pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Shalat Berjamaah Live Streaming, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Fiqhislam.com - Shalat yang biasanya dilakukan berjamaah di masjid berubah selama pandemi virus corona. Ibadah sebaiknya dilakukan di rumah demi menekan risiko penularan COVID-19.

Di tengah kondisi ini, muncul ide shalat live streaming dengan mengikuti tayangan di YouTube, Instagram, atau medsos lainnya. Ibadah dilakukan layaknya shalat berjamaah yang dipimpin seorang imam dan ditayangkan live.

Bagaimana Islam menanggapi ide shalat live streaming?

Menurut Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr H Hasanuddin AF, MA, ada banyak pendapat yang menjelaskan hukum shalat live streaming. Salah satu hal yang patut diperhatikan saat shalat berjamaah adalah barisan atau saf.

"Yang namanya shalat berjamaah, barisan atau saf tidak boleh terputus meski jamaah meluber ke luar. Ketika ada sungai yang memutus barisan shalat jamaah maka ibadahnya tidak sah. Ini yang harus diperhatikan dalam shalat live streaming," kata Prof Hasanuddin.

Selain itu, tiap anggota barisan atau saf shalat harus saling bisa melihat gerakan saat beribadah. Fisik tiap anggota saf juga terlihat jelas saat shalat. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut sulit disebut shalat berjamaah.

"Jika kondisinya seperti itu maka lebih baik tidak usah shalat live streaming. Lebih baik shalat jamaah bersama keluarga atau melakukannya sendiri," kata Prof Hasanuddin.

Saf atau barisan saat shalat jamaah menentukan benar atau tidaknya seseorang saat beribadah. Hal ini ditegaskan Nabi Muhammad SAW dalam hadits yang dinarasikan Anas bin Malik.

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ ‏"‏‏.‏

Artinya: Rasulullah SAW berkata, "Luruskan barisanmu karena luruskan barisan penting untuk kesempurnaan dan benarnya ibadah." (HR Bukhari).

Hadist lain yang dinarasikan Abu Huraira juga menjelaskan pentingnya saf lurus tak terputus saat shalat. Jamaah juga wajib mengikuti imam saat shalat berjamaah.

عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏ "‏ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ‏.‏ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ‏.‏ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ، وَأَقِيمُوا الصَّفَّ فِي الصَّلاَةِ، فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ ‏"

Artinya: Rasulullah SAW mengatakan, "Seorang imam ditunjuk untuk diikuti. Jadi, jangan melakukan hal yang berbeda dengannya. Membungkuklah saat dia membungkuk dan katakanlah Rabbana-lakal hamd jika imam berkata Sami'a l-lahu liman hamidah. Saat imam sujud maka bersujudlah setelah dia dan saat dia duduk maka duduklah kalian semua. Luruskan barisan saat shalat, karena lurusnya barisan adalah yang membuah shalat benar dan sempurna." (HR Bukhari).

Terkait rapatnya barisan saat shalat berjamaah hingga bisa dilihat dari punggung imam, Rasulullah SAW juga telah menjelaskan dalam hadistnya. Hadist sahih ini diriwayatkan Anas.

قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِوَجْهِهِ حِينَ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ فَقَالَ ‏ "‏ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي ‏"

Artinya: Rasulullah SAW menghadapkan wajahnya pada kami saat akan berdiri shalat, sebelum mengucapkan takbir dia berkata, "Luruskan barisanmu dan isilah yang kosong, karena aku bisa melihatmu dari punggungku." (HR An-Nasa'i). [yy/news.detik]