25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Yusuf Qaradhawi, Pemikir Islam Modern

Yusuf Qaradhawi, Pemikir Islam Modern

Fiqhislam.com - Yusuf Qardhawi, adalah seorang pemikir Islam modern yang sangat yakin akan kebenaran cara pemikiran Islam yang moderat (al-washatiyah al-Islamiyah). Sebagai ulama yang memiliki apresiasi tinggi terhadap Alquran dan Sunnah Nabi, Qardhawi sangat fleksibel dalam memandang ajaran Islam. Namun pada saat yang sama, ia juga sangat kuat dalam mempertahankan pendapat-pendapatnya yang digali dari Alquran dan Hadits.

Yusuf Qardhawi lahir di Shafth Turaab, sebuah desa kecil di Mesir, pada 9 September 1926. Ia tidak sempat mengenal ayah kandungnya dengan baik, karena saat usianya baru mencapai dua tahun, sang ayah meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ia dibesarkan oleh ibu kandungnya. Akan tetapi pada saat ia duduk di tahun keempat ibtida'iyah, ibunya pun dipanggil Yang Mahakuasa.

Beruntung, ibu yang dicintainya masih sempat menyaksikan putra tunggalnya ini hafal seluruh Alquran dengan bacaan yang sangat fasih, karena pada usia sembilan tahun sepuluh bulan, ia telah hafal Alquran. Kemampuannya dalam menghafal Alquran itulah yang menyebabkan kaum kerabatnya kerap memanggil Qardhawi "syaikh".

Pendidikan formalnya dimulai pada salah satu lembaga pendidikan Al-Azhar yang dekat dengan kampungnya. Di lembaga pendidikan inilah Qardhawi kecil mulai bergelut dengan kedalaman khazanah Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, hingga lulus tahun 1952.

Namun karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu, gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972, dengan desertasi Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan. Desertasinya itu kemudian disempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat komprehensif dalam membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Kedalaman dan ketajamannya dalam menangkap ajaran Islam ini, sangat membantunya untuk selalu bersikap arif dan bijak. Dalam buku-buku yang ditulisnya, dia selalu mendengungkan kelebihan Islam dalam segala lini. Qardhawi dengan gencar mengedepankan Islam yang toleran serta kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh umat di luar Islam.

Qardhawi juga amat selektif terhadap berbagai propaganda pemikiran Barat maupun Timur, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri. Dia bukanlah pengikut buta dari mazhab atau gerakan Islam modern tertentu. Bahkan dia tidak segan-segan berbeda pendapat dengan senior-seniornya dalam pergerakan Islam. Singkatnya, Qardhawi memiliki pendirian yang sangat kokoh terhadap apa yang dia yakini sebagai kebenaran dan prinsip Islam, walaupun seringkali mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Di mata Qardhawi, umat Islam sudah lama mengidap krisis identitas akibat perang pemikiran (ghazwul fikr) Barat yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali. Akibatnya, umat Islam justru lebih percaya kepada peradaban Barat ketimbang pada agamanya sendiri. Oleh karena itu, Qardhawi tak henti-hentinya berusaha mengembalikan identitas umat dengan melakukan penyebaran pemikiran Islam yang benar melalui berbagai tulisan serta seminar-seminar di tingkat internasional.

Pandangan bahwa Islam sangat menghargai makna pluralisme agama sebagai sebuah realitas sosial yang tidak mungkin dihilangkan, membuat Qardhawi sangat anti-terhadap gerakan-gerakan militan apalagi anarkis. Sikap seperti itu, menurutnya, hanya memperburuk citra Islam yang cinta damai dan sangat manusiawi dalam memperlakukan orang lain. Namun di saat yang sama, Qardhawi juga mengingatkan bahwa tindakan militan umat Islam bukan muncul dari keinginan mereka.

Tindakan tersebut muncul akibat kemerdekaan mereka telah dirampas oleh para penguasa yang tidak memberikan ruang yang leluasa untuk menjalankan keyakinan mereka.

Qardhawi juga dikenal sebagai seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Menurutnya, semua ilmu bisa Islami dan tidak Islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya.

Qardhawi memandang bahwa pemisahan ilmu secara dikotomis telah menghambat kemajuan umat Islam. Padahal, peradaban bisa melesat maju jika peradaban tersebut bisa menyerap sisi-sisi positif dari peradaban yang lebih maju dengan tanpa meninggalkan akar-akar pembangunan peradaban yang dianjurkan Islam.

salman1976.blogspot.com

Tags: Qaradhawi