15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Samakah Bahasa Arab di Zaman Dahulu dan Dimasa Sekarang?

Samakah Bahasa Arab di Zaman Dahulu dan Dimasa Sekarang?

Fiqhislam.com - Di zaman dahulu, bahasa Arab mendapatkan tempat di hatinya para muslimin dan mukminin. Ulama, Ilmuwan dan bahkan para khalifah sekalipun tidak memandang remeh Bahasa Arab ini. Fashahah (kebenaran atau kefasihan dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam berbahasa menjadi salah satu indikasi keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya saat kecil.

Khalifah Abdul Malik menyatakan dengan tegas bahwasannya bahasa resmi kerajaan adalah bahasa Arab. Dengan demikian dominasi bahasa-bahasa lain di wilayah kekuasaan semakin tergantikan oleh bahasa Arab. Selain itu diadakan penggantian mata uang yang sebelumnya menggunakan bahasa Persia dan Bizantium dengan mata uang baru yang berisi tulisan-tulisan Arab.

Penyempurnaan konten bahasa Arab juga dilakukan pada masa ini, yaitu adanya pembaruan bahasa Arab yang mencakup penambahan titik-titik pada huruf Arab dan perumusan tanda vokal dlommah (u), fathah (a), dan kasroh (i) sehingga memudahkan dalam pembacaannya, khususnya bagi non Arab.

Selain tata bahasa, penyempurnaan konten juga dilakukan pada aspek kosakata. Sehingga pada masa ini, bahasa Arab mulai memiliki istilah-istilah yang cukup memadai dalam bidang hukum, tata negara, tata bahasa, retorika, dll. Namun belum merambah dalam dunia filsafat, kedokteran, dan ilmu sains.

Ketika pemerintahan Bani Abbasiyah berpendapat bahwa kejayaan bergantung dengan berpedoman pada Islam dan bahasa Arab. Pada masa ini, dilakukan “pembedahan” al-Qur’an untuk pengembangan berbagai disiplin keilmuan seperti filsafat, kedokteran, matematika, antropologi, astronomi, dan teologi. Sehingga bahasa Arab mengalami perkembangan istilah-istilah baru seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.

Selain itu, bahasa Arab juga mengalami perkembangan dari sisi pengajarannya yaitu dengan mulai adanya pembukuan bahasa Arab Fusha, sehingga dapat dipelajari oleh siapapun dan berkembang meluas.

Redupnya pehatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam sudah memasuki negara-negara ‘ajam (non Arab). Kesalahan pelafalan dan ejaan semakin dominan dalam perbincangan. Bahasa lain makin mendominasi dalam percakapan dan keseharian. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang pada umumnya, banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang sangat memprihatinkan para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar dapat menekuni bahasa Arab, namun lebih mendorong anak-anaknya pada hal berbau sains dan teknologi, sekalipun tertarik terhadap bahasa di dorong anak-anaknya ke bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea dan bukanlah bahasa Arab .

Karena bahasa dan budaya Arab telah tumbuh dan berkembang mendunia selama berabad-abad, maka dari itu bahasa ini telah menjadi sumber daya tarik dan minat bagi banyak orang di dunia ini, dan banyak dari mereka yang mengatakan bahwasannya bahasa Arab adalah bahasa yang paling indah di dunia. Bahasa Arab, bahasa Semitik yang berusia ribuan tahun, dikenal sebagai satu-satunya bahasa Qur’an dan bahasa resmi negara-negara Islam khususnya di negara timur tengah dan Afrika.

Tapi, lingkup pengaruhnya yang diberikan oleh bahasa Arab ini sebenarnya sangatlah besar dan luas. Peradaban Islam telah melintasi ke berbagai pulau dan negara bahkan bahasa ini telah menjadi bagian dari setiap budaya di dunia ini entah ia masuk kepada kebudayaan atau kebahasaan.

Namun Bahasa Arab kini mulai diasingkan oleh para muslim dan orang Arab, dimana di dubai yang masuk daerah jazirah Arabpun lebih mengedepankan bahasa Inggris dibandingkan Arab. Di Indonesia sendiri para masyarakat sudah memiliki mindset yang salah yaitu yang mempelajari bahasa Arab adalah orang yang belajar dari pesantren, selain itu mereka tidak harus mempelajari bahasa Arab.

Minat para siswa terutama para remaja pula terlihat dimana mereka lebih senang dan lebih suka untuk belajar bahasa Inggris, daripada belajar bahasa Arab. Mereka belum sadar akan pentingnya bahasa Al-Quran ini. [yy/republika]

Oleh Muhamad Nur Hidayatullah