21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Fidhah Al-Nabawiyyah, Pelayan Anak Nabi Muhammad yang Setia Membela Islam

Fidhah Al-Nabawiyyah, Pelayan Anak Nabi Muhammad yang Setia Membela Islam

Fiqhislam.com - Salah satu anak Nabi Muhammad SAW, yakni Fatimah Az-Zahra, memiliki pelayan yang amat loyal terhadapnya. Mulianya, pelayan tersebut tak hanya loyal terhadap ahlu bait dan Fatimah saja, namun juga dia amat terkenal atas keteguhannya dalam beribadah dan berjuang di jalan Allah.

Dalam buku Ensiklopedia Wanita Alquran karya Imad Al-Hilali dijelaskan, dia adalah Fidhah Al-Nabawiyyah Al-Mishriyyah. Pelayan perempuan Fatimah Az-Zahra yang sekaligus seorang sahabat terpandang, terhormat, dan terkenal kedudukan dan keutamannya dalam hal beribadah. Dia juga merupakan pribadi yang gemar bertahajud serta mendalami ilmu-ilmu agama.

Pelayan wanita yang berasal dari Mesir ini juga dikenal memiliki simpanan eliksir (bahan pengubah logam murah menjadi emas). Yang mana apabila dicampurkan dengan perak atau logam lainnya, maka perak tersebut akan menjadi emas murni.

Wanita berkulit hitam ini pun diketahui mulai menjadi pelayan Sayyidah Fatimah pada usia tujuh tahun. Sejak dini itulah, Fidhah Al-Nabawiyyah Al-Mishriyyah diasuh, dibimbing, dibesarkan, serta dididik dengan baik oleh Fatimah sebelum dipekerjakan. Di sinilah kemuliaan Islam, di mana sedari dulu kala Islam sangat menghormati hak-hak pekerja dan menentukan siapa saja yang layak dipekerjakan.

Sejak usia dini itu juga lah, Fidhah terus bersama-sama dengan ahlul bait, baik dalam keadaan susah maupun keadaan senang. Karena terus bersama keluarga Nabi Muhammad SAW, Fidhah juga dikenal sebagai pribadi yang selalu bersikap mulia dalam membela keluarga Nabi Muhammad.

Misalnya di saat dia membela rumah Sayyidah Fatimah Az-Zahra saat diserang kaum yang memusuhi Islam. Di saat musuh berusaha menghancurkan dinding-dinding dan bagian dalam rumah Sayyidah Fatimah, di saat itulah Fidhah melindungi rumah tersebut.

Fidhah juga termasuk sahabat wanita yang tak tinggal diam dalam berkontribusi perkembangan Islam. Dia termasuk sahabat yang tak ketinggalan dalam Perang Karbala pada Hari Asyura. Ia turut menemani Sayyidina Hasan dan keluarganya dalam menghadapi musibah besar pada hari menakutkan itu.

Selanjutnya, di hari meninggalnya Sayyidah Fatimah, Fidhah juga turut serta dalam mengurus dan mengkafani jenazah Sayyidah Fatimah. Maka sepeninggal Sayyidah Fatimah, Fidhah tetap tinggal di rumah Sayyidina Ali bin Abi Thalib guna mengabdikan diri kepadanya dan juga putra-putranya.

Dari sanalah kemudian Sayyidina Ali menikahkan Fidhah dengan Abu Tsa’labah Al-Habasyi dan kemudian setelah pernikahan itu selesai, Sayyidina Ali menikahkan kembali Fidhah dengan Abu Malik Al-Ghathafani. Suatu hari bahkan, Sayyidina Ali mendoakan Fidhah dan berkata: “Ya Allah, berilah keberkahan kepada Fidhah,”.

Berkat doa itu, sejak Perang Karbala hingga wafatnya, Fidhah tak pernah banyak bicara kecuali mengucapkan kalimat-kalimat Alquran. Bahkan karena kedalaman ilmu agamanya, Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata bahwa Fidhah layaknya sehelai rambut keluarga Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Yang mana ia lebih mendalam fikihnya dibandingkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Tentu saja, apa yang dilakukan Fidhah sangat mulia bagi keluarga Nabi dan juga dakwah Islam. Sebagai seorang pelayan, beliau mengabdi dengan teguh dengan keluarga Nabi. Di sisi lain sebagai seorang Muslimah, beliau pun tak lepas dalam menjalani kewajiban-kewajiban agama. Beliau juga termasuk pribadi yang cerdas dengan terbukti mahir dalam ilmu-ilmu agama, termasuk ilmu fikihnya yang disebutkan lebih mendalam ketimbang Sayyidina Ali. [yy/republika]