5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Kaum Madyan, Keturunan Nabi Ibrahim yang Menipu dalam Takaran dan Timbangan

Kaum Madyan, Keturunan Nabi Ibrahim yang Menipu dalam Takaran dan Timbangan

Fiqhislam.com - Allah SWT mengutus Nabi Syua'ib AS untuk kaum Madyan, kaum terdidik yang kebanyakan pedagang. Mereka terampil membuat rumah dengan cara menggali dan memahat gunung-gunung. Keterampilan ini mirip dengan kaum Tsamud, tempat Nabi Shaleh AS bertugas.

Sayang sungguh sayang, kaum Madyan amatlah jahat. Ibnu Katsir dalam bukunya "Al-Bidayah Wan-Nihayah" menjelaskan, kaum Madyan adalah sejahat-jahatnya manusia dalam pergaulan sehari-hari. "Mereka menipu dalam takaran dan timbangan. Mereka mengambil lebih dan membayar kurang," tulisnya.

Karena itulah Allah SWT mengutus Nabi Syuaib untuk membenahi akhlak mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran, “Dan (Kami telah mengutus) kepada Madyan saudara mereka Syuaib.” (QS al-Araf [7]: 85)

Prof Quraish Shihab di dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan Madyan pada mulanya adalah nama putra Nabi Ibrahim dari istri beliau yang ketiga yang bernama Qathura, yang beliau kawini pada akhir usia beliau.

Madyan kemudian kawin dengan putri Nabi Luth. Selanjutnya kata Madyan dipahami dalam arti satu suku keturunan Madyan putra Nabi Ibrahim.

Suku Madyan tinggal di pantai laut Merah sebelah tenggara gurun Sinai, yakni antara Hijaz, tepatnya di Tabuk, Saudi Arabia kini dan Teluk Aqabah. Menurut sebagian sejarawan, populasi mereka sekitar 25.000 orang.

Sedangkan Ibnu Katsir menyebut orang-orang Madyan adalah suku Arab yang tinggal di negara Ma’an, yang sekarang berada di sebagian wilayah Suriah Raya. Lokasi ini dekat dengan kaum Nabi Luth dulu dibinasakan.

Gua Syuaib Kaum Madyan terampil membuat rumah di lereng gunung dengan cara memahat dan menggali gunung berbatu itu. Konon, Nabi Syuaib juga memiliki tempat tinggal yang sama dengan yang dimiliki kaumnya, yaitu di gunung-gunung yang digali atau dipahat dan dijadikan rumah atau gua. Gua-gua Syuaib ini terkenal hingga saat ini dan dinamakan dengan Maghayir Syuaib (gua Syuaib).

Dalam buku berjudul "Situs-Situs dalam Al-Quran" karya Syahruddin El-Fikri disebutkan gua Syuaib ini terdapat di Bada' yang terletak sekitar 225 kilometer di sebelah barat daya Tabuk. Kawasan ini merupakan oase (wahana) kuno di Jazirah Arabia.

Ptolemus, seorang sejarawan Yunani, menamakan tempat itu dengan Al-Ainiyah. Di kawasan ini, juga terdapat peninggalan-peninggalan purba dari bangsa Nabatea dan lainnya, sebagaimana tertulis dalam ukiran-ukiran Lehyani.

Seruan Nabi Syuaib

Menurut Ibnu Katsir, kaum Madyan adalah orang-orang serakah yang tidak beriman kepada Allah dan menjalani kehidupan yang buruk. Mereka adalah orang-orang kafir. Suka mengganggu orang-orang yang sedang dalam perjalanan.

Dalam berdagang, mereka memberikan ukuran yang dikurangi, memuji barang-barang mereka melebihi nilai yang sebenarnya, dan menyembunyikan cacatnya. Mereka berbohong kepada pembeli, sehingga bisa dikatakan telah melakukan penipuan.

Nabi Syuaib menyeru Kaum Madyan untuk beribadah hanya kepada Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya. Nabi Syuaib melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Sebagian dari mereka beriman kepada Allah, namun kebanyakan dari mereka tetap dalam kekafiran.

Kaum Madyan juga diberi peringatan dengan kejadian yang menimpa kaum Nabi Luth di Kota Sodom. Akan tetapi, kebanyakan dari kaum Madyan tidak menyambut seruan kebenaran dari Nabi Syuaib.

Kemudian Nabi Syuaib berdoa untuk keburukan mereka, dan Allah tidak menolak doa para utusan-Nya, jika utusan-Nya meminta pertolongan dari kejahatan orang-orang kafir.

Akhirnya azab datang. Kaum Madyan dilanda gempa yang dahsyat, diperdengarkan kepada mereka teriakan yang sangat kuat, dan mereka ditimpa naungan yang disangka awan padahal siksa. Allah mengirim kepada mereka percikan-percikan dan lidah api, sehingga mereka hancur binasa. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]