kali. Terakhir, zuriyah Adam sebanyak satu kali.

Seperti dijabarkan Prof Yunahar Ilyas dalam bukunya, Tipologi Manusia Menurut Al-Qur'an (2007, Labda Press), kata basyar dapat diartikan sebagai 'penampakan sesuatu dengan baik dan indah.'

Sebutan basyar mengindikasikan manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan makanan, minuman, dan sebagainya. Dalam pengertian ini, tidak ada perbedaan, misalnya, antara manusia baik dan buruk karena penilaiannya sebatas fisik saja.

Alquran mengisahkan beberapa kaum yang menolak dakwah tauhid. Sebab, mereka menilai para nabi dan rasul Allah itu hanyalah basyar, sama seperti mereka. Iblis pun, tatkala menolak bersujud kepada Nabi Adam AS, menggunakan kata basyar untuk merujuk makna 'manusia.'

قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ

Qaala lam akulliasjuda li-basyarin

'Ia (Iblis) berkata, 'Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia' (QS Al Hijr 33).

Istilah al-ins dipakai di dalam Alquran untuk menunjuk pada sifat manusia sebagai makhluk yang jinak atau beradab. Karakteristik itu berkeba likan daripada jin, yakni makhluk yang cenderung liar dan bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lain, umpamanya, tanpa kendala jarak sebagai mana mobilitas manusia.

Yunahar menduga, itulah sebabnya kata al ins kerap disebut berbarengan dengan al jin di dalam Kitabullah, yakni untuk menunjukkan pasangan oposisi biner. Sebagai contoh, surah az Zariyat ayat ke-56 di atas.

Adapun al insan memang sekilas tidak berbeda dari al ins. Namun, lanjut Yunahar, makna keduanya berbeda. Al insan merujuk kepada definisi manusia sebagai makhluk yang layak menjadi khalifah di bumi.

Manusia disebut sebagai al insan karena tidak hanya dibekali oleh Tuhan dengan aspek-aspek yang tampak (empiris), tetapi juga nonempiris, khususnya akal dan hati.

Bila memakai istilah al insan, berarti Alquran sedang menunjuk pada manusia sebagai totalitas jiwa dan raga. Sebagai contoh, surat Al Alaq 1-2: "

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.[yy/republika]