5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Beda Takdir dengan Nasib

Beda Takdir dengan Nasib

Fiqhislam.com - Masalah takdir bahasan yang tak pernah henti dibahas dalam dunia Islam. Pembahasan ini sudah dibahas sejak dulu. Bahkan, ada banyak aliran yang mencul di dalam Islam, karena berbeda dalam memahami takdir.

Ada pemahaman yang sangat pasrah pada takdir, sehingga mengeyampingkan usaha. Ada yang sangat menolak takdir, dan memahami apa yang terjadi di dunia atas kuasa manusia. Ada pula pemahaman yang mencoba untuk menengahi kedua aliran.

Menurut Prof. Quraish Shihab, masalah takdir tidak pernah didiskusikan secara mendalam pada masa Nabi. Begitupun pada masa para sahabat. Memang ada pada masa Sayyidina Umar bin Khattab, satu atau dua orang bertanya tentang takdir kepadanya. Tapi Sayyidina Umar melarang untuk membicarakan persoalan ini.

Setelah Sayyidina Ali bin Abi Thalib meninggal, baru masalah takdir banyak dibicarakan. Karena penguasa baru menggunakan takdir sebagai dalih pembenaran. Mereka berkata, kuasa ini berjalan atas takdir Tuhan. Bahkan takdir dijadikan alasan untuk penganiayaan. Melihat kejadian ini, sebagian kelompok menolak legitamasi takdir. Mereka menganggap takdir tidak ada. Semuanya berjalan atas kuasa manusia.

Prof.Quraish Shihab menambahkan, Takdir itu secara bahasa artinya ukuran. Allah berfirman, segala sesuatu ada ukurannya. Dalam al-Qur’an dikatakan, Kullu Syai’in Khalaqnahu bi-Qadar. Allah menurunkan hujan misalnya, sesuai takarannya. Kalau terlalu banyak tiap turun hujan, pasti akan terjadi banjir. Semua sudah ditentukan dan diukur.

Supaya makin paham, Prof. Quraish mencontoh, ada dua mobil: satu mobil balap, satu lagi mobil rongsokan. Mobil balap kecepatannya bisa sampai 200, sementara mobil rongsokan hanya 70. Ketentuan atau takdir mobil balap adalah 200, tidak bisa melewati, dan dia bisa lari cepat selama tidak melewati 200. Begitu pun dengan mobil rongsongkan, tidak akan bisa lebih dari 70.

Ukuran yang sudah ditetapkan Allah untuk hamba-Nya adalah takdir, sementara hasil yang diterima adalah nasib. Takdir pada dasarnya tidak diketahui, sementara nasib adalah hasil yang dapat dilihat dan dirasakan. Karena tidak ada satupun manusia yang tahu akan nasibnya, maka Nabi SAW mewajibkan kita untuk selalu berusaha. Nabi SAW percaya semua ada ukurannya, tetapi tidak menjadikan beliau tidak bekerja. Beliau berjuang, berkorban, dan pada saat yang sama juga berdoa. [yy/islamico]

Hengki Ferdiansyah, Lc. MA
Alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneliti hadis dan studi keislaman kontemporer. Sekarang mengelola lembaga pengkajian hadis El Bukhori Institute