13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Memahami Autisme Serta Terapi Penyembuhannya

Memahami Autisme Serta Terapi PenyembuhannyaFiqhislam.com - Para ilmuwan mengklaim telah menemukan penyebab mengapa anak yang mengidap autisme tidak mau disentuh atau dipeluk, bahkan oleh orangtuanya sendiri.

Jawaban ini diperoleh setelah para ilmuwan meneliti pengidap sindrom Fragile X. Ini merupakan penyakit genetik yang kerap dikaitkan dengan autisme. Sindrom tersebut juga dikenal sebagai penyebab utama retardasi mental dan kesulitan belajar yang bersifat turun-temurun.

Hasil riset menunjukkan, Fragile X menyebabkan tertundanya perkembangan sensor pada bagian otak yang disebut korteks, yang berfungsi merespons sentuhan. Efek domino yang dipicu oleh tertundanya perkembangan ini menyebabkan hubungan di antara sel otak menjadi terganggu.

Fragile X disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X perempuan yang mempengaruhi pembentukan sinaps, jaringan penting yang menghubungkan sel-sel saraf dalam otak. Oleh karena anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, mereka menjadi lebih rentan dipengaruhi sindrom ini ketimbang perempuan. Adapun pada perempuan yang memiliki dua kromosom X, pengaruhnya tidak akan terlalu besar kalaupun salah satu kromosomnya terganggu. Anak laki-laki secara umum memang lebih rentan mengidap autisme ketimbang perempuan.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Neuron, para ilmuwan Amerika Serikat melakukan riset pada tikus yang mengidap Fragile X. Dari riset ditemukan bahwa mutasi yang terjadi pada tikus ini menghalangi produksi sejenis protein yang berkaitan langsung dengan protein pembentuk sinaps. Ini berarti bahwa perkembangan sinaps tertunda pada sensor korteks.

"Ada periode kritis dari perkembangan akhir ini karena otak menjadi sangat plastik dan berubah menjadi sangat cepat. Semua elemen dari perkembangan yang cepat ini seharusnya terkoordinasikan sehingga otak menjadi terhubung dengan benar dan berfungsi semestinya," ungkap pimpinan riset, dr Anis Contractor, dari Northwestern University.

Menurut dr Contractor, mereka yang mengidap sindrom ini mengalami gangguan perabaan (tactile defensiveness), menjadi cemas, dan sering menarik diri dari hubungan sosial. Mereka tak mau menatap mata orang lain, tak mau dipeluk oleh orangtuanya, serta sangat sensitif terhadap sentuhan dan suara.

"Semua ini menyebabkan kecemasan bagi keluarga dan teman-teman sebagimana halnya dengan pasien Fragile X sendiri. Kini kami memahami, untuk pertama kalinya, apa yang salah dengan otak mereka," paparnya.

Banyak orang yang menyebut gangguan autistik tidak dapat disembuhkan dan hanya bisa disembuhkan sedikit lewat berbagai terapi. Namun terapi yang dilakukan sedini mungkin, yakni saat anak berusia 18 bulan, ternyata menunjukkan perkembangan yang pesat. Bahkan, pada anak autis ringan, tingkat kecerdasannya bisa sama dengan anak normal.

Mencurigai adanya gejala autisme memang tidak mudah. Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat tentu dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Namun para ahli menyarankan agar orangtua tidak mengabaikan setiap gejala austis yang muncul pada anak.

Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 48 anak di Amerika Serikat menunjukkan, terapi perilaku yang diterima anak saat berusia 18 bulan selama 2 tahun menunjukkan perkembangan yang pesat. Anak-anak berusia 18-30 bulan tersebut secara acak menerima terapi "Early Start Denver" dan sisanya menerima terapi yang kurang komperhensif.

Terapi yang disebut Early Start Denver itu difokuskan untuk mengembangkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi anak. Misalnya saja, terapis atau orangtua secara berulang mendekatkan mainan di dekat wajah anak untuk merangsang anak melakukan kontak mata. Atau, orangtua memberi hadiah bila anak menggunakan kata saat meminta mainan.

Anak-anak tersebut melakukan terapi selama 4 jam, lima hari dalam seminggu, ditambah minimal 5 jam terapi pada akhir pekan dari orangtuanya. Setelah dua tahun, tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak itu rata-rata naik 18 poin dibandingkan dengan anak dari kelompok terapi lain.

Selain IQ, kemampuan berbahasa anak juga berkembang pesat. Ashton Faller adalah salah satu anak yang menerima terapi ini sejak ia berusia dua tahun. "Sebelumnya ia tak bisa mengucapkan satu kata pun, tak pernah kontak mata, dan selalu menyendiri," kata Lisa Faller, ibunya.

Setelah dua tahun menerima terapi Early Start Denver ini, kini Asthon yang sudah berusia 6 tahun bersekolah di sekolah umum, meski masih mengalami sedikit keterlambatan keterampilan sosial. "Tak ada orang yang percaya ia autis," kata Faller.

medicinenet | suaramedia.com