30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Dikotomi Arab dan Non-Arab dalam Intelektualitas Islam

Dikotomi Arab dan Non-Arab dalam Intelektualitas Islam

Fiqhislam.com - Dalam sejumlah diskusi, pernah suatu saat saya mendapati anggapan peserta yang menganggap kaum ajam atau non Arab tidak banyak mewarnai deretan para pemikir besar masa lalu, atau era sekarang.

Namun jika ditelisik, anggapan sentiment semacam ini tidak seharunya perlu terjadi. Tak perlu ada dikotomi Arab atau non Arab, dalam tradisi intelektualitas Islam, apalagi soal interaksi sesama Muslim atau antarpemeluk agama lain.

Islam datang dari Arab. Simbol-simbol agama dan keagamaan pun tak bisa lepas begitu saja dari nuansa Arab. Islam itu memang dalam satu titik harus kita akui identik dengan Arab, tetapi di saat yang sama kita juga tak boleh memungkiri tentang fakta bahwa tak semua yang berbau Arab itu harus dilekatkan dengan Islam.

Dalam konteks ini, saya agak sepakat dengan pernyataan Ibnu Taimiyah yang tertuang dalam kitabnya, Iqtidha as-Shirath Mustaqim. Jika merujuk pada hadis Rasulullah SAW riwayat Muslim, memang disebutkan bahwa etnis Arab itu disebut memiliki keutamaan dan unggul.

Rasul lahir dari suku dan silsilah etnis yang berkualitas, yaitu Arab. Namun, yang harus digarisbawahi, menurut Ibnu Taimiyah, bahwa pengistimewaan etnis Arab ini bukan berarti bahwa secara kemampuan, kualitas, dan kompetensi individu, orang Arab itu adalah segala-galanya. Bukan begitu yang dimaksudkan, kata Ibnu Taimiyah.

Ternyata, pernyataan Ibnu Taimiyah tak mengada-ada. Di luar sana, masih banyak non-Arab yang lebih bagus dan jauh berkualitas dari ribuan orang Arab itu sendiri. Ada nama Shuhaib ar-Rumi, Salman al-Farisi, dan Bilal al-Habsyi. Para sahabat itu memiliki peran yang besar dalam menopang Islam pada awal kemunculannya. Sah-sah saja kita menyebut, misalnya Bilal, lebih hebat dari ratusan orang Arab ketika itu.

Kendati demikian, bukan sentimen, adu kehebatan, dan fanatisme yang hendak kita bangun serta maksudkan di sini. Bahwa Arab adalah sumber Islam, ya, perkara itu sudahlah anggap saja selesai, tetapi bagaimana peradaban Islam mampu berkembang dan jaya, tentu tak bisa menafikan peran non-Arab. Maknanya pula, kita semua, tanpa melihat asal usul Arab atau non-Arab, sebetulnya berpeluang besar mengembalikan kegemilangan Islam itu.

Fakta yang cukup aneh mencengangkan, menurut Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, sebagian besar para ilmuwan Muslim pada abad pertengahan berasal dari ras non-Arab, bukan Arab. Di semua dispilin ilmu, dari agama hingga eksakta, seperti Turki, Persia, dan Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Kazakhstan, dan lainnya. Belakangan ada juga yang berasal dari India. Jumlah cendekiawan Arab memang ada, kata Ibnu Khaldun, tetapi sedikit.

Faktor penyebabnya, menurut Ibnu Khaldun, adalah kemampuan menulis yang tidak dimiliki oleh bangsa Arab. Kemahiran itu banyak dimiliki oleh para pendatang yang notabene adalah non-Arab. Menurut analisis al-Muqrizi dalam kitab Imta' al-Asma, minimnya kemampuan tulis-menulis umat Islam pada masa awal menjadi faktor penyebab mengapa akselerasi ilmu bangsa Arab lebih mengandalkan hafalan ketimbang tulisan.

Dalam catatan Ibn Sayyid an-Nas dalam kitab 'Uyun al-Atsar, hanya ada 40-an sahabat yang memang mahir menulis, tentu dengan pengertian dan bentuk yang sangat masih sederhana; tanpa titik, harakat, bahkan tanda baca lain yang berkaitan.

Di kalangan Anshar, muncul nama Ubai bin Ka'ab. Sedangkan, Abdullah bin Sa'ad bin Abu Siraj didapuk sebagai orang pertama Quraisy pertama yang bisa membaca dan menulis. Minimnya kemampuan menulis dan masih lemahnya standardisasi bahasa Arab pada praktiknya menjadi kendala yang sangat signifikan dalam upaya pembacaan turats tersebut.

Kondisi ini nyatanya berlangsung beradab-abad pascameninggalnya Rasulullah SAW. Perluasan wilayah menyebabkan terbukanya cakrawala di dunia luar, bukan hanya budaya, tetapi juga bahasa. Sebagai konsekuensi, kesalahan penggunaan bahasa Arab (lahn) semakin marak.

Jika langkah konkret tidak ditempuh, bukan tidak mungkin penduduk Arab sendiri akan lupa bahasa mereka. Pengaruh yang lebih ekstrem lagi, ketidakmampuan masyarakat Arab berbahasa sesuai tradisi dan kaidah lama yang baku, berdampak buruk pada pemahaman Alquran, yang nontabene berbahasa Arab.

Mereka, orang-orang non-Arab, memiliki kepedulian untuk meletakkan kaidah berbahas Arab seperti yang dilakukan oleh Sibawaih, al-Farisi, dan menyusul setelah keduanya, az-Zujjaj. Bukan hanya disiplin ilmu bahasa, mereka juga mendominasi penguasaan ilmu hadis, tafsir, filsafat, kedokteran, hingga arsitektur.

Dominasi non-Arab terhadap ilmu pengetahuan ketika itu, disebut-sebut dalam hadis Rasulullah dengan perandaiannya, seandainya saja, ilmu itu tergantung di tiang-tiang langit, maka niscaya akan diraih oleh orang Persia.

Arab dan non-Arab, sama-sama berpeluang besar dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan berharga dari para ulama salaf. [yy/republika]

Oleh Nashih Nashrullah, Jurnalis Republika.co.id