8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Watak Peradaban Islam

Watak Peradaban Islam

Fiqhislam.com - Setelah Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin hijrah dari Makkah ke Yastrib (Madinah), maka terbentuklah negara pertama yang dikepalai Rasulullah SAW. Apa yang pertama kali beliau lakukan? Tak lain menjalin persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah).

Caranya dengan mempersaudarakan kaum pendatang (Muhajirin) dengan penduduk setempat (Anshor). Selanjutnya, beliau juga menciptakan persaudaraan berbasis kebangsaan (ukhuwah wathoniyah), yakni mempersaudarakan antara kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi.

Dalam hal ini, Nabi SAW membuat perjanjian tertulis yang berisi pengakuan atas agama mereka dan harta benda mereka. Disebutkan dalam perjanjian ini, orang-orang Yahudi berpegang pada ajaran mereka, sedangkan orang-orang Islam pun berpegang pada agama mereka sendiri.

"Inilah dokumen politik yang telah diletakkan Nabi Muhammad sejak lebih 14 abad lalu dan telah menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat: tentang keselamatan harta benda dan larangan orang melakukan kejahatan," tulis Muhammad Husein Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad.

Dokumen ini kelak dikenal sebagai Piagam Madinah. Menurut Haekal, Piagam Madinah merupakan suatu tonggak penting dalam sejarah umat manusia.

"(Piagam Madinah) telah membukakan pintu dalam kehidupan politik dan peradaban manusia masa itu," tulis dia. Dunia yang selama ini hanya menjadi permainan tangan-tangan tirani, lanjut Haekal, telah diubah menjadi lebih demokratis lewat Piagam Madinah.

Perubahan tatanan masyarakat itu ternyata membawa pengaruh besar. Seluruh Kota Madinah dan sekitarnya benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh penduduk yang multisuku dan multiagama itu.

Masing-masing pemeluk agama bisa menjalankan ajaran agamanya dengan tenang, tanpa takut adanya persekusi. Dari Madinah inilah Islam mulai menemukan kekuatannya.

Sepeninggalan Nabi SAW

Sekalipun Piagam Madinah kemudian dikhianati orang-orang Yahudi, prinsip-prinsip yang tertulis di dalamnya telah menyuburkan semangat umat Islam.

Tidak heran ketika akhirnya kelak Khalifah Abu Bakar menggantikan Nabi Muhammad SAW, Islam telah menyebar ke segenap penjuru Jazirah Arab. Seluruh Semenanjung sudah terhimpun di bawah panji-panji Islam.

Kesatuan politis pun dinyatakan sebagai bagian tak terpisahkan dari kesatuan religius. Maka pada saat itu tibalah waktunya bagi umat Islam melakukan dakwah ke Irak dan Syam. Inilah langkah awal pembentukan kemaharajaan Islam.

Seperti juga Abu Bakar, penggantinya Khalifah Umar bin Khaththab pun menerapkan prinsip-prinsip yang telah digariskan Rasulullah SAW.

Di masa Umar inilah kemaharajaan Islam semakin meluas. Menerobos hingga ke Persia, Mesir dan Palestina, selain Irak dan Syam.

Perlu dicatat, meskipun kemaharajaan Islam begitu meluas, tapi kaum Muslimin sesuai dengan prinsi Piagam Madinah tak pernah memaksa penduduk negara-negara tersebut agar memeluk Islam. Karena, sesuai prinsip Islam yang ditetapkan Alquran, tidak ada paksaan dalam beragama.

Setelah pengaruh Islam menyebar ke berbagai wilayah, terutama pada masa Khalifah Umar, kekhalifahan Islam pun semakin tegak.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kemaharajaan Islam itu kemudian bisa bertahan selama berabad-abad?

Mengapa berbagai pergolakan tidak sanggup meruntuhkan pengaruh dan peradaban Islam, tak seperti umpamanya kemaharajaan Iskandar Agung dan kekaisaran Mongol?.

Menurut Haekal dalam buku Pemerintahan Islam, sulit untuk menjelaskan dengan perinci sebab-sebab peradaban Islam tangguh melintasi zaman. "Namun, secara garis besar, saya dapat menunjukkan satu sebab yang sangat menentukan, yakni sesungguhnya orang-orang Arab terdorong berperang bukan pertama-tama untuk mendapatkan materi, tapi jauh lebih penting dari hal itu. Keyakinan bahwa mereka mengemban satu misi atau risalah yang harus disampaikan pada seluruh dunia demi kebaikan," jelas sejarawan Mesir itu.

Haekal menambahkan, keyakinan umat Islam yang demikian telah menegakkan kedaulatan wilayah Islam sehingga sampai bertahan berabad-abad.

Namun, lanjutnya, ketika keyakinan itu memudar, keretakan demi keretakan mulai merasuki sendi-sendi kemasyarakat Islam. Nasibnya pun akan sama seperti yang dialami pelbagai imperium sebelumnya, semisal Byzantium dan Parsia.

Bagi umat Islam, demikian Haekal, misi yang telah dipelopori Rasulullah SAW mereka anggap sebagai amanat untuk disampaikan kepada setiap manusia. Misi itu tidak lain adalah persaudaraan dan persamaan.

Mereka berpandangan, pada hakikatnya Tuhan seluruh manusia itu satu, Tuhan yang Esa. Di hadapan Tuhan Yang Satu, semua manusia adalah sama. Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non-Arab kecuali ketakwaannya kepada Tuhan.

Pada masa Rasulullah, prinsip-prinsip luhur itu tersebar luas di semenanjung Arab. Setelah menetap di negara-negara yang mereka tundukkan, kaum Muslimin mulai menerapkan prinsip-prinsip mulia tadi pada penduduk setempat.

Salah satu yang menjadi dasar kebijakan pemerintahan mereka adalah toleransi beragama. Mereka tidak memaksakan seorang pun di antara penduduk negara yang ditaklukkan agar memeluk Islam.

Mereka juga memberikan berbagai kebebasan yang sudah berlaku pada saat itu: kebebasan berpikir, kebebasan mengeluarkan pendapat, serta sejumlah kebebasan lainnya. Di samping itu mereka juga menghormati segala bentuk ibadah dan akidah. Sedangkan keadilan mereka jadikan sebagai dasar pemerintahan mereka.

Dalam menerapkan keadilan ini, tidak ada beda antara Muslim dan non-Muslim. Dengan sikap demikian, tidak heran banyak orang tertarik kepada Islam. Bukan hanya itu, mereka yang non-Muslim ini juga benar-benar menikmati berbagai kebebasan.

Hal ini tidak pernah mereka alami sebelumnya, baik di Romawi maupun di negeri Arab masa jahiliyah (pra-Islam). Itulah yang mendorong mereka berbondong-bondong masuk ke dalam lingkungan agama baru, Islam.

Mereka ingin ikut menikmati prinsip-prinsip kebebasan, persaudaraan, dan persamaan yang telah ditetapkan Islam.

Prinsip toleransi dan kebebasan juga diberlakukan Khalifah Umar bin Khaththab. Dikisahkan, di bawah kepemimpinan Umar, umat Islam berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 638 atau enam tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Khalifah pun mendirikan masjid di kota suci itu.

 

Sebelum berhasil ditaklukkan tentara Islam, Yerusalem dikuasai orang-orang Kristen yang telah memerintah di sana sejak masa Kaisar Constantin. Setelah kaum Nasrani itu menyerah, Umar diminta datang sendiri ke kota suci itu.

Dengan begitu, uskup Yerusalem mau menyerahkan kunci kota tersebut. Sehari-hari, uskup tersebut menjafa makam Kristus yang suci bagi kaum Nasrani di Yerusalem.

Ketika kunci sudah di tangan Umar, penduduk setempat kaget. Sebab, penampilan Khalifah bak orang biasa--tak ada pakaian sutra atau tanda-tanda kebesaran lainnya.

Uskup kemudian mengundang Umar untuk menunaikan shalat di dalam gereja utama kaum Kristen. Namun, Umar melihat bagian dalam ruangan gereja itu dihiasai berbagai simbol Kristen. Maka, dia dengan sopan mengatakan, "Saya akan shalat di luar pintu ini saja."

Selesai shalat, Uskup pun bertanya kepada Umar, "Mengapa Tuan tidak mau masuk ke gereja kami?"

"Jika saya sudah shalat di tempat suci kalian, para pengikut saya dan orang-orang yang datang ke sini pada masa mendatang akan mengambil-alih bangunan ini dan mengubahnya menjadi masjid. Untuk menghindari kesulitan-kesulitan itu dan agar tetap sebagaimana adanya (keadaan kaum Nasrani), maka saya shalat di luar."

Tindakan Khalifah Umar itu ternyata membuat kagum sang uskup terhadap agama Islam.

Begitu pula rakyat Palestina yang mengelu-ngelukan kedatangannya. Apalagi setelah kota suci itu diperintah Islam, mereka mendapatkan kebebasan. Mereka diperlakukan dengan baik. Hal itu cukup kontras bila dibandingkan saat diperintah Kaisar Constantin.

Prinsip-prinsip yang sama juga diterapkan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Ali bin Abi Thalib, misalnya, ketika menjadi khalifah menerapkan hukum terhadap penduduknya sesuai dengan agama yang mereka anut.

Menantu Nabi ini, dalam menerapkan keadilan di bidang hukum tidak pernah membedakan stutus sosial. Baik mereka yang punya kedudukan tinggi maupun rakyat jelata diberlakukan sama.

Bahkan, ia pernah menegur seorang hakim karena dalam suatu persidangan ia mendapatkan panggilan kehormatan Abu Hasan, sedangkan tertuduh seorang Yahudi dipanggil dengan nama biasa.

 Membasmi Feodalisme

Selanjutnya, hal serupa juga terhadi pada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Meskipun ia memerintah hanya dua tahun, keadilannya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam.

Tak lama setelah menjadi khalifah, Umar membasmi sistem feodalisme yang diterapkan dan dipraktekkan oleh Bani Umaiyah.

Baginya, sistem feodalisme bertentangan dengan ajaran Islam murni, yang memberlakukan manusia sama. Pembeda di antara manusia hanyalah derajat ketakwaan di hadapan Allah.

Beberapa tanah luas milik kerabatnya sendiri diberikannya kepada Baitul Maal yang dapat dinikmati rakyat luas.

Dalam masa pemerintahannya ia berhasil mengembalikan kepemimpinan Islam seperti yang dipraktekkan pada masa Nabi dan para Khulafaur Rasyidin. Di samping itu, Umar memerintahkan supaya menghentikan pemungutan pajak dari kaum Nasrani yang masuk Islam.

Dengan begitu berbondong-bondonglah kaum Nasrani memasuki agama Islam karena penghargaan mereka terhadap ajaran-ajaran Islam, dan juga karena daya tarik pribadi Umar bin Abdul Aziz sendiri.

Di antara kebijaksanaan Umar yang terpuji ialah, mengembalikan gereja kepada kaum Nasrani yang diambil alih oleh khalifah sebelumnya dan diubah menjadi masjid. Ketika Umar menjadi khalifah, dan orang Nasrani mengetahui bahwa Umar seorang yang adil, maka mereka menuntut supaya gereja mereka dikembalikan kepada mereka.

Umar membatalkan kebijakan khalifah sebelumnya yang telah menjadikan gereja menjadi sebuah masjid. Menurut pendapat Umar, apa yang dilakukan khalifah sebelumnya itu tidak adil karena bertentangan dengan toleransi agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, kaum Nasrani yang merasa hak-hak mereka tidak diabaikan, mengucapkan terima kasih kepada Umar.

Oleh Alwi Shahab