10 Rajab 1444  |  Rabu 01 Februari 2023

basmalah.png

Ketulusan Numan bin Muqarrin

Ketulusan Numan bin Muqarrin

Fiqhislam.com - Berita kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah menyebar dengan cepat dan terdengar luas. Berbagai kabilah di kota yang dulu bernama Yatsrib itu ramai menyambut kedatangan Rasulullah, tak terkecuali Bani Muzaynah meskipun jarak antara Madinah dan tempat Bani Muzaynah bermukim cukup jauh.

Numan merupakan kepala suku Bani Muzaynah. Dia menjadi bagian dari kelom pok Anshar yang pertama memeluk Islam sehingga membuat banyak orang ke tika itu takjub kepada Islam. Pada suatu malam, Numan berkumpul bersama kelompoknya dan tetua suku mereka. Dia mengajak anggotanya untuk menyambut kedatangan Rasulullah sekaligus mendengarkan ajarannya yang penuh kebaikan, rahmat, dan keadilan.

Dia berencana berangkat pada pagi keesokan harinya. Siapa pun yang ingin ikut bersamanya, mereka harus bersiapsiap. Keesokan harinya, dia bersama 10 saudara laki-lainya dan empat ratus penunggang kuda dari Muzaynah pergi ke Madinah untuk bertemu Nabi.

Namun, dia merasa malu untuk menemui Rasulullah karena tidak memiliki hadiah yang pantas untuk umat Muslim. Maklum saja, tahun itu mereka sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Dampaknya, ternak dan panen pertanian mereka hancur.

Dia dikenal sebagai seorang pemimpin yang santun dalam bertutur kata. Sikap itu membuat masyarakat mengaguminya. Sikap seperti itulah yang membuat ma syarakat mengangkatnya sebagai pemim pin. Nabi amat senang dengan kedatangan Numan bersama kelompoknya.

Bahkan, seluruh penduduk Madinah penuh dengan kegembiraan dengan kedatangan Bani Muzaynah. Belum pernah ada satu keluarga dengan 10 saudara laki-laki yang mene rima Islam bersamaan dengan empat ratus penunggang kuda. Namun, Numan bersama kerabatnya bersyahadat ketika itu tanpa keraguan sedikit pun tentang kebenaran Islam.

Ketulusan Numan dan keluarganya dalam menerima Islam diabadikan dalam Alquran Surah at-Taubah ayat 99. Setelah memeluk Islam, Numan mengabdikan dirinya kepada Rasulullah. Dia menemani utusan Allah itu dalam berdakwah dengan berani. Pada masa Abu Bakar dia me miliki peran penting dalam mengakhiri fitnah.

 

Ketulusan Numan bin Muqarrin

Fiqhislam.com - Berita kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah menyebar dengan cepat dan terdengar luas. Berbagai kabilah di kota yang dulu bernama Yatsrib itu ramai menyambut kedatangan Rasulullah, tak terkecuali Bani Muzaynah meskipun jarak antara Madinah dan tempat Bani Muzaynah bermukim cukup jauh.

Numan merupakan kepala suku Bani Muzaynah. Dia menjadi bagian dari kelom pok Anshar yang pertama memeluk Islam sehingga membuat banyak orang ke tika itu takjub kepada Islam. Pada suatu malam, Numan berkumpul bersama kelompoknya dan tetua suku mereka. Dia mengajak anggotanya untuk menyambut kedatangan Rasulullah sekaligus mendengarkan ajarannya yang penuh kebaikan, rahmat, dan keadilan.

Dia berencana berangkat pada pagi keesokan harinya. Siapa pun yang ingin ikut bersamanya, mereka harus bersiapsiap. Keesokan harinya, dia bersama 10 saudara laki-lainya dan empat ratus penunggang kuda dari Muzaynah pergi ke Madinah untuk bertemu Nabi.

Namun, dia merasa malu untuk menemui Rasulullah karena tidak memiliki hadiah yang pantas untuk umat Muslim. Maklum saja, tahun itu mereka sedang dilanda kekeringan dan kelaparan. Dampaknya, ternak dan panen pertanian mereka hancur.

Dia dikenal sebagai seorang pemimpin yang santun dalam bertutur kata. Sikap itu membuat masyarakat mengaguminya. Sikap seperti itulah yang membuat ma syarakat mengangkatnya sebagai pemim pin. Nabi amat senang dengan kedatangan Numan bersama kelompoknya.

Bahkan, seluruh penduduk Madinah penuh dengan kegembiraan dengan kedatangan Bani Muzaynah. Belum pernah ada satu keluarga dengan 10 saudara laki-laki yang mene rima Islam bersamaan dengan empat ratus penunggang kuda. Namun, Numan bersama kerabatnya bersyahadat ketika itu tanpa keraguan sedikit pun tentang kebenaran Islam.

Ketulusan Numan dan keluarganya dalam menerima Islam diabadikan dalam Alquran Surah at-Taubah ayat 99. Setelah memeluk Islam, Numan mengabdikan dirinya kepada Rasulullah. Dia menemani utusan Allah itu dalam berdakwah dengan berani. Pada masa Abu Bakar dia me miliki peran penting dalam mengakhiri fitnah.

 

Numan bin Muqarrin Jadi Komandan Perang

Numan bin Muqarrin Jadi Komandan Perang


Numan bin Muqarrin Jadi Komandan Perang


Meskipun ada kekalahan dan kemunduran lainnya, Kaisar Persia Yazdagird menolak untuk menyerah dan terus-menerus mengorganisasi pungutan baru untuk menyerang umat Islam dan memicu pemberontakan di provinsi-provinsi yang berada di bawah kendali Muslim.

Umar telah menasihati agar umat Islam menjaga kesantunan. Pasukan Muslim diperin tahkan untuk tidak berjalan terlalu jauh ke timur. Namun, dia mendapat kabar tentang mobilisasi Persia yang besar-besaran. Sebanyak 150 ribu tentara Persia melawan umat Islam. Umar bin Khatab pun mencari komandan militer yang terampil.

Semua orang mengajukan nama Numan sebagai komandan perang. Umar pun mengirim surat memerintahkannya memimpin perang. Namun, Numan diarahkan agar sebisa mungkin menghindari jatuhnya korban dari umat Islam. An Numan pun mematuhi perintah Amirul Mukminin tersebut.

Dia memobilisasi pasukan dan mengirim pasukan kavaleri untuk mempercepat sampai ke kota. Tepat di luar kota Nahwand seluruh kuda berhenti meskipun penunggang kuda memaksa maju. Ternyata musuh telah memasang jebakan. Numan pun mela kukan taktik perang untuk memancing musuh keluar.

Mereka berkemah di pinggiran kota. Dengan perintah takbir sebanyak tiga kali, perang pun dimulai. Meski kalah jumlah satu banding enam, tentara Persia kewalahan. Namun, Numan mati syahid di perang tersebut. Ketika Umar mendengar syahidnya Numan, dia pun menangis sedih sambil menutup wajahnya.

 

Numan bin Muqarrin Ajak Kaisar Persia Bersyahadat

Numan bin Muqarrin Ajak Kaisar Persia Bersyahadat


Numan bin Muqarrin Ajak Kaisar Persia Bersyahadat


Pada masa Umar bin Khatab, Numan bin Muqarrin dikenal setelah menjadi delegasi untuk Kekaisaran Sasananian. Sesaat sebelum pertempuran Qadisiyah, komandan pasukan Muslim Saad bin Abi Waqqas mengirim delegasi kepada Kaisar Sasanian, Yazdagird. Delegasi tersebut dipimpin oleh Numan. Mereka mengajak kaisar memeluk Islam.

Ketika Numan dan delegasinya mencapai Ctesiphon, ibu kota Sasanian, orang-orang di sana memandang mereka dengan rasa ingin tahu. Namun, beberapa penduduk merendahkan rombongan Numan. Mereka melihat penampilan Nu man yang sederhana, seperti pakaian dan sepatunya yang kasar serta kuda-kuda mereka yang tampak lemah, merupakan pertanda mereka bukan bangsa terhormat.

Meski dipandang sebelah mata, Umat Islam tidak menghiraukan mereka dan tetap berusaha menemui Yazdagird. Kaisar Sasananian memberi mereka izin dan memanggil seorang penerjemah. Yazdagird meminta umat Islam yang datang menyampaikan maksud kedatangannya. Sejak awal dia mencurigai umat Islam akan menyerang wilayahnya. Numan men jadi juru bicara umat Islam untuk menjawab pertanyaan Yazdagird.

"Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kita. Sang Pencipta telah mengutus kepada kita seorang Rasul untuk menunjukkan kepada yang baik dan memerintahkan untuk mengikutinya. Dia menyadari apa yang jahat dan melarang kita berbuat keburukan," ujar dia.

Rasulullah berjanji jika menerima seruannya, Allah akan memberikan kebaikan dunia dan akhirat kepada sang pengua sa. "Tidak banyak waktu yang berlalu, tapi Allah telah memberi kita kelimpahan berkah sebagai ganti kesusahan, diangkat dari penghinaan, mendapat pengampunan dan persaudaraan menggan tikan permusuhan kita sebelumnya," kata dia.

Rasulullah telah menyerukan umat manusia untuk menjalankan kehidupan lebih baik dan dimulai dari orang yang terdekat. "Oleh karena itu, kami mengundang Anda untuk masuk ke dalam agama kami, ini adalah agama yang memperindah dan mengenalkan semua kebaikan, serta yang membenci dan mencegah semua hal yang buruk dan tercela. Ini adalah agama yang membawa para penganutnya dari kegelapan tirani dan ketidakpercayaan kepada terang dan keadilan iman," ujarnya.

Numan pun memberikan pilihan kepada Yazdagird, jika menanggapi secara positif untuk masuk Islam, selanjutnya me reka akan memperkenalkan Kitab Allah kepadanya dan membantu untuk hidup sesuai dengan perintah dan hukumhukum syariat. Kemudian, akan kembali dan membiarkan kerajaan ini mengatur wilayahnya sendiri.

Namun, jika menolak untuk menjadi Muslim, Yazdagird harus membayar jizyah dan umat Islam akan memberikan perlindungan sebagai gantinya. Jika tetap menolak memberikan jizyah itu, perang adalah jawabannya.

Yazdagird pun marah besar men dengar pernyataan tersebut. Awalnya umat Islam ditawari kebutuhan pangan dan pemimpin yang memerintah, tapi umat Islam menolak. Yazdagird pun menantang ber perang di sebuah parit di al-Qadisiyyah. Dia pun memerintahkan umat Islam menaruh keranjang tanah di luar gerbang kota sebagai tanda penghinaan.

Tetapi, Asim bin Umar menerima keranjang tersebut dengan senang dan membawanya kepada Komandan pasukan Saad bin Abi Waqqas. Dia mengatakan, mu suh secara sukarela menyerahkan wilayahnya kepada umat Islam.

Kemudian, Pertempuran Qadisiyyah terjadi dan setelah empat hari pertem puran sengit, pasukan Islam menang. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi Islam untuk maju ke dataran rendah Eufrat dan Tigris. Ibu kota Persia Ctesiphon jatuh dan ini diikuti oleh sejumlah perjanjian saat orang-orang Persia mundur ke utara. [yy/republika]