10 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 06 Oktober 2022

basmalah.png

Kewajiban Ridho Terhadap Qadha

Kewajiban Ridho Terhadap Qadha

Fiqhislam.com - Adapun dalil tentang kewajiban ridho menerima qadha adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim, ia menshahihkan hadits ini. Adz Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafadz hadits:

Dan aku meminta kepada-Mu ya Allah bisa ridho setelah menerima qadha.

Syara’ telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalah hadits dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku:
Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah arasy dan dari gudangnya Syurga, yaitu “ Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah“. Allah berfirman: Sungguh hambaku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku. (HR. Al-Hakim. Ia berkata: Hadits ini shahih isnadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak ditakhrij oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar berkata: Hadits ini telah ditakhrij oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat)

Haram Marah Terhadap Qadha dari Allah

Marah terhadap qadha dari Allah hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam Al-Dakhirah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah tersebut. Yang dimaksud dengan ijma ini adalah ijma para Mujtahid. Lafadz ijmanya adalah: Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijma. Al-Qirafi telah membedakan antara qadha dan Al-Maqdhi. Beliau berkata: Jika ada seseorang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai resiko dari tabiat suatu penyakit, maka hAl-seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak ridho terhadap qadha, melainkan disebut tidak ridho terhadap Al-maqdhi.

Jika ia berkata: Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini, dan apa dosaku. PadahAl-aku tidak layak mendapatkannya. Maka yang seperti ini disebut tidak ridho terhadap qadha bukan terhadap Al-maqdhi. Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadits dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar maka kesabaran bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR. Ahmad dan AT-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata : Isnad hadits ini baik)

Manusia Akan Ditanya

ridho dan Marah termasuk pekerjaan manusia. Karena itu manusia akan diberi pahala atas keridhoannya dan akan disisksa atas kemarahannya. Sedangka qadha sendiri tidak termasuk pekerjaan manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang terjadinya qadha, karena bukan termasuk pekerjaannya. Tetapi ia tetap akan ditanya tentang ridho dan marahnya terhadap qadha karena termasuk pekerjaannya. Allah berfirman:

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (TQS. An-Najm [53]: 39)

Penebus Dosa

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya, hadits dari Abdullah: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-kesalahannya kerana musibah itu. Sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih).

Hadits yang lain adalah dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
Satu duri atau yang lebih darinya yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih).

Hadits dari Abu Hurairah dan Abi Said dari Nabi saw., bersabda:
Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih).

Dalam bab ini terdapat juga hadits senada dari Saad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu Al-Ala, Abu bakar, Abdurrahman bin Azhar, Al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abu Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang shahih. Semuanya sampai kepada Nabi saw. (hadits marfu), yang isinya menyatakan bahwa “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadits dari Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya.

Dalam riwayat lain dikatakan:
Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya. Yang dimaksud dengan pahala di sisni adalah pahala atas keridhonnya terhadap qadha dari Allah, atas kesabaran, dan bersyukur serta tidak mengadukan musibahnya kecuali hanya kepada Allah.

Banyak sekali hadits yang menjelaskan batasan (Al-Qayid) ini. Di antaranya hadits riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan maka ia akan bersyukur. Maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesulitan maka ia akan bersabar. Maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali pada orang yang beriman.

Hadits riwayat Hakim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh Adz-Dzahabi dari Abi Darda ra., ia berkata aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah berfirman: Wahai Isa, sungguh aku akan mengirim suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang mereka sukai, maka mereka pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak mereka sukai, maka mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu. Isa berkata: Wahai Tuhanku bagaiman itu bisa terjadi? Allah berfirman: Aku memberikan kepada mereka sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku. Hadits riwayat At-Thabrani dengan isnad yang sehat dari cacat dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang ditimpa musibah dengan hartanya, atau dalam dirinya kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukannya kepada manusia maka Allah psti akan mengampuninya.

Hadits riwayat Bukhari dari Anas ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah swt. berfirman: Jika Aku menguji hambaku dengan (kematian) kekasihnya kemudian ia bersabar maka akan menggatinya dengan Syurga. Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Abi Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahnya di hari kiamat. [yy/kafemuslimah]