5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Kejayaan Tiga Negara Islam di Sulawesi

Kejayaan Tiga Negara Islam di Sulawesi

Fiqhislam.com - Islam datang di Sulawesi, terutama bagian selatan sejak abad ke-15 M. Para pedangang Muslim dari Malaka, Jawa, dan Sumatra banyak berdatangan di kawasan ini.

Khusus Sulawesi Selatan, Islam datang agak terlambat jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Nusantara seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Maluku. Berikut ini tiga kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Sulawesi :

A.    Kerajaan Gowa-Tallo

Secara resmi kedua raja dari Gowa dan Tallo memeluk Islam pada 22 September  1605 M. Meski Gowa-Tallo sudah Islam, pada masa pemerintahan raja-raja Gowa selanjutnya, mereka tetap berhubungan baik dengan Portugis yang beragama Kristen Katolik.

B.    Kerajaan Bone

Islam masuk di Bone pada masa La Tenri Ruwa sebagai Raja Bone XI pada  1611 M dan ia hanya berkuasa selama tiga bulan. Sebabnya karena beliau menerima Islam sebagai agamanya padahal dewan adat Ade Pitue bersama rakyat menolak ajaran tersebut.  

C.    Kerajaan Konawe

Masuk dan berkembangnya Islam di Kerajaan Konawe merupakan bagian dari proses perkembangan agama Islam di Sulawesi Tenggara khususnya dan Indonesia umumnya.
Islam masuk di Kerajaan Konawe pada abad ke-18 yang dibawah oleh pedagang-pedagang dari Buton, Ternate, dan Bugis. [yy/republika]

Nashih Nashrullah, dari berbagai sumber

 

Kejayaan Tiga Negara Islam di Sulawesi

Fiqhislam.com - Islam datang di Sulawesi, terutama bagian selatan sejak abad ke-15 M. Para pedangang Muslim dari Malaka, Jawa, dan Sumatra banyak berdatangan di kawasan ini.

Khusus Sulawesi Selatan, Islam datang agak terlambat jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Nusantara seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Maluku. Berikut ini tiga kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Sulawesi :

A.    Kerajaan Gowa-Tallo

Secara resmi kedua raja dari Gowa dan Tallo memeluk Islam pada 22 September  1605 M. Meski Gowa-Tallo sudah Islam, pada masa pemerintahan raja-raja Gowa selanjutnya, mereka tetap berhubungan baik dengan Portugis yang beragama Kristen Katolik.

B.    Kerajaan Bone

Islam masuk di Bone pada masa La Tenri Ruwa sebagai Raja Bone XI pada  1611 M dan ia hanya berkuasa selama tiga bulan. Sebabnya karena beliau menerima Islam sebagai agamanya padahal dewan adat Ade Pitue bersama rakyat menolak ajaran tersebut.  

C.    Kerajaan Konawe

Masuk dan berkembangnya Islam di Kerajaan Konawe merupakan bagian dari proses perkembangan agama Islam di Sulawesi Tenggara khususnya dan Indonesia umumnya.
Islam masuk di Kerajaan Konawe pada abad ke-18 yang dibawah oleh pedagang-pedagang dari Buton, Ternate, dan Bugis. [yy/republika]

Nashih Nashrullah, dari berbagai sumber

 

Masuknya Islam ke Sulawesi

Masuknya Islam ke Sulawesi


Fiqhislam.com - Kronologi dan perkembangan Islam di Sulawesi masih  membutuhkan pengkajian yang mendalam agar sejarahnya lebih objektif.  Kehadiran budaya Islam pertama kali di kerajaan Gowa jauh sebelum diterimanya agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. Agama Islam dibawa oleh para  pedagang muslim dari Arab, Parsia, India, Cina, dan Melayu ke Ibu Kota kerajaan Gowa, Sumba Opu.

Agama Islam masuk ke Sulawesi sejak abad ke-16, sejak masa kekuasaan Sombayya Ri Gowa I Mangngarrangi Daeng Mangrabia Karaeng Lakiung Sultan Alauddin Awalul Islam raja Gowa ke-14. tetapi baru mengalami perkembangan pesat pada abad ke-17 setelah raja-raja Gowa dan Tallo menyatakan diri masuk Islam.

Islam dinyatakan resmi sebagai agama kerajaan Gowa pada tanggal 9 Jumadil Awal 1051 H / 20 September 1605 M. Raja Gowa yang pertama masuk Islam ialah Daeng Manrabia yang berganti nama Sultan Alauddin Awwalul Islam, sedang Raja Tallo yang pertama masuk Islam bergelar Sultan Abdullah. Di antara para mubaligh yang banyak berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Sulawesi, yaitu Katib Tunggal, Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, Datuk Ri Tiro, dan Syekh Yusuf Tajul Khalwati Tuanta Samalaka.

Dakwah Islamiyah di Sulawesi berkembang terus sampai ke daerah kerajaan Bugis, Wajo, Sopeng, Sindenreng, dan lain-lain. Suku Bugis yang terkenal berani, jujur dan suka berterus terang, semula sulit menerima agama Islam. Namun berkat kesungguhan dan keuletan para mubaligh, secara berangsur-angsur mereka menjadi penganut Islam yang setia.

Peninggalan Islam hingga Saat ini

Tidak sedikit peninggalan Islam yang ada di Sulawesi, salah satunya adalah masjid Katangka. Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah nama resmi yang tercantum di plang halaman masjid yang berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa, itu. Namun, masyarakat luas lebih mengenal masjid tersebut dengan nama singkatnya: Masjid Katangka.

Di balik penampilannya yang bersahaja, masjid tua itu telah menjadi saksi perjalanan Islam di tanah Sulawesi selama lebih dari empat abad. Perlu diketahui bahwa Katangka adalah jenis pohon yang dahulu kala banyak tumbuh di lingkungan sekitar masjid itu. Kayu katangka pula yang menjadi bahan pembuatan masjid yang berdiri tahun 1603 tersebut. Namun, pohon endemis yang kayunya dianggap sebagai kayu kehormatan oleh orang Makassar itu kini sudah sangat langka.

Masjid Katangka dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabbia atau yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk Islam dan mendukung penyebarannya ke seluruh Sulawesi Selatan. [yy/suaramuslim]

 

Kisah 3 Ulama Minang Menyebarkan Islam dengan Damai di Sulawesi Selatan

Kisah 3 Ulama Minang Menyebarkan Islam dengan Damai di Sulawesi Selatan


Fiqhislam.com - Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan tak lepas dari peran tiga ulama asal Koto Tangah, Minangkabau. Mereka mensyiarkan Islam dengan damai, melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal. Hasilnya adalah mulai rakyat hingga raja rela menanggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan memilih beriman kepada Allah.

Ketiga ulama itu adalah Datuk Patimang, Datuk Ri Tiro dan Datuk Ri Bandang. Nama itu adalah gelar kehormatan yang diberikan warga Sulsel.

Datuk Patimang bernama asli Datuk Sulaiman, juga bergelar Khatib Sulung. Datuk Ri Bandang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk Ri Tiro bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu.

Dalam catatan sejarah, mereka tiba pertama kali di Kota Makassar pada pengujung abad ke 16. Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, Syamsurijal mengatakan, ketiga datuk itu datang ke Sulsel untuk menyebarkan Islam atas permintaan Raja Tanete.

Awalnya, Raja Tanete di Barru mengirim utusan ke tanah Minang (Sumatera Barat sekarang), meminta ketiga ulama Minang tersebut untuk datang menyebarkan Islam di daerahnya. Ketiganya pun bersedia mengembara ke Sulsel.

"Mereka akhirnya berangkat, namun sempat singgah di Giri, sebelum tiba di Pelabuhan Makassar," tutur Syamsurijal saat ditemui di Kantor Balai Litbang Agama Makassar.

Setiba di Makassar, ketiganya menyebar ke titik berbeda. Pemilihan tempat itu berdasarkan keahlian ilmu agama mereka miliki dan disesuaikan dengan kondisi daerah.

Datuk Ri Tiro ditugaskan ke daerah Bulukumba, bagian selatan Sulsel. Datuk Ri Tiro yang menguasai ilmu tasawuf dianggap cocok berdakwah di daerah itu karena masyarakatnya saat itu masih kental dengan kepercayaan terhadap hal mistis dan sihir.

Datuk Sulaiman yang ahli ilmu tauhid menyebarkan Islam ke wilayah Luwu dan sekitarnya. Saat itu masyarakatnya di sana masih menganut animisme, menyembah arwah-arwah nenek moyang dan dewata Sewae.

Sementara Datuk Ri Bandang yang ahli ilmu fikih diutus ke daerah Kerajaan Gowa Tallo (Makassar), karena warga di sana kala itu marak melakukan perjudian, sabung ayam, dan mabuk-mabukan.

Melalui dakwah damai yang menjunjung tinggi budaya dan adat setempat, ketiganya pun berhasil mengajak masyarakat percaya kepada Allah. Mereka juga ikut mengislamkan raja-raja di Sulsel.

Menurut sejarah, raja pertama yang masuk Islam adalah Raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Berdasarkan catatan sejarah lokal, Raja Luwu masuk Islam pada pada 15 Ramadhan 1013 Hijriah atau tahun 1603 Masehi. Cerita ini masih turun temurun dikisahkan ke anak cucu mereka, konon kabarnya proses pengislaman Raja Luwu diawali dengan adu kesaktian.

Datuk Ri Bandang yang berdakwah di Makassar juga berhasil mengajak Raja Tallo taat pada Islam. Pada tahun 1605 Masehi, Raja Tallo I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Masuknya Raja Tallo ke Islam, menurut sejarah sebelum bertemu Datuk, diawali dengan pertemuannya dengan orang tua yang menuliskan sesuatu di tangannya," kisah Syamsurijal.

Raja Tallo tersebut pun masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Secara resmi, Islam menjadi agama kerajaan pada tahun 1607. Tahun inilah, Sultan Alauddin mengirim utusan damai ke raja-raja sekitarnya untuk menerima Islam.

Sementara itu, Datuk Ri Tiro yang berdakwah di Bulukumba tak langsung mengajarkan Islam. "Saat tiba pertama kali di Bulukumba, Datuk Ri Tiro melakukan pemetaan sosial terlebih dahulu, saat itu daerah itu mengalami kekeringan dan tandus. Ia membuat mata air dengan mengukir tongkatnya di tanah," papar Syamsurijal.

Air pun keluar hingga tak terbatas, dan menyebar ke berbagai sungai. Tempat ini berada di Hila-Hila, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba. Dari situ ulama tersebut mulai dikenal dan Islam akhirnya diterima baik oleh masyarakat. Sebelum wafat, Datuk Ri Tiro sempat membangun masjid di samping mata air Hila-hila pada 1605.

Ketiga ulama itu memilih menetap di Sulsel hingga ajal menjemput. Makam mereka kini ramai dikunjungi peziarah, memberi penghormatan atas perjuangannya mensyiarkan Islam. Sepeninggal tiga ulama tersebut, Islam kini menyebar pesat hingga menjadi agama mayoritas di Sulsel. [yy/okezone]

 

Syekh Yusuf, Ulama Makassar yang Menyebarkan Islam Hingga ke Afrika

Syekh Yusuf, Ulama Makassar yang Menyebarkan Islam Hingga ke Afrika


Fiqhislam.com - Agama Islam masuk dan berkembang di Sulawesi Selatan setelah dibawa oleh tiga ulama dari Tanah Minang, yakni Datuk Patimang, Datuk ri Bandang, dan Datuk ri Tiro, di awal Abad XVII. Ketiganya sering disebut Datu Tallua.

Sebelum menyebar luas ke tengah masyarakat, Islam awalnya dianut kalangan raja-raja, dimulai dari Datu Luwu La Patiware Daeng Parabu, lalu Raja Tallo I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, menyusul Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. Raja Gowa yang bernama lengkap I Mangngerangi Daeng Manrabbia ini adalah kakek Sultan Hasanuddin, yang sekaligus tokoh yang membesarkan ulama sufi terkenal asal Makassar, Syekh Yusuf Al Makassari, di lingkungan Kerajaan Gowa.

Dikutip dari Jurnal Al Qalam, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka: Pemujaannya di Tanah Makassar, yang ditulis Syahril Kila, Syekh Yusuf berangkat ke Makkah pada 22 September 1644, saat dia masih berusia 21 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Sepulangnya dari Tanah Suci, Syekh Yusuf tidak langsung kembali ke Makassar. Syekh Yusuf memilih menetap di Banten. 

Meskipun lebih separuh usia Syekh Yusuf digunakan untuk berjuang di luar Sulawesi, sosoknya dianggap sebagai Wali Allah dari Sulawesi Selatan, seperti Wali Songo di Pulau Jawa. Syekh Yusuf bagi warga Sulsel digelari Tuanta Salamaka, yang bermakna Tuan yang membawa keselamatan. Syekh Yusuf juga telah ditetapkan sebagai Pahlwan Nasional oleh Presiden Soeharto, pada 7 Agustus 1995. 

1. Syekh Yusuf ditangkap penjajah karena membantu Sultan Ageng Tirtayasa

Sejarawan Sulsel, Abu Hamid dalam bukunya, Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang, menyebutkan Syekh Yusuf yang diangkat menjadi mufti Kesultanan Banten, ikut membantu Sultan Ageng Tirtayasa melawan politik pecah belah yang diterapkan penjajah VOC Belanda. Pada tahun 1683, Sultan Ageng melawan putranya sendiri, Sultan Haji yang disokong Belanda. Syekh Yusuf pun ditangkap  Belanda pada 14 Desember 1683 dan ditahan di Batavia, sebelum dibuang ke Ceylon, Sri Lanka, pada 12 September 1684. 

Sekitar satu dekade di Sri Lanka, Syekh Yusuf menyebarkan ajaran Islam di kota Ceylon dan pengikutnya makin bertambah. Khususnya bagi jamaah haji dari nusantara yang mampir di Pelabuhan Ceylon, sebelum sampai ke Tanah Suci. Hal ini membuat Belanda menjadi gerah dan akhirnya pada Juli 1694, Belanda kembali mengasingkan Syekh Yusuf bersama 49 pengikutnya ke Capetown, Afrika Selatan.

2. Nelson Mandela mengaku terinspirasi Syekh Yusuf untuk berjuang melawan politik apartheid

Syekh Yusuf yang dibuang ke Cape Town, tidak berhenti menyebarkan ajaran Islam hingga wafat di  Cape Town pada 23 Mei 1699. Jejak Syekh Yusuf di Cape Town masih bisa disaksikan dengan nama salah satu daerah di sana, Macassar. Nama ini diambil dari tanah kelahiran Syekh Yusuf di Makassar, Sulsel. 

Tokoh perjuangan anti apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela juga mengaku terinspirasi perjuangan Syekh Yusuf, yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang setara dan perjuangannya melawan kolonialisme. Mandela menyebut Syekh Yusuf putra terbaik dan pahlawan dari Afrika Selatan. 

3. Makam Syekh Yusuf di Makassar ramai dikunjungi peziarah

Syekh Yusuf yang wafat di Cape Town pada 23 Mei 1699. Peti jenazah Syekh Yusuf kemudian dipulangkan ke Makassar pada tahun 1705, atas permintaan Raja Gowa ke-19 Sultan Abdul Jalil. Jenazah Syekh Yusuf kemudian dimakamkan di samping pusara istrinya, I Sitti Daeng Nisanga di kompleks makam Raja Gowa di Lakiung, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, yang nama jalannya diabadikan dengan nama Syekh Yusuf.

Makam Syekh Yusuf di Katangka ramai dikunjungi para peziarah, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Mantan PM Malaysia Najib Abdul Razak dan beberapa tokoh nasional lainnya. Selain makam Syekh Yusuf di perbatasan Makassar-Gowa, makam Syekh Yusuf juga diklaim berada di beberapa lokasi, seperti di pebukitan Cape Town; di Pulau Tolango, Sumenep, Madura; di Kota Serang, Banten; dan di kota Ceylon, Sri Lanka. [yy/sulsel.idntimes]