10 Rajab 1444  |  Rabu 01 Februari 2023

basmalah.png

Tangisan Muawiyah Mendengar Kesaksian tentang Ali bin Abi Thalib

Tangisan Muawiyah Mendengar Kesaksian tentang Ali bin Abi Thalib

Fiqhislam.com - Nyala sengketa politik antara Muawiyah bin Abu Sofyan dengan Ali bin Abi Thalib tak pernah padam. Meski begitu, Muawiyah yang akhirnya menjadi pemenang dalam sengketa itu tak bisa menahan air matanya ketika mendengar puja puji tentang kebaikan Ali bin Abi Thalib.

Imam Ibnul Jauzi dalam buku berjudul "Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin" mengutip Abu Shalih bercerita tentang bagaimana Muawiyah ingin mengetahui tentang Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Muawiyah pun bertanya kepada pengikut setia Ali bin Abi Thalib, Dhirar bin Dhamrah. “Ceritakan kepadaku tentang Ali bin Abi Thalib,” ujar Muawiyah.
Dhirar tidak serta merta menjawab pertanyaan Muawiyah itu. Ia justru bertanya apakah Muawiyah memaafkan dirinya? Muawiyah mengalah dan menganggukkan kepala. “Iya, ceritakanlah,” jawab Muawiyah.

“Engkau memaafkan saya apa tidak?” tanya Dhirar kurang yakin. Namun akhirnya ia berkata: “Jika memang saya harus menceritakannya juga, baiklah."

Berikut Ali bin Abi Thalib di mata Dhirar bin Dhamrah:

Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang demi Allah, sangat jauh pandangannya. Dia sangat kuat, kata-katanya tegas, menghukum dengan adil, dari dirinya tersembur ilmu pengetahuan, hikmah terlahir dari sosoknya, dia merasa tidak akrab dengan dunia dan bunga-bunganya, dan dia senang dengan malam hari serta kegelapannya untuk digunakan beribadah.

Demi Allah, dia adalah sosok yang banyak mengucurkan air mata kekhusyukan, panjang berpikir, sering memberi, sering menasihati dirinya.

Dia senang pakaian yang kasar, dan makanan yang keras. Dia, demi Allah, seperti kita yang merasa takut jika ditanya tentang agama, dia yang memulai bicara jika kita mendatanginya, dia juga yang mendatangi kita jika kita undang dia.

Dan kami, demi Allah, meskipun dia dekat dengan kami dan kami dekat dengan dia namun kami tidak berbicara dengannya karena kewibawaannya, dan kami juga tidak mulai berbicara denganya karena keagungannya. Jika dia tersenyum, maka senyumnya laksana mutiara yang tersusun rapi.

Dia memuliakan orang yang beragama dengan baik, senang terhadap orang-orang miskin. Orang yang kuat tidak berani berbuat kebatilan, dan orang yang lemah tidak merasa putus asa dari mendapatkan keadilannya.

Saya bersaksi kepada Allah, saya pernah melihatnya dalam beberapa kesempatan. Saat malam hari sudah tiba, bintang gemintang sudah menghiasi langit, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya, dia terlihat berdiri tegak, namun dengan menangis sangat sedih, seakan-akan saya mendengarnya saat dia berkata, “Dunia, dunia, apakah engkau ingin datang kepadaku? Apa engkau ingin menggodaku?"

Jauh sekali kemungkinan itu, tipulah orang selainku, karena saya telah menalakmu tiga kali sehingga tidak ada rujuk lagi, umurmu pendek, kehidupanmu hina, sementara bahayamu besar. Ah, sangat sedikit bekalku sementara sangat jauh perjalananku, dan sangat berbahaya jalan yang mesti dilalui.

Mendengar itu, maka melelehlah air mata Muawiyah sehingga jatuh ke jenggotnya. Dia pun menghapus air mata itu dengan lengan bajunya. Orang-orang pun menangis.

Kemudian Muawiyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, dia demi Allah adalah seperti yang diceritakan. Bagaimana kesedihanmu terhadapnya, wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab, “Kesedihanku sebagaimana orangtua yang anaknya disembelih di kamar pribadinya, yang kenangannya tidak pernah hilang, dan kesedihannya tidak pernah lenyap.” [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]