13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Waspadai HTLV dalam ASI Donor

Fiqhislam.com - ASI memang merupakan cairan hidup dan makanan terbaik bagi bayi, tapi sayangnya ASI juga bisa menularkan berbagai virus.

Waspadai HTLV dalam ASI DonorBeberapa virus yang terdeteksi dalam ASI yaitu HIV-1, Hepatitis B, cytomegalivirus (1:100), west nile virus, dan human T-cell lymphotropic virus (HTLV) 1 dan 2. Semua virus itu cukup dikenal di masyarakat, tapi ada satu yang masih awam diketahui yakni HTLV.

Maka itulah, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS tidak merekomendasikan pemberian ASI donor yang tidak melalui skrining. Lalu apa itu HTLV? Virus HTLV 1 dan 2 menginfeksi sel spesifik di dalam tubuh sebagai limfosit, salah satu jenis leukosit. HTLV dapat disebarkan melalui kontak erat dengan individu yang terinfeksi, termasuk menggunakan jarum suntik secara bergantian di antara pecandu obat, ASI dari ibu terinfeksi, kontak seksual dengan orang terinfeksi, dan transfusi darah sebelum 1988.

"Indonesia belum ada saran dan fasilitas untuk menidentifikasi virus ini karena terhambat biaya. Namun, hal ini bisa diatasi dengan pasteurisasi pretoria yakni cara mudah mematikan HIV dan HTLV," kata Rosalina D Roeslani, Satgas ASI IDAI dalam Seminar IDAI tentang ASI di kantor IDAI, Matraman, Jakarta Pusat, Rabu (1/8).

Ia menjelaskan kasus HTLV-1 paling banyak ditemukan di negara Jepang bagian selatan, beberapa negara Karibia, beberapa negara Afrika dan Amerika Selatan seperti Brasil, Kolumbia, Peru, dan Cile. Kemudian, Papua Nugini, Timur Tengah, dan Melanesia. "Sayangnya belum ada data tentang kasus penyakit ini di Indonesia karena tidak ada sarana laboratorium."

Hingga kini, belum ada pengobatan yang mengeliminasi virus ini pada mereka yang telah terjangkit, hanya ada beberapa pengobatan yang meringankan gejalanya. Paling tidak, virus ini bisa dicegah dengan menghindari penggunaan obat intravena, kontak seksual tak aman, dan ASI dari ibu yang terinfeksi.

mediaindonesia.com

 

Donor ASI Terhambat Agama, Dana, dan Fasilitas

ASI donor atau air susu yang didonorkan memang masih belum lumrah dipraktikkan di Indonesia karena masih banyaknya pertanyaan dan kontroversi yang beredar.

Misalkan saja tentang penyakit yang bisa ditularkan dan dari sisi agama mengenai saudara sepersusuan. Maka itulah, Ikatan Dokter Indonesia berusaha mengatasi hal tersebut melalui panduan berupa informasi yang tepat mengenai ASI donor.

Ketua Sentra Laktasi Indonesia dr Utami Roesli menyatakan bahwa hal tersebut memang merupakan tanggung jawab pemerintah dalam memberikan panduan yang tepat mengenai pemberian ASI donor. Ia pun menekankan, Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur hal tersebut, tepatnya Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif yang juga mengatur pendonor ASI. Dalam Pasal 11 ayat (1) yang dimaksud dengan 'pendonor ASI' adalah ibu yang menyumbangkan ASI kepada bayi yang bukan anaknya.

Kala disinggung mengenai hambatan ASI donor di Indonesia dalam Seminar Ikatan Dokter Anak Indonesia  (IDAI) tentang ASI di kantor IDAI, Matraman, Jakarta Pusat, Rabu (1/8), Dr Utami bertutur,"Sebab itu, pemerintah sebaiknya menggunakan sistem matriks dengan melibatkan para ulama agama sehingga dapat diketahui siapa saudara sepersusuannya. Bagaimana dan siapa saja yang tak boleh menikah."

Setali tiga uang, Ketua Indonesian Pedriatic Society Badriul Hegar MD PhD menekankan kembali pentingnya panduan secara nasional. "ASI adalah impian yang harus diwujudkan. Sambil kita menunggu proses resmi yang tengah diupayakan pemerintah, tak ada salahnya untuk membuat sebuah panduan nasional mengenai tahapan pemberian ASI donor, mulai dari skrining hingga pasteurisasi." Dengan begitu, ujarnya, masyarakat memiliki pilihan mereka sendiri. Selain itu, ia juga menyarankan memanggil para ulama agama dalam penyusun panduan. "Supaya semuanya merasa nyaman dan semua pihak memiliki kesepakatan dan pandangan yang sama mengenai pemberian ASI donor ini, tidak berbeda-beda."

Pada kenyataannya memang Rosalina D Roeslani, Satgas ASI IDAI, menyebutkan ada tiga poin faktor hambatan pemebrian ASI donor di Indonesia yaitu agama, dana, dan fasilitas. "Di RSCM, pendonor ASI benar-benar didata secara rinci. Misalkan ASI ibu A untuk bayi siapa saja. Lagi pula pemberian ASI donor tidaklah banyak hanya 1-2 cc. ASI donor bukanlah nutrisi, melainkan sebagai obat. Kami pun tidak terlalu banyak menerima ibu pendonor."

Rosalina pun berpendapat pemahaman tentang saudara sepersusuan juga masih simpang siur di Indonesia. "Ada yang bilang jadi saudara kalau 5 kali kenyang atau harus disusui langsung, jadi belumlah jelas."

Sementara itu, Dr Minarto MPS, Direktur Bina Gizi, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, "Praktik ASI donor haruslah dilakukan dengan prosedur yang tepat dengan memastikan bahwa ASI tersebut benar-benar aman dan sehat. Pemerintah pun mendukungnya, tapi memang masih ada kendala seperti ketidakpastian dari aspek kesehatan dan budaya. Ini memang hal yang sensitif. Maka itulah kami juga melibatkan para ulama dalam menentukan prosedurnya. Kementerian Kesehatan pun tengah gencar memproses segala prosedur ini bersama para ahli agama."

mediaindonesia.com