8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Pesan Terakhir

Pesan Terakhir

Fiqhislam.com - Seorang pemuda sekarat terbujur di hadapan Abu Qudamah as-Syami. Usai perang hebat, mujahid belia itu berpesan kepada salah satu sahabat Rasulullah SAW itu.

"Demi Allah, wahai pamanku. Jika Allah mengembalikan Tuan dalam keadaan selamat, tolong berikan pakaianku yang berlumur darah ini kepada ibuku yang miskin, ditinggal mati anaknya, dan bersedih hati. Berikan kepadanya agar ia tahu aku tidak menyia-nyiakan wasiatnya dan aku tidak takut menghadapi pasukan musyrik."

"Sampaikan salamku kepadanya. Sungguh Allah telah menerima hadiah yang telah engkau persembahkan. Paman, aku punya seorang adik perempuan. Ia berumur 10 tahun. Setiap kali masuk rumah, ia selalu menyambutku dan menyalamiku. Jika aku pergi, ia orang terakhir yang mengantar dan mengucapkan salam perpisahan kepadaku."

"Saat aku berangkat untuk berjihad, ia mengucapkan salam perpisahan. 'Demi Allah, kakakku, jangan pulang terlambat.' Jika tuan bertemu dengannya, sampaikan salamku untuknya. Sampaikan padanya, 'Saudaramu berpesan untukmu, Allah menjadi penggantiku untukmu hingga hari kiamat.'"

Anak muda itu pun tersenyum lalu berkata, "Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Janji-Nya benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Inilah apa yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan kepada kami. Mahabenar Allah dan Rasul-Nya," Dia pun syahid.

Pasukan Muslimin mengafani jasad pemuda ini dengan pakaiannya. Jenazahnya pun dikubur bersama jiwanya dengan tenang. Syuhada muda itu dididik oleh seorang janda miskin dari Raqqah yang menitipkan rambutnya kepada Abu Qudamah.

Kepangan rambut itu dititipkan karena besar nya rasa cinta ibunda terhadap jihad kaum Muslimin. Dia yang tak memiliki apa-apa menitipkan dua kepang rambut yang dilumuri tanah untuk dipasang di kuda Abu Qudamah. Dia pun sempat menitipkan anaknya yang tinggal di sebuah lahan peninggalan suaminya. Anak itu rajin berpuasa, shalat malam, dan menghafal Alquran. Dia pun mahir berkuda dan memanah. Tidak lain, anak itu adalah syuhada yang gugur berperang bersamanya.

Setibanya di Raqqah, Abu Qadamah pun singgah ke rumah sang syuhada muda. Dia diantar adik perempuan yang berusia 10 tahun. Ketika berdiri di hadapan rumah, perempuan itu keluar. Dia berkata, "Engkau membawa kabar gembira atau kabar duka, wahai Abu Qudamah?"

Dia balik bertanya, "Tolong jelaskan kepadaku maksud kabar gembira dan kabar duka ini?" Wanita ini menjawab, "Jika anakku kembali dalam keadaan selamat, engkau membawa kabar duka. Jika ia gugur di jalan Allah, engkau membawa kabar gem bira." Abu Qudamah pun berkata, "Berbahagialah! Allah telah menerima hadiahmu." Ia menangis lalu berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan putraku sebagai simpananku pada hari kiamat."

Kisah ibu dan syuhada belia merupakan satu dari berlembar-lembar cerita ke ikhlasan para salafus shalih. Ajakan berjihad tidak mereka anggap sebagai angin lalu. Kerinduan akan surga membuat segala aral dan rintang mereka lalui. Ke cintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya lebih dari jiwa dan raganya.

"Katakanlah (Muhammad). 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim)," (QS al-An'am: 162, 163).

Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziy dalam al-Fawa'id mengungkapkan, ada manusia yang melihat kehidupan hanya dengan dan bersama Allah, dan memandang kematian, kesakitan dan kema langan, dukacita dan kesedihan jika tidak bersama Allah. Dia akan memperoleh dua surga. Surga di dunia yang disegerakan dan surga pada hari kiamat.

Keikhlasan ibu dan anak untuk mengejar "hidup" bersama Allah itu hanya bisa dicapai dengan kualitas keimanan yang mumpuni. Tingginya iman mereka akan membuat semua imaji dunia adalah fana. Dunia hanya dijadikan media pengumpul bekal untuk perjalanan panjang ke akhirat. Wallahu a'lam. [yy/republika]