pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Perlawanan Setan dan Mengenal Tipu Dayanya

Perlawanan Setan dan Mengenal Tipu Dayanya

Fiqhislam.com - Setan merupakan salah sosok yang tidak dapat kita lihat secara kasat mata. Dialah musuh bagi manusia. Dia yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam hal-hal yang di benci oleh Allah. Sehingga kita akan mendapatkan murka Allah. Oleh karena itu, jagalah diri kita dari segala godaan setan. Dan lindungilah diri kita dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Serta kita pun harus meminta kepada Allah agar kita dilindungi dari segala godaan setan yang terkutuk.

Al-Faqih berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, Abul Hasan Al Fira’ menceritakan kepada kami, Abu Bakr Ahmad bin Ishaq Al Jauzajani menceritakan kepada kami, Salamah menceritakan kepada kami dari Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Az Zuhri dari Shafiyah binti Jahsy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Setan itu mengalir di dalam (tubuh) manusia seperti mengalirnya darah.”

Al-Faqih berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, Abul Hasan Al Fira’ menceritakan kepada kami, Abu Bakr Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami, Salamah menceritakan kepada kami dari seorang yang menceritakannya dari Al Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas RA di dalam menafsirkan surah An Nas, yang artinya, “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia,” (QS. An-Nas: 1-6). Ibnu Abbas menyatakan bahwa setan itu masuk ke dalam hati jin sebagaimana masuk ke dalam hati manusia, lalu membisikkan kejahatan d hati mereka; di mana apabila mereka berdzikir kepada Allah, maka setan itu lari dan keluar dari hati mereka.
Diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Aku diutus berseru dan menyampaikan (risalah), dan sama sekali aku tidak mempunyai hak untuk memberikan hidayah (petunjuk). Dan iblis itu diciptakan untuk membujuk, dan sama sekali tidak mempunyai hak untuk menyesatkan.”

Maksudnya, iblis hanya menggoda untuk melakukan maksiat dan tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, setiap orang harus bersungguh-sungguh untuk menolak bisikan iblis yang ada pada dirinya dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melawan ajakan musuhnya itu, karena Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh,” (QS. Fatir: 6).

Orang yang berakal sehat harus mengetahui mana kawan dan mana lawan, lalu mengikuti kawan dan meninggalkan lawan.

Dikatakan bahwa tanda orang bodoh itu ada 4, yaitu:

1. Marah tanpa sebab.

2. Mengikuti hawa nafsu dalam hal yang bathil.

3. Membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak penting.

4. Tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan, artinya ia lebih senang mematuhi ajakan setan daripada mematuhi perintah Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Pantaskah kamu menjadikan dad an keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zhalim,” (QS. Al-Kahfi: 50).

Tanda orang yang berakal sehat juga ada 4, yaitu:

1. Sabar terhadap orang bodoh.

2. Menhan diri dari yang bathil.

3. Membelanjakan harta untuk hal-hal yang penting.

4. Bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

Diceritakan dari Wahb bin Munabbih bahwasanya ia berkata, “Iblis menemui Yahya bin Zakaria AS lalu Yahya berkata kepadanya, ‘Beritahukanlah kepadaku tentang macam-macam tabi’at manusia menurut pendapatmu.’ Iblis berkata, ‘Sebagian di antara mereka seperti kamu yaitu ma’shum (terjaga dari melakukan perbuatan dosa), di mana kami tidak mampu menggodanya sedikit pun. Kelompok yang kedua berada di tangan kami seperti bola pada tangan anak-anak, di mana nafsu mereka menurut apa kehendak kami. Sedangkan kelompok yang ketiga, maka itu merupakan kelompok yang paling berat bagi kami, di mana kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menggodanya sehingga kami dapat menggodanya, akan tetapi buru-buru ia membaca istighfar, sehingga sia-sialah apa yang telah kami dapatkan itu. Akan tetapi kami tidak pernah berputus asa, namun tidak pernah berhasil mencapai apa yang kami inginkan untuk menggodanya’.”

Salah seorang cendekiawan berkata, “Saya merenung dan berpikir dari pintu mana setan dapat masuk pada manusia, ternyata setan itu masuk malalui sepuluh pintu, yaitu:

1. Rakus dan buruk sangka, lalu saya menghadapinya dengan percaya dan qana’ah. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semuanya di jamin Allah rezekinya,’ (QS. Hud: 6).

Maka rakus dan buruk sangka itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

2. Ingin hidup terus dan panjang angan-angan, lalu saya menghadapinya dengan datangnya kematian secara mendadak. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati,’ (QS. Luqman: 34).

Maka ingin hidup terus dan panjang angan-angan itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

3. Ingin bahagia terus dan nikmat yang berkecukupan, lalu saya mengetahui dengan hilangnya nikmat dan beratnya hisab, kemudian saya ambil untuk memperkuat pendapat itu. Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Biarkan mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya),’ (QS. Al-Hijr: 3).

Dan juga ayat, ‘Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang diancam kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan,’ (QS. Asy-Syu’ara: 205-207).

Maka keinginan untuk ingin bahagia sejahtera dan nikmat yang berkecukupan itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

4. U’jub (membanggakan diri sendiri), lalu saya menghadapinya dengan mengingat karunia Allah dan takut terhadap akibat. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia,’ (QS. Hud: 105).

Saya tidak tahu akan masuk dalam kelompok yang mana, maka u’jub itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

5. Meremehkan teman dan tidak menghormati mereka, lalu saya menghadapinya dengan mengenal hak mereka dan menghormati mereka. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin,’ (QS. Al-Munafiquun: 8).

Maka meremehkan teman dan tidak menghormati mereka saya patahkan dengan ayat tersebut.

6. Dengki (iri hati), lalu saya menghadapinya dengan keadilan dan pembagian Allah terhadap makhluk-Nya. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Kamilah yang menentukanpenghidupan mereka dalam kehidupan di dunia,’ (QS. Az-Zukhruf: 32).

Maka rasa dengki itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

7. Riya’ dan ingin dipuji orang lain, lalu saya menghadapinya dengan ikhlas. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, ‘Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, ‘Maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya,’ (QS. Al-Kahfi: 110).

Maka riya’ ingin dipuji orang lain itu saya patahkan dengan ayat tersebut.

8. Kikir, lalu saya mengahadapinya dengan ingat kebiasaan apa yang ada pada tangan manusia, dan kekekalan apa yang ada pada sisi Allah. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal,” (QS. An-Nahl, 16: 96).

9. Sombong, lalu saya menghadapinya dengan rendah hati. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, “Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa,” (QS. Al-Hujurat, 49: 13).

10. Tamak, lalu saya menghadapinya dengan tidak mengharap kepada sesame manusia dan berharap kepada Allah. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ayat manakah yang bisa saya ambil untuk memperkuat pendapat itu?’ Lalu saya menemukan firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” (QS. Ath-Thalaq, 65: 2-3).

Diceritakan dalam salah satu riwayat bahwasanya iblis, semoga Allah mengutuknya, mendatangi Nabi Musa as. Yang sedang bermunajat kepada Tuhannya, lalu malaikat bertanya kepada iblis, “Apa yang kamu harapkan dari Musa, sewaktu ia sedang bermunajat?” Iblis menjawab, “Aku mengharapkan daripadanya seperti apa yang aku harapkan dari ayahnya Adam, sewaktu ia berada di dalam surga.”

Dikatakan bahwa apabila waktu shalat tiba, maka iblis memerintahkan pasukannya untuk menyebar dan mendatangi orang-orang untuk melalaikan shalat, di mana setan mendatangi orang yang hendak shalat untuk mengulur-ulur waktu shalat. Jika ia tidak mampu untuk menggodanya yang demikian itu, maka ia mengganggu orang itu supaya tidak menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan, tasbih, do’a-do’anya. Jika ia tidak mampu untuk menggoda yang demikian itu, maka ia menggoda hatinya untuk selalu mengingat-ingat dunia. Apabila setan tidak berhasil menggoda manusia dalam hal yang demikian itu, maka setan itu diikat dan dibuang ke laut, dan apabila setan itu berhasil, maka dimuliakan dan disanjung-sanjung.

Allah Ta’ala menceritakan tentang tingkah laku iblis itu melalui firman-Nya, “Pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur,” (QS. Al-‘Araf, 7: 16-17).

Pada ayat yang lain, Allah berfirman, “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga,” (QS. Al-‘Araf, 7: 27).

Pada ayat yang lain, Allah berfirman, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir),” (QS. Al-Baqarah, 2: 268).

Pada ayat yang lain, Allah berfirman, “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh,” (QS. Fathir, 35: 6).

Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa setan itu merupakan musuh bagi manusia dan selalu berusaha untuk menyesatkan manusia agar sama-sama terseret ke dalam neraka. Oleh karena itu, setiap orang yang berakal sehat wajib untuk bersungguh-sungguh di dalam melawannya supaya dirinya bisa selamat daripadanya, karena selain itu adalah musuh yang jelas bagi orang-orang yang beriman. Selain dari setan, orang mukmin itu juga mempunyai musuh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. dari Nabi saw., bahwasanya beliau bersabda:

“Orang yang beriman itu berada di antara lima kesulitan, (yaitu: orang mukmin yang dengki kepadanya, orang munafik yang membencinya, musuh yang memeranginya, setan yang menyesatkannya, dan nafsu yang menyelewengkannya).”

Maksudnya nafsu yang cenderung untuk berbuat kesesatan dan penyelewengan. Maka setiap muslim harus mohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dikuatkan untuk menghadapi musuh-musuhnya dan diberi kemampuan untuk mengerjakan apa yang diridhai Allah, dan semuanya itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.

Shalih meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdur Rahman bin Ziyad bin An’am, di mana ia berkata, “Sewaktu Nabi Musa as. sedang duduk, tiba-tiba iblis datang dengan memakai topi yang berwarna-warni, dan ketika ia dengan Nabi Musa as. ia membuka topinya dan mengucapkan salam, lalu Nabi Musa as. bertanya, ‘Siapakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Saya iblis.’ Nabi Musa as. bertanya, ‘Kenapa kamu datang kemari?’ Ia menjawab, ‘Untuk memberi selamat kepadamu atas kedudukanmu di sisi Allah.’ Nabi Musa as. bertanya, ‘Untuk apa topi yang kamu bawa itu?’ Ia menjawab, ‘Untuk mengelabui manusia.’ Nabi Musa as. bertanya, ‘Beritahukanlah kepadaku dosa apakah yang dilakukan oleh manusia, maka kamu akan menguasainya?’ Ia menjawab, ‘Apabila manusia itu berbangga dengan bercampur sombong atas dirinya sendiri, merasa amalnya banyak, dan lupa pada dosanya, maka disaat itulah saya dapat menguasainya’.”

Diceritakan dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya ia berkata: Allah Ta’ala memerintahkan iblis untuk mendatangi Nabi Muhammad saw. untuk menjawab apa yang beliau tanyakan, kemudian iblis itu datang dengan menyerupai orang tua yang bertongkat; lalu terjadilah dialog berikut ini:

“Nabi saw. bertanya kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Ia menjawab, ‘Saya adalah iblis.’ Beliau bertanya, ‘Kenapa kamu datang?’ Iblis menjawab, ‘Allah memerintahkan saya untuk datang kepadamu dan menjawab apa yang ingin engkau tanyakan kepadaku.’ Nabi saw. lalu bertanya, ‘Wahai makhluk yang terkutuk, ada berapa kelompok musuh-musuhmu dari umatku?’ Iblis menjawab, ‘Ada lima belas, yang pertama adalah engkau, kedua pemimpin yang adil, ketiga orang kaya yang rendah hati, keempat pedagang yang jujur, kelima orang yang pandai (alim) yang tenang pembawaannya, keenam oang mukmin yang suka memberi nasihat, ketujuh orang mukmin yang murah hati, kedelapan orang yang bertaubat yang tetap pada taubatnya itu, kesembilan orang yang benar-benar menjaga diri dari yang haram, kesepuluh orang mukmin yang selalu berada dalam keadaan suci, kesebelas orag mukmin yang banyak shadaqahnya, kedua belas orang mukmin yang berbaik budi kepada sesama manusia, ketiga belas orang mukmin yang banyak bermanfaat bagi sesame manusia, keempat belas orang yang pandai al-Qur’an yang selalu membacanya, dan kelima belas adalah orang yang biasa mengerjakan shalat di waktu malam sewaktu orang-orang lain sedang tidur.’ Kemudian Nabi saw. bertanya, ‘Siapakah teman-temanmu dari umatku?’ Iblis menjawab, ‘Ada sepuluh, yang pertama adalah penguasa yang zhalim, kedua orang kaya yang sombong, ketiga pedagang yang curang, keempat orang yang meminum-minuman keras, kelima orang yang suka menyebarkan fitnah, keenam orang yang berbuat zina, ketujuh orang yang memakan harta anak yatim, kedelapan orang yang meremehkan shalat, kesembilan orang yang tidak mengeluarkan zakat, dan kesepuluh adalah orang yang panjang angan-angan. Mereka itulah teman-teman dan saudara-saudaraku’.”

Diceritakan dalam salah satu riwayat bahwa pada masa Bani Isra’il ada seorang ahli ibadah yang bernama Birshish. Ia sangat tekun beribadah, selalu berada di tempat ibadahnya, dan do’anya mustajab, sehingga banyak orang datang ke sana dengan membawa orang-orang yang sakit untuk dimintakan do’a, di mana setelah ia berdo’a, orang yang sakit itu sembuh.

Iblis lalu memanggil setan-setan dan berkata, “Siapakah di antara kamu yang bisa menggoda orang ini, karena ia telah merepotkan kamu sekalian.” Setan yang bernama ‘Ifrit berkata, “Aku yang akan menggodanya, bila aku tidak berhasil, maka janganlah kamu menghormati aku lagi.” Iblis lalu berkata, “Pergilah sekarang juga,” maka setan itu pergi mendatangi salah seorang Bani Isra’il yang mempunyai anak gadis yang sangat cantik.

Waktu itu gadis tersebut sedang duduk-duduk bersama ayah, ibu dan saudara-saudaranya, tiba-tiba ia berubah akalnya seperti orang gila. Setelah beberapa hari tidak sembuh-sembuh, lalu setan dengan menyamar sebagai manusia datang kepada sang raja dan berkata, “Jika kamu ingin menyembuhkan anakmu yang sedang sakit ingatan itu , maka datanglah kepada pendeta Birshish supaya dido’akan dan disembuhkan olehnya.” Kemudian keluarga raja itu mengantarkan putrid itu ke rumah Birshish, dan setelah dido’akan olehnya, maka penyakit itu hilang. Akan tetapi sewaktu sampai di istana, penyakit itu kambuh lagi, lalu setan datang lagi dan berkata, “Jika kamu menginginkan anakmu sembuh benar, maka biarkanlah ia menginap di rumah pendeta itu beberapa hari.” Maka keluarga raja pun mengantarkan ke sana untuk menitipkannya pada Birshish, akan tetapi Birshish menolaknya. Namun setelah sang raja itu memaksanya, maka dengan terpaksa Birshish mau menerimanya.

Pendeta itu selalu berpuasa di siang hari dan shalat sunnah di malam hari. Setan tidak membiarkan untuk menjerumuskan Birshish melalui putri tadi. Suatu saat ketika si pendeta itu sedang duduk untuk makan, setan membukakan aurat putri tadi, lalu pandangan Birshish terpana melihatnya, sehingga hari-hari berikutnya Birshish benar-benar mengakui kecantikan putri itu, dan hatinya pun tergerak untuk berbuat mesum dengannya, maka akhirnya Birshish melakukan perbuatan yang terkutuk itu sampai si putri hamil.

Kemudian setan membisiki hati Birshish, “Kamu sudah menghamilinya, dan kamu pasti tidak akan bisa terlepas dari hukuman sang raja, kecuali jika kamu membunuh dan mengubur putri itu di bawah tempat ibadahmu. Dan jika keluarga raja menanyakan kepadamu, maka katakanlah bahwa putri itu telah mati, tentu mereka akan percaya.” Lalu si pendeta itu menyembelih dan mengubur putri itu seperti bisikkan setan tadi.

Kemudian keluarga raja menyakan keadaan putrinya kepada Birshish dan dijawab bahwa ia telah mati, maka mereka pun percaya dan langsung pulang. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Birshish memberitahukan bahwa putri itu telah sembuh dan pulang sendiri, maka mereka pun percaya dan pulang. Akan tetapi setelah sampai di istana, putri itu tidak ada, maka mereka mencari ke sana ke kemari, lalu setan memberitahukan kepada mereka bahwa putri itu diperkosa oleh Birshish lalu hamil, dan karena ia takut, maka putri itu disembelih lantas dikuburkan di tempat ibadahnya.

Maka sang raja mengajak pasukan datang ke rumah pendeta itu, lalu menggali kubur itu dan ternyata putrinya memang disembelih. Mereka lantas menggantung Birshish, dan disaat itu setan datang kepadanya dan berkata, “Akulah yang mendalangi semua ini, dan aku masih bisa menyelamatkan kamu dengan memberitahukan kepada mereka pasti akan percaya kepadaku, akan tetapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi yaitu kamu sujud kepadaku satu kali saja.” Birshish lalu bertanya, “Bagaimana aku bisa sujud kepadamu dalam keadaan seperti ini?” Setan menjawab, “Kamu cukup menganggukkan kepala.” Maka Birshish pun menganggukkan kepala tanda sujud kepada setan, akan tetapi setelah itu setan berkata, “Aku lepas tangan dari apa yang telah kamu lakukan.”

Di dalam al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, “Seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu!’ Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka kesudahan bagi keduanya, bahwa keduanya masuk ke dalam neraka, kekal di dalamnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang zhalim,” (QS. al-Hasyr: 16-17).

Al Faqih memberitahukan bahwa manusia di dunia ini mempunyai empat musuh yang masing-masing membutuhkan perjuangan untuk mengalahkannya, keempat hal itu adalah:

1. Dunia, di mana ia merupakan bujukan dan tipu daya. Allah Ta’ala berfirman, “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (QS. Ali Imran: 185).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kehidupan dunia, dan janganlah sampai kamu terperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah,” (QS. Luqman: 33).

2. Hawa nafsunya sendiri, dan ini merupakan musuh yang paling jahat.

3. Setan.

4. Setan manusia. Hati-hatilah terhadap setan manusia karena ia lebih berbahaya daripada setan jin, karena setan jin itu menggoda dengan bisikan, sedangkan setan manusia yaitu teman yang jahat, menggoda dengan langsung bertatap muka dan terang-terangan, di mana ia selalu berusaha untuk membujuk kamu.

Syaddad bin Aus ra. meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Orang yang sempurna akalnya adalah orang yang memperhitungkan nasib dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati, sedangkan orang yang lemah (bodoh) adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan untuk mendapatkan ampunan dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.”

Diriwayatkan dari Isa bin Maryam as., bahwasaya beliau berkata, “Bukanlah keajaiban itu (dengan mengetahui) dari orang yang rusak sebagaimana ia rusak, akan tetapi keajaiban itu dari orang yang selamat begaimana ia bisa selamat.”

Sesungguhnya surga itu dikelilingi dengan perbuatan-perbuatan yang tidak disukai, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan perbuatan-perbuatan disukai, dan bahwa pada setiap manusia ada setan yang selalu membisik-bisiki untuk melakukan kejahatan dan ada malaikat yang selalu mengajak untuk melakukan kebaikan. Setan selalu berusaha untuk merayu dan membujuk, dan malaikat selalu berusaha untuk melarang perbuatan yang tidak baik, maka tergantung jiwa seseorang untuk menentukan sikapnya. Namun, alangkah lebih baiknya kita menjaga jiwa kita agar selalu berada dalam kebaikan. Dengan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

yy/islampos.com
Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin 2
Karya: Abu Laits As Samarqandi
Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang