<
pustaka.png
basmalah.png

Jejak Peradaban Islam di Italia Selatan

Jejak Peradaban Islam di Italia Selatan

Fiqhislam.com - Islam memiliki sejarah yang panjang dengan Italia. Betapa tidak. Pada abad ke-9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai bagian selatan negara yang kini memiliki penduduk terbesar keenam di Eropa dan terpadat ke-23 di dunia itu.

Jejak peradaban Islam di Italia bagian selatan telah dimulai ketika Sicilia jatuh dalam genggaman kaum Muslim.  Peradaban Islam mulai bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid  atau Aghlabiyah di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukkan kekuasaan Bizantium.

Dinasti Aghlabid merupakan kerajaan Islam yang berada dalam lindungan Kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti itu  menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia, dan Tripoli.  Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia.

Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda, serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Secara resmi, Kota Palermo--ibu kota Sicilia--ditaklukkan umat Islam pada 831 M.

Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordoba. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah tempat bersemainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.

Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.

''Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengombinasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,'' papar Ibnu Jubair, seorang penjelajah Muslim, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia.

Periode kekuasaan Islam di Sicilia merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan. Pada era itulah masyarakat Sicilia merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menjelaskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania.

Umat Islam menguasai peradaban di Sicilia hingga 1061 M. Perdaban Islam di wilayah itu dikembangkan oleh sejumlah dinasti Islam, antara lain Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah (827 M - 909 M). Setelah itu, kekuasaan Islam di wilayah itu jatuh di tangan Dinasti Fatimiyah, sebuah kekhalifahan Islam bermadzhab Syiah yang berpusat di Mesir.

Kekuasaan atas Sicilia terlepas pada abad ke-11 M, ketika  wilayah itu dikuasai oleh Emirat Sicilia.  Pasukan  Emir Abu Al-Qasim (964 M - 982 M) terus digempur Bizantium. Kekuasaan Islam pun meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. Pada 1061 M, Sicilia pun lepas dari tangan umat Islam. Kehadiran peradaban Islam di Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat.  Sebab, dari wilayah itulah Barat mentransfer pengetahuannya dari dunia Islam.

 

Jejak Peradaban Islam di Italia Selatan

Fiqhislam.com - Islam memiliki sejarah yang panjang dengan Italia. Betapa tidak. Pada abad ke-9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai bagian selatan negara yang kini memiliki penduduk terbesar keenam di Eropa dan terpadat ke-23 di dunia itu.

Jejak peradaban Islam di Italia bagian selatan telah dimulai ketika Sicilia jatuh dalam genggaman kaum Muslim.  Peradaban Islam mulai bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid  atau Aghlabiyah di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukkan kekuasaan Bizantium.

Dinasti Aghlabid merupakan kerajaan Islam yang berada dalam lindungan Kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti itu  menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia, dan Tripoli.  Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia.

Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda, serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Secara resmi, Kota Palermo--ibu kota Sicilia--ditaklukkan umat Islam pada 831 M.

Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordoba. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah tempat bersemainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.

Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.

''Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengombinasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,'' papar Ibnu Jubair, seorang penjelajah Muslim, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia.

Periode kekuasaan Islam di Sicilia merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan. Pada era itulah masyarakat Sicilia merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menjelaskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania.

Umat Islam menguasai peradaban di Sicilia hingga 1061 M. Perdaban Islam di wilayah itu dikembangkan oleh sejumlah dinasti Islam, antara lain Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah (827 M - 909 M). Setelah itu, kekuasaan Islam di wilayah itu jatuh di tangan Dinasti Fatimiyah, sebuah kekhalifahan Islam bermadzhab Syiah yang berpusat di Mesir.

Kekuasaan atas Sicilia terlepas pada abad ke-11 M, ketika  wilayah itu dikuasai oleh Emirat Sicilia.  Pasukan  Emir Abu Al-Qasim (964 M - 982 M) terus digempur Bizantium. Kekuasaan Islam pun meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. Pada 1061 M, Sicilia pun lepas dari tangan umat Islam. Kehadiran peradaban Islam di Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat.  Sebab, dari wilayah itulah Barat mentransfer pengetahuannya dari dunia Islam.

 

Ekspedisi Dinasti-Dinasti Islam Taklukkan Italia Selatan

Ekspedisi Dinasti-Dinasti Islam Taklukkan Italia Selatan


Fiqhislam.com - Peradaban Islam mulai menguasai wilayah selatan Negeri Spageti itu, khususnya Sicilia, pada 15 Juli 827 M. Saat itu, Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad sedang menguasai dunia.

Adalah tentara Dinasti Aghlabid di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I yang berhasil menaklukkan Sicilia dari kekuasaan Bizantium. Dinasti Aghlabid merupakan sebuah kekhalifahan Muslim Arab yang menguasai Ifriqiyah yang meliputi Aljazair, Tunisia, dan Tripoli.

Untuk menaklukkan dominasi Bizantium di Sicilia, Dinasti Aghlabid perkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda, serta 100 armada kapal. Berbekal kekuatan penuh itulah, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran dahsyat di dekat Mazara.

Serangkaian pertempuran demi pertempuran dilalui pasukan Dinasti Aghlabid hingga akhirnya satu per satu kota di Sicilia sepenuhnya berhasil dikuasai umat Islam. Sejatinya, upaya penaklukan Italia Selatan telah dimulai sejak era Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus.

Ekspedisi penaklukan Sicilia oleh Kekhalifahan Umayyah terjadi pada 652 M. Saat itu, Khalifah Muawiyah I menugaskan Muawiyah ibnu Hudayj dari suku Kindah untuk memimpin penaklukan. Namun, upaya penaklukan itu belum berhasil.

Pada 669 M, pasukan tentara Islam kembali menyerang Sicilia. Sebanyak 200 kapal yang bergerak dari Alexandria, Mesir menggempur kekuatan Bizantium di Sicilia. Lagi-lagi, upaya itu belum membuahkan hasil.

Sejak Kekhalifahan Umayyah menguasai Afrika pada awal abad ke-8 M, pasukan tentara Islam sempat berkali-kali mencoba menaklukkan kekuasaan Bizantium di Sicilia. Ekspedisi itu terjadi secara berturut-turut pada 703, 728, 729, 730, 731, 733, dan 734 M.

Secara resmi, Kota Palermo-Ibu Kota Sicilia-ditaklukkan umat Islam pada 831 M. Sedangkan, Messina dikuasai pasukan Muslim, 12 tahun berikutnya. Sejak wilayah Enna berhasil direbut dari Bizantium pada 859 M, Provinsi Sicilia sepenuhnya berada dalam genggaman umat Islam.

Di bawah kekuasaan umat Islam, Sicilia menjadi provinsi yang multietnis. Beragam suku dan etnis, seperti orang Sicilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, Negro berbaur dalam toleransi dan keharmonisan. Tak ada pembantaian terhadap penduduk yang beragama Nasrani.

Penduduk Sicilia yang beragama Nasrani dilindungi dan dihormati kebebasannya dalam menjalankan aktivitas peribadatan. Penguasa Muslim hanya membebankan pajak kepada penganut agama Nasrani. Hak milik dan usaha mereka dilindungi penguasa Muslim.

Pun demikian terhadap warga Yahudi yang berada di kawasan kota pantai. Penguasa Muslim menghormati hak hidup dan melindungi kebebasan umat beragama lain dalam menjalankan ibadah. [yy/republika]

 

top