27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Andai Pandemi Pergi: Agama Dalam Tatanan Kehidupan Baru

Andai Pandemi Pergi: Agama Dalam Tatanan Kehidupan Baru

Fiqhislam.com - 2 Tahun lebih Indonesia dilanda pandemik, selama 2 tahun pula berbagai sektor mengalami perubahan yang begitu signifikan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang membatasi seluruh mobilitas sosial agar terhindar dari penyebaran COVID-19. Mau tak mau internet adalah media yang praktis dan efisien demi melanjutkan kegiatan manusia yang terbengkalai akibat COVID-19.

Adanya migrasi besar-besaran dari peradaban revolusi industri 2.0 menuju peradaban 4.0 dengan cepat dan gagap memaksa seluruh tatanan kehidupan juga ikut boyong tak terkecuali agama. Imbasnya beragam kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, dan ibadah yang lain pun dilaksanakan secara virtual.

Selain itu pengetahuan keagamaan seperti hukum-hukum agama dapat diakses dengan mudah hanya melalui smartphone, sayangnya penggunaan gadget ini dalam banyak kasus tidak memiliki validitas sehingga rentan terpapar hoaks. Keseringan mengkonsumsi hoaks dapat merubah cara pandang seseorang terhadap suatu kelompok atau golongan lain sehingga dapat memicu perpecahan. Dalam level ini peran otoritas agama seperti Kyai, Ustad, Pendidik Agama dirasa sangat penting.

Namun, realiatanya pembacaan atas agama bagi sebagian otoritas keagamaan di nilai masih tekstual. Hal ini dapat dilihat dari bobot ceramah yang diberikan pada jamaahnya, umumnya masih berkutat pada tataran normatif dan dogmatis yang tidak diiringi dengan pembacaan sosial budaya. Maka diperlukan reorientasi berpikir agar umat islam tidak kaget dalam merespon perubahan jaman yang kian cepat.

Penggunaan paradigma berpikir yang kontekstual akan memicu individu untuk memahami nilai-nilai agama yang luhur serta implementasinya di tengah masyarakat yang mudah terprovokasi menggunakan agama terlebih kaitannya dengan panggung politik. Fenomena kebangkitan agama ini disebabkan karena kultur tatanan politik yang oportunis sehingga kebangkitan agama tidak bisa dipahami secara utuh.

Kebangkitan islam sendiri di Asia Tenggara disebut sebagai bangkitnya visi ideologi kanonik dengan citra resistensi, akomodasi, dan modifikasi agama dengan berbagai kepentingan yang memiliki dinamika atas permasalahan seputar tradisi, modernitas, urbanisme, industrialisme, keadilan, dan kesamaan. Hal ini menambah kompleksitas keislaman dan kebingungan dikalangan abangan.

Universalisme Sebagai Landasan Berpikir

Paradigma membentuk tingkah laku dalam keseharian manusia, acuan ini merupakan inti dari kehidupan seseorang karena sebuah cara pandang akan mempengaruhi diri seseorang dalam merespon atau menyikapi perbedaan. Cara pandang yang eksklusif akan berbahaya bagi orang lain yang berbeda prespektif karena eksklusif adalah pola tindakan yang dirasa tidak pluralis dalam konteks Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku,ras dan agama sebagai ciri khusus seseorang dalam bersosialisasi, sikap ekslusif ini tidak mampu memberi ruang toleransi atau bahkan tidak menumbuhkan sifat yang humanis.

Gejala eksklusif ini dibuktikan dengan fenomena munculnya ustad yang tenar dari sosial media seperti youtube yang mengajarkan pendangkalan akidah yaitu dengan menggunakan dalil agama sebagai penguat argumennya yang bersifat tekstual. Dakwah atau ceramah yang diberikan menggunakan sentimen antar kelompok yang jelas menghilangkan dimensi filosofi seorang dalam beragama.

Maka selain pendangkalan akidah, hal ini juga menularkan kemandekan nalar pikir atau logika bahkan tindak kekerasan terhadap kelompok lain atau degradasi moral, Akhirnya fungsi agama hanyalah sebagai legitimasi suatu kelompok terhadap kelompok lain yang tak jarang menimbulkan kelas sosial, agama bukan lagi landasan etis atau kontrol sosial suatu masyarakat.

Dalam menghadapi fenomena sentimen antar kelompok yang tak kunjung usai terlebih di masa pandemi ini diperlukan kembali reorientasi paradigma islam misalnya pemikiran Kuntowijoyo berupa islam yang universal. Prinsip universalisme islam yang bersifat emansipasi/humanisasi, liberasi, dan transendensi untuk menghilangkan sifat subjektif dan eksklusif umat islam.

Agama tidak boleh sekedar pemberi legitimasi terhadap sistem sosial, melainkan juga harus sebagai pengontrol dan pemerhati perilaku didalam sistem tersebut. Hal ini digunakan kuntowijoyo untuk mewujudkan transformasi sosial yang menjadi cita-cita umat islam yaitu perubahan dan pembaruan.

Perubahan dan pembaruan islam diperlukan agar islam dapat berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang fluktuatif. Namun implementasi paradigma berpikir universal ini hendaknya menjadi tugas bersama termasuk pemerintah di ranah birokrasi agar kebijakan yang dibuat tidak berkiblat pada kepentingan mayoritas saja melainkan juga minoritas dan marginal. Selain itu perlu adanya integrasi dan interkoneksi antar keilmuwan sehingga agama dan sains tidak lagi berada dalam kontestasi sekulerisme melainkan dapat memberikan solusi nyata bagi problematika masyarakat sehingga mengindahkan esensi islam yang Rahmatan Lil Alamin.

2 Tahun lebih Indonesia dilanda pandemik, selama 2 tahun pula berbagai sektor mengalami perubahan yang begitu signifikan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang membatasi seluruh mobilitas sosial agar terhindar dari penyebaran COVID-19. Mau tak mau internet adalah media yang praktis dan efisien demi melanjutkan kegiatan manusia yang terbengkalai akibat COVID-19.

Adanya migrasi besar-besaran dari peradaban revolusi industri 2.0 menuju peradaban 4.0 dengan cepat dan gagap memaksa seluruh tatanan kehidupan juga ikut boyong tak terkecuali agama. Imbasnya beragam kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, dan ibadah yang lain pun dilaksanakan secara virtual.

Selain itu pengetahuan keagamaan seperti hukum-hukum agama dapat diakses dengan mudah hanya melalui smartphone, sayangnya penggunaan gadget ini dalam banyak kasus tidak memiliki validitas sehingga rentan terpapar hoaks. Keseringan mengkonsumsi hoaks dapat merubah cara pandang seseorang terhadap suatu kelompok atau golongan lain sehingga dapat memicu perpecahan. Dalam level ini peran otoritas agama seperti Kyai, Ustad, Pendidik Agama dirasa sangat penting.

Namun, realiatanya pembacaan atas agama bagi sebagian otoritas keagamaan di nilai masih tekstual. Hal ini dapat dilihat dari bobot ceramah yang diberikan pada jamaahnya, umumnya masih berkutat pada tataran normatif dan dogmatis yang tidak diiringi dengan pembacaan sosial budaya. Maka diperlukan reorientasi berpikir agar umat islam tidak kaget dalam merespon perubahan jaman yang kian cepat.

Penggunaan paradigma berpikir yang kontekstual akan memicu individu untuk memahami nilai-nilai agama yang luhur serta implementasinya di tengah masyarakat yang mudah terprovokasi menggunakan agama terlebih kaitannya dengan panggung politik. Fenomena kebangkitan agama ini disebabkan karena kultur tatanan politik yang oportunis sehingga kebangkitan agama tidak bisa dipahami secara utuh.

Kebangkitan islam sendiri di Asia Tenggara disebut sebagai bangkitnya visi ideologi kanonik dengan citra resistensi, akomodasi, dan modifikasi agama dengan berbagai kepentingan yang memiliki dinamika atas permasalahan seputar tradisi, modernitas, urbanisme, industrialisme, keadilan, dan kesamaan. Hal ini menambah kompleksitas keislaman dan kebingungan dikalangan abangan. [yy/republika]

Oleh Alma Cinthya