fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Imam Ahmad bin Hambal, Ujian Sabar dari Empat Rezim

Nama asli beliau Ahmad bin Muhammad bin Hambal. Panggilan akrab ulama yang lahir di Baghdad 164 Hijriyah ini adalah Abu Abdillah. Nama itu merupakan sandingan dengan nama salah seorang putera beliau yang bernama Abdullah.

Sejak belia Ahmad bin Hambal telah hidup yatim. Di usia tiga puluh tahun, ayahnya yang seorang walikota meninggal dunia. Sejak saat itu, kehidupan keluarga Ahmad kecil ini dalam keadaan yang sangat sederhana.

Ibu Ahmad bin Hambal sangat bersikeras anaknya kelak menjadi orang yang berilmu. Ia sengaja melahirkan dan membesarkan anaknya di Baghdad, bukan kota di mana suaminya pernah menjadi pejabat nomor satu, hanya untuk mengkondisikan puteranya menjadi dekat dengan para ulama dan jauh dari kehidupan glamour seperti umumnya anak-anak pejabat.

Kegigihan dan keseriusan Ahmad bin Hambal muda memang luar biasa dalam menuntut ilmu. Kerap kali, Ibu Ahmad bin Hambal menyampaikan usul agar anaknya bisa berangkat mencari ilmu setelah adzan Subuh. Tapi, Ahmad muda tetap menunjukkan keseriusan itu. Sebelum adzan Subuh, Ahmad bin Hambal sudah keluar rumah untuk mendatangi para ulama.

Beberapa kota yang ia datangi untuk menemui para ulama yang ia jadikan sebagai guru, di antaranya, Kufah, Hijaz, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, Tsaghur, Maroko, Al-Jazair, Al-Faratin, Persia, dan Khurasan.

Suatu kali, pernah Ahmad bin Hambal ingin belajar dari seorang ulama di Shan’a yang bernama Abdurrazaq. Sebelum ia berangkat ke Shan’a, sebuah daerah di Yaman yang menempuh sekitar satu bulan perjalanan dari Baghdad, ia bertemu sang guru itu di Mekah dalam ibadah haji.

Seorang teman beliau mengusulkan agar belajarnya di Mekah saja dan tak perlu lagi ke rumah beliau yang begitu jauh. Tapi, tetap saja, Ahmad bin Hambal berangkat ke rumah gurunya itu untuk mendapatkan ilmu.

Dalam sebuah perjalanan menuntut ilmu, ketika berada di sebuah rumah tempat ia menginap, semua perbekalan Ahmad bin Hambal dicuri orang. Si pemilik rumah menceritakan itu ke Ahmad bin Hambal.Tapi, Ahmad tidak menanyakan soal perbekalannya. Ia hanya bertanya, apakah buku catatannya masih ada.

Di rumah Abdurrazaq, Ahmad bin Hambal sudah kehabisan perbekalan. Abdurrazaq menghadiahkan uang dirham yang cukup untuk perbekalan ke tempat lain yang akan dituju Ahmad. Tapi, ia menolak. Ketika Abdurrazaq mengatakan bahwa uang itu sebagai pinjaman, Ahmad pun tetap menolak. Keesokannya, Abdurrazaq mendapati Ahmad bin Hambal mencari perbekalan dengan berkerja.

Imam Syafi’i yang hidup sezaman dengan Imam Ahmad bin Hambal sangat mengagumi sosok ulama ini. Ia mengatakan, aku belum pernah menemukan seorang pemuda seperti Ahmad bin Hambal yang begitu alim dan tsiqah.

Tidak kurang dari satu juta hadits telah dihafal Ahmad bin Hambal. Ia mendirikan sebuah sekolah yang bernama Al-Hanabilah. Setiap kali ada taklim, tidak kurang dari lima ribu orang hadir untuk menyimak apa yang disampaikan Imam Ahmad bin Hambal.

Selain soal keilmuan, orang mengenal Ahmad bin Hambal karena kezuhudannya yang luar biasa. Rumahnya sangat sederhana, walaupun begitu banyak orang yang ingin membantunya untuk memugar rumah yang dianggap sudah tidak lagi layak huni itu.

Seorang pejabat yang begitu menghormati beliau pernah menghadiahkan uang sebesar 3000 dinar atau senilai 4,2 milyar rupiah. Uang itu dimaksudkan sebagai bantuan untuk memugar rumah dan biaya kebutuhan sehari-hari untuk keluarga Ahmad bin Hambal.

Tapi, Imam Ahmad bin Hambal menolak. Ia mengatakan bahwa keluarga sudah sangat berkecukupan. Begitu pun ketika Khalifah Al-Mutawakkil memberinya uang bulanan sebesar 4000 dirham atau senilai 160 juta rupiah untuk mencukupi kebutuhan Imam Ahmad dan keluarga. Uang itu ia tolak.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, ”Wahai paman, berapa tahun lagi sisa umur kita? Kenapa kau lakukan ini? Sesungguhnya, anak-anak kami hanya makan bersama kami dalam masa yang sangat sebentar. Seandainya Allah membukakan tirai penglihatan manusia, maka ia akan tahu, mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka akan bersabar sebentar untuk mendapatkan balasan pahala yang panjang. Sesungguhnya, semua ini adalah fitnah.”

Ketika Ahmad bin Hambal menghadiri sebuah taklim, beberapa muridnya telah menyiapkan karpet dan bantal untuk beliau duduk. Imam Ahmad bertanya, ”Kenapa kalian perlakukan aku seperti ini? Singkirkan karpet dan bantal ini.” Dan, beliau merasa lebih nyaman duduk di atas tanah seperti hadirin yang lain.

Imam Ahmad bin Hambal pernah tidak mau masuk rumahnya. Hal itu setelah ia tahu kalau anaknya yang bernama Abdullah menerima bantuan dari pemerintah untuk memugar rumah beliau. Begitu pun ketika beliau sakit. Ulama penulis kitab Al-Musnad ini tidak mau mencicipi bubur dari anaknya yang bernama Shaleh, setelah ia tahu kalau anaknya menerima uang bantuan dari pemerintah.

Allah swt. menguji ulama yang luar biasa ini dengan empat rezim. Mereka adalah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Al-Makmun, Al-Watsiq, dan Al-Mutawakkil.

Di masa Imam Ahmad bin Hambal, ada empat rezim kekhalifahan yang akhirnya menjadi batu ujian untuk perjalanan hidup beliau. Empat penguasa itu adalah Al-Makmun Abu Ja’far bin Harun Ar-Rasyid, Al-Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid, Al-Watsiq Abu Ja’far Harun bin Al-Mu’tashim, dan Al-Mutawakkil Abu Fadhl Ja’far bin Al-Mu’tashim. Mereka secara bergantian, memberikan berbagai ujian berat kepada Imam Ahmad.

Di masa kekhalifahan Al-Makmun, pengaruh Mu’tazilah mulai merasuk ke istana. Salah satu pengaruh yang menjadi fitnah besar dalam perkembangan Islam di Baghdad saat itu adalah ajaran yang menyatakan bahwa Alquran adalah makhluk, yang berarti bisa benar dan salah. Dengan masuknya beberapa tokoh Mu’tazilah ke jajaran pejabat tinggi istana, pemahaman buruk itu akhirnya dideklarasikan oleh Al-Makmun.

Al-Makmun pun menyerukan ajaran sesat itu ke seluruh negeri kekuasaannya. Ia memaksa seluruh ahli hadits, para ulama, dan tokoh umat untuk mengikuti ajaran itu. Tentu saja, mereka menolak. Tapi karena adanya teror, ancaman dan paksaan dari Khalifah, dengan sangat terpaksa sebagian besar mereka pun mengikuti seruan itu.

Imam Ahmad bin Hambal adalah di antara mereka yang menolak keras ajaran sesat yang dideklarasikan Khalifah. Walaupun, penolakan itu, punya konsekuensi yang tidak kecil bagi diri Imam Ahmad. Benar saja, sejumlah prajurit menangkap Imam Ahmad untuk dihadapkan ke Khalifah Al-Makmun.

Di tengah perjalanan, seorang sahabat Imam Ahmad berhasil mendekat dan berbincang dengan beliau. ”Apakah engkau masih mengkhawatirkan aku, sahabatku?” ucap Imam Ahmad dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

”Saudaraku,” ucap sahabat Imam Ahmad. Ia pun melanjutkan, ”Saat ini, engkau menjadi panutan begitu banyak manusia. Demi Allah, kalau engkau mengikuti pendapat mereka bahwa Alquran adalah makhluk, maka akan begitu banyak pula orang yang mengikuti pendapat sesat itu. Bertakwalah kepada Allah saudaraku, jangan kamu terima pendapat mereka!”

Saat itu juga, Imam Ahmad bin Hambal pun menangis. ’Apa yang dikehendaki Allah, pasti akan terjadi!“ ucap beliau kepada sang sahabat, lirih.

Pertemuan Imam Ahmad bin Hambal dengan Khalifah Al-Makmun tidak berlangsung lama. Al-Makmun menegaskan bahwa hukuman untuk Imam Ahmad adalah hukuman mati. Setelah itu, dalam penantian kapan hukuman mati itu dilaksanakan, Imam Ahmad dijebloskan ke penjara.

Dalam perjalanan menuju penjara itu, Imam Ahmad sempat berdoa kepada Allah. Beliau berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengan Al-Makmun. Dan doa itu langsung dikabul Allah swt. Sewaktu Imam Ahmad masih dalam penjara itu, tersiar kabar bahwa Al-Makmun meninggal dunia.

Rezim pun berganti. Kekhalifahan diteruskan oleh Al-Mu’tashim. Dan ujian untuk Imam Ahmad bukan lagi surut, justru tambah berat. Di masa Al-Mu’tashim, Imam Ahmad tidak sekadar dipenjara, tapi disiksa dengan hukuman cambuk. Dan itu dilakukan dihadapan khalifah Al-Mu’tashim.

Dalam pertemuan pertama antara Al-Mu’tashim dengan Imam Ahmad yang diperbolehkan untuk disaksikan banyak orang, Al-Mu’tashim berkata, “Wahai Ahmad! Bicaralah, dan jangan takut!“

Imam Ahmad pun menatap Al-Mu’tashim dengan tenang. “Demi Allah, sejak aku di sini, tidak ada rasa takut pun dalam hatiku kepadamu, walaupun sebesar biji kurma!“

Al-Mu’tashim mengatakan, “Apa pendapatmu tentang Alquran?“ Pertanyaan yang sudah diduga oleh Imam Ahmad itu langsung beliau jawab, “Alquran adalah firman Allah yang qadim, dan bukan makhluk!” Imam Ahmad pun menyebutkan beberapa dalil Alquran.

Al-Mu’tashim berkata lagi, “Apa kamu punya hujjah yang lain?” Beberapa ayat Alquran dan hadits pun akhirnya disampaikan Imam Ahmad. Setelah itu, Al-Mu’tashim kembali memerintahkan bawahannya untuk memasukkan Imam Ahmad ke penjara.

Beberapa hari kemudian, Al-Mu’tashim kembali memanggil Imam Ahmad. Setelah dikeluarkan dari penjara, Al-Mu’tashim kembali menanyakan soal pendapat Imam Ahmad tentang Alquran. Karena jawabannya tidak juga berubah, Al-Mu’tashim memerintahkan agar Imam Ahmad disidang oleh beberapa ahli fikih dan hakim istana.

Terjadilah sebuah peristiwa debat antara Imam Ahmad dengan para ahli fikih istana. Tidak tanggung-tanggung, debat ini berlangsung hingga tiga hari. Dan akhirnya, tidak sedikit pun hujah dari Imam Ahmad yang bisa ditangkis oleh pakar agama istana yang notabene tokoh Mu’tazilah ini. Imam Ahmad pun kembali dijebloskan ke penjara.

Setelah ujian penyiksaan, fitnah, dan penjara dialami Imam Ahmad bin Hambal dari tiga khalifah secara berturut-turut sukses dilalui dengan kesabaran; ujian bentuk lain pun sudah menanti. Dan justru, ujian dari khalifah yang baru ini lebih berat dirasakan Imam Ahmad ketimbang ujian-ujian sebelumnya.

Setelah meninggalnya Al-Watsiq bin Al-Mu’tashim, kekhalifahan pun dipegang oleh Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim. Seorang khalifah yang pemahaman akidahnya sangat berbeda dengan para pendahulunya.

Al-Mutawakkil melarang seluruh penduduk, siapa pun mereka, untuk memperdebatkan atau membicarakan soal Alquran adalah makhluk. Beliau pun membebaskan seluruh ulama yang sempat masuk penjara karena fitnah dari para khalifah pendahulunya. Sebaliknya, mereka yang sebelumnya disebut sebagai ulama yang mengobarkan fitnah bahwa Alquran adalah makhluk, dipenjara seumur hidup. Dan, harta yang mereka dapatkan dari kekhalifahan sebelumnya disita tanpa syarat.

Para ulama ahlul hadits yang akhirnya mendapat pembebasan bukan saja dibebaskan tanpa syarat, tapi juga dipersilakan dan difasilitasi khalifah untuk melakukan dakwah dan taklim kepada seluruh warganya. Mereka yang pernah dipenjara pun mendapat permohonan maaf dan penghormatan secara khusus dari Khalifah. Termasuk Imam Ahmad bin Hambal.

Khalifah Al-Mutawakkil mengirim surat kepada Gubernur Baghdad untuk mengantar Imam Ahmad bin Hambal menemuinya di istana kekhalifahan.

Salah seorang putera Imam Ahmad, Abdullah, menceritakan bahwa utusan Al-Mutawakkil datang untuk menyampaikan surat undangan. Utusan itu memberitahukan bahwa khalifah sangat mengharapkan kedatangan Imam Ahmad dan doa restunya.

Kemudian, berangkatlah iring-iringan utusan Khalifah yang mengantarkan Imam Ahmad berserta keluarga ke istana Mutawakkil. Sambutan meriah pun diberikan kepada Imam Ahmad. Bahkan, Mutawakkil mengucapkan sebuah kalimat kepada ibunya di saat kedatangan Imam Ahmad. “Wahai Ibunda, saat ini, rumah kita menjadi sangat bercahaya dengan kedatangan Imam Ahmad.”

Selain sambutan yang begitu meriah, Al-Mutawakkil menghadiahkan Imam Ahmad dengan berbagai fasilitas. Mulai dari uang dirham, baju kebesaran, dan lain-lain.

Imam Ahmad tidak memberikan reaksi apa pun dengan sambutan dan berbagai hadiah itu. Lama ia terdiam. Kemudian, tiba-tiba ia menangis. Seluruh yang hadir pun terkejut mendapati reaksi di luar dugaan dari Imam Ahmad.

Imam Ahmad saat itu mengatakan, ”Enam puluh tahun aku diuji dengan berbagai penderitaan. Tapi kini, di penghujung usiaku, engkau uji aku dengan yang ini.” Tak satu pun dari hadiah-hadiah itu yang disentuh Imam Ahmad.

Beberapa waktu berlalu setelah pertemuan itu, Al-Mutawakkil mengirim tunjangan bulanan kepada Imam Ahmad. Tapi, setiap kali utusan khalifah menyampaikan itu, setiap kali itu pula hadiah ditolak Imam Ahmad. Hingga akhirnya, Al-Mutawakkil menulis surat.

Surat itu berbunyi, ”Jika hadiah uang ini tidak diterima oleh Imam Ahmad, biarlah uang ini disedekahkan Imam Ahmad kepada orang lain yang berhak, walaupun tidak bersisa sedikit pun untuk beliau.”

Selain uang, Al-Mutawakkil juga mengirimkan berbagai makanan istimewa termasuk buah-buahan yang dikhususkan buat Imam Ahmad. Tapi, tak sedikit pun dari kiriman itu yang disentuh Imam Ahmad.

Al-Mutawakkil tidak putus asa untuk memberikan hadiah kepada Imam Ahmad. Melalui anak beliau yang bernama Shaleh bin Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil memberikan rumah khusus yang dinilai layak untuk ditinggali Imam Ahmad.

Shaleh tidak berani menolak pemberian tulus seorang Khalifah. Dan justru, inilah konflik yang terjadi antara Shaleh dengan ayahnya. Setelah mengetahui anaknya menerima pemberian rumah, Imam Ahmad berkata kepada Shaleh, ”Kalau kamu menerima hadiah itu, maka putuslah hubungan antara aku dengan kamu.” Sejak itu, Imam Ahmad tidak pernah masuk ke rumah yang akhirnya ditinggali anaknya itu. Ia tetap tinggal di rumah lamanya yang sangat sederhana.

Begitu pun dengan anak Imam Ahmad yang lain, Abdullah. Melalui Abdullah, Al-Mutawakkil mengirimkan uang bulanan untuk dihadiahkan kepada Imam Ahmad, khususnya untuk membeli makanan-makanan yang layak dan bergizi. Tapi justru, sejak anaknya menerima hadiah dari Khalifah, Imam Ahmad tidak mau mencicipi makanan yang diberikan dari puteranya itu. Walaupun di saat beliau sedang sakit.

Namun, semua itu tidak membuat Imam Ahmad putus kontak dengan Khalifah. Beliau tetap memberikan jawaban dan pengarahan kepada Khalifah. Bahkan, hampir tidak satu pun kebijakan dari Al-Mutawakkil kecuali setelah mendapatkan persetujuan dan pengarahan dari Imam Ahmad.

Seorang murid beliau pernah meminta nasihat dari Imam Ahmad. Beliau mengatakan, ”Seorang ksatria adalah mereka yang berani meninggalkan tuntutan nafsu karena landasan takwa.”

Imam Ahmad pun pernah menyampaikan nasihat, ”Arahkanlah hidupmu untuk selalu mencari balasan akhirat. Sedikit yang kamu peroleh dari dunia, maka sedikit pula hisabmu di akhirat.”

Imam Ahmad bin Hambal meninggal dunia di usia 77 tahun. Beberapa karya besar yang beliau wariskan untuk umat ini begitu tidak ternilai. Di antaranya, Kitab Al-Musnad yang memuat 30 ribu hadits, Kitab At-Tafsir yang memuat 120 ribu hadits, An-Nasikh wal Mansukh, At-Tarikh, Hadits Syu’bah, Al-Muqaddam wal Mutaakhar fil Quran, dan lain-lain.

eramuslim.com

Muhammadnuh@eramuslim.com/Min ’Alam As-Salaf

 

Artikel Terkait