15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Mengenal Sufi Perempuan Besar Aisyah al-Bauniyah

Mengenal Sufi Perempuan Besar Aisyah al-Bauniyah

Fiqhislam.com - Dalam sejarah Islam sangat banyak ulama sufi yang mengajak agar umat Islam cinta dan mendekatkan diri kepada sang Ilahi. Tidak hanya sufi laki-laki, ada juga beberapa ulama sufi perempuan yang mengajarkan tentang konsep Mahabbah (Cinta), diantaranya adalah Aisyah al-Ba’uniyah.

Ia adalah seorang sufi perempuan terbesar kedua setelah Rabiatul Adawiyah. Nama lengkapnya adalah adalah Aisyah binti Yusuf bin Ahmad bin Nashir al-Ba’uni. Nama al-Ba’uniyah dinisbatkan kepada sebuah daerah bernama Ba’un yang berada di kawasan Ajloun, utara Yordania. Aisyah al-Ba’uniyah lahir di Damaskus pada 865 Hijriyah atau 1460 Masehi.

Ayahnya, Yusuf, adalah seorang hakim dari marga Ba’uni di kawasan Safed, Tripoli, Aleppo, dan Damaskus. Ayahanda Aisyah ini juga merupakan seorang ulama, ahli fikih, dan penyair.

Dari ayahnyalah Aisyah pertama kali belajar Alquran, hadits, fikih, dan sastra. Karena itu, tak heran jika Aisyah sudah bisa menghafal Alquran sejak usia delapan tahun.

Dalam buku Menjalin Ikatan Cinta Allah Swt terbitan TuROS dijelaskan kehidupan Aisyah al’Bauniyah tidak seperti kehidupan Rabiatul Adawiyah. Jika Rabiatul memilih lajang seumur hidupnya, Aisyah justru menjadi pendamping hidup seorang alim dari golongan Alawiyun, yaitu Ahmad bin Muhammad bin an-Naqib al-Asyraf.

Pasangan ini melahirkan dua anak, yaitu Abdul Wahab dan Barakah. Sedangkan putrinya meninggal saat berusia tiga tahun.

Pada 1513 M, Aisyah dan putranya kemudian berpindah dari Damaskus ke Kairo. Saking alimnya, Aisyah diizinkan mengajar dan bahkan berfatwa. Dari sanalah ia kemudian populer sebagai ahli fikih.

Aisyah kemudian kembali ke kota asalnya pada 1517 M. Selain dikenal sebagai seorang sufi dan ahli fikih, Aisyah juga dikenal sebagai mursyid tarekat Qadiriyah dan penyair sufistik. Sebagai penulis wanita Muslim produktif sebelum abad ke-20, Aisyah juga telah menulis belasan buku sepanjang hidupnya.

Sejarawan Ibnu al-Imad al-Hambali menyebut Aisyah al-Ba’uniyah sebagai seorang syaikhah salehah, sastrawan, cendekia, dan wanita tercerdas abad 10 Hijriyah. Karena itu, maklum jika UNESCO mengumumkan 2006-2007 sebagai tahun peringatan internasional untuk memperingati 500 tahun kelahiran Aisyah al-Ba’uniyah. Ulama sufi perempuan ini wafat di Damaskus pada 922 Hijriyah atau 1517 Masehi. [yy/republika]