1 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 27 September 2022

basmalah.png

Syekh Ahmad Surkati, Ulama Sudan yang Berdakwah di Betawi

Syekh Ahmad Surkati, Ulama Sudan yang Berdakwah di Betawi

Fiqhislam.com - Bicara soal dakwah di Tanah Betawi pada masa lalu, ada salah satu sosok yang memainkan peran penting. Dialah Syekh Ahmad Surkati. Syekh Surkati adalah ulama sekaligus intelektual dari Sudan yang datang ke Pulau Jawa, tepatnya Batavia pada tahun 1911.

Berdakwah menjadi tujuan utama kedatangannya ke Batavia. Dalam hal ini, ia menitikberatkan dakwah melalui bidang pendidikan. Ia berharap, dakwahnya dapat membebaskan umat dari kebodohan.

Kiprah Syekh Surkati di Batavia telah melahirkan sistem madaris atau sistem pendidikan modern yang kini menjadi madrasah. Ia juga mendirikan organisasi masyarakat bernama Jam'iyat al-Islah wa al-Irsyad al- Arabiyah yang sekarang dikenal dengan nama al-Irsyad al-Islamiyah.

Ketua Pusat Dokumentasi (Pusdok) dan Kajian al-Irsyad al-Islamiyah Bogor, Abdullah Abubakar Batarfie menerangkan, Syekh Surkati lahir dari keluarga ulama intelektual di Sudan pada tahun 1875. Secara nasab, Syekh Surkati diyakini merupakan keturunan Jabir bin Abdullah al-Anshori, seorang sahabat Rasul dari Suku Khazraj yang ada di Madinah.

"Saat masa Khalifah Rasyidin, umat Islam dari Madinah ikut menyebarkan Islam ke berbagai negeri termasuk ke Sudan, nenek moyang Syekh Surkati dari Madinah hijrah ke Sudan dalam rangka dakwah," kata Abdullah saat diwawancarai Republika, Sabtu (29/6).

Keluarga Syekh Surkati di Sudan merupakan keluarga terpandang yang alim. Ayahnya bernama Muhammad al-Surkati, seorang alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Mereka dijuluki Surkati oleh masyarakat Sudan. Sur artinya kitab dan Katti artinya banyak. Artinya mereka adalah orang yang memiliki banyak kitab.

Di masa mudanya, Syekh Surkati menghabiskan waktu sekitar 14 tahun, yakni antara tahun 1897 sampai 1911, di Makkah dan Madinah untuk belajar agama Islam. Ulama yang nantinya mendirikan al-Irsyad al-Islamiyah itu mempelajari aliran pemikiran Islam dari berbagai mazhab.

"Jadi, semua aliran Islam, mazhab-mazhab itu dia pelajari semuanya, banyak juga ulama cukup terkenal di Makkah dan Madinah yang menjadi guru Syekh Ahmad Surkati, Syekh Surkati juga hafal Kutubus Sittah dan Alquran 30 juz," ujar Abdullah.

Lebih lanjut, ia menceritakan, sebelum Syekh Surkati berangkat ke Pulau Jawa dari Makkah, banyak ulama dari Makkah yang mencegahnya karena Pulau Jawa pada masa kolonial cukup mencekam. Banyak orang dibunuh dan Belanda akan bertindak keras terhadap orang yang keras terhadap kolonialisme.

Akan tetapi, Syekh Surkati sudah membulatkan tekad untuk berdakwah dan berangkat ke Pulau Jawa memenuhi undangan Ja miat Kheir. Bagi Syekh Surkati, meninggal dunia di Pulau Jawa lebih mulia daripada me ninggal di Makkah tanpa berbuat sesuatu untuk umat.

"Syekh Surkati mengatakan, saya lebih baik meninggal di Jawa dengan berbuat, berjihad melakukan sesuatu untuk umat, dari pada mati di Makkah dengan tidak melakukan apa-apa," kata Abdullah.

Pada 1911, Syekh Surkati tiba di Pulau Jawa tepatnya di Pekojan, sebuah perkampungan Arab di Batavia. Jamiat Kheir adalah lembaga swasta yang bergerak dalam bidang pendidikan, didirikan oleh orang-orang Arab. Di sanalah Syekh Surkati mulai mengajar dan berjuang di bidang pendidikan untuk mencerdaskan umat. [yy/republika]

 

Syekh Ahmad Surkati, Ulama Sudan yang Berdakwah di Betawi

Fiqhislam.com - Bicara soal dakwah di Tanah Betawi pada masa lalu, ada salah satu sosok yang memainkan peran penting. Dialah Syekh Ahmad Surkati. Syekh Surkati adalah ulama sekaligus intelektual dari Sudan yang datang ke Pulau Jawa, tepatnya Batavia pada tahun 1911.

Berdakwah menjadi tujuan utama kedatangannya ke Batavia. Dalam hal ini, ia menitikberatkan dakwah melalui bidang pendidikan. Ia berharap, dakwahnya dapat membebaskan umat dari kebodohan.

Kiprah Syekh Surkati di Batavia telah melahirkan sistem madaris atau sistem pendidikan modern yang kini menjadi madrasah. Ia juga mendirikan organisasi masyarakat bernama Jam'iyat al-Islah wa al-Irsyad al- Arabiyah yang sekarang dikenal dengan nama al-Irsyad al-Islamiyah.

Ketua Pusat Dokumentasi (Pusdok) dan Kajian al-Irsyad al-Islamiyah Bogor, Abdullah Abubakar Batarfie menerangkan, Syekh Surkati lahir dari keluarga ulama intelektual di Sudan pada tahun 1875. Secara nasab, Syekh Surkati diyakini merupakan keturunan Jabir bin Abdullah al-Anshori, seorang sahabat Rasul dari Suku Khazraj yang ada di Madinah.

"Saat masa Khalifah Rasyidin, umat Islam dari Madinah ikut menyebarkan Islam ke berbagai negeri termasuk ke Sudan, nenek moyang Syekh Surkati dari Madinah hijrah ke Sudan dalam rangka dakwah," kata Abdullah saat diwawancarai Republika, Sabtu (29/6).

Keluarga Syekh Surkati di Sudan merupakan keluarga terpandang yang alim. Ayahnya bernama Muhammad al-Surkati, seorang alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Mereka dijuluki Surkati oleh masyarakat Sudan. Sur artinya kitab dan Katti artinya banyak. Artinya mereka adalah orang yang memiliki banyak kitab.

Di masa mudanya, Syekh Surkati menghabiskan waktu sekitar 14 tahun, yakni antara tahun 1897 sampai 1911, di Makkah dan Madinah untuk belajar agama Islam. Ulama yang nantinya mendirikan al-Irsyad al-Islamiyah itu mempelajari aliran pemikiran Islam dari berbagai mazhab.

"Jadi, semua aliran Islam, mazhab-mazhab itu dia pelajari semuanya, banyak juga ulama cukup terkenal di Makkah dan Madinah yang menjadi guru Syekh Ahmad Surkati, Syekh Surkati juga hafal Kutubus Sittah dan Alquran 30 juz," ujar Abdullah.

Lebih lanjut, ia menceritakan, sebelum Syekh Surkati berangkat ke Pulau Jawa dari Makkah, banyak ulama dari Makkah yang mencegahnya karena Pulau Jawa pada masa kolonial cukup mencekam. Banyak orang dibunuh dan Belanda akan bertindak keras terhadap orang yang keras terhadap kolonialisme.

Akan tetapi, Syekh Surkati sudah membulatkan tekad untuk berdakwah dan berangkat ke Pulau Jawa memenuhi undangan Ja miat Kheir. Bagi Syekh Surkati, meninggal dunia di Pulau Jawa lebih mulia daripada me ninggal di Makkah tanpa berbuat sesuatu untuk umat.

"Syekh Surkati mengatakan, saya lebih baik meninggal di Jawa dengan berbuat, berjihad melakukan sesuatu untuk umat, dari pada mati di Makkah dengan tidak melakukan apa-apa," kata Abdullah.

Pada 1911, Syekh Surkati tiba di Pulau Jawa tepatnya di Pekojan, sebuah perkampungan Arab di Batavia. Jamiat Kheir adalah lembaga swasta yang bergerak dalam bidang pendidikan, didirikan oleh orang-orang Arab. Di sanalah Syekh Surkati mulai mengajar dan berjuang di bidang pendidikan untuk mencerdaskan umat. [yy/republika]

 

Mengenal Sistem Pendidikan Madaris Syekh Surkati

Mengenal Sistem Pendidikan Madaris Syekh Surkati


Fiqhislam.com - Pada 1911, Syekh Surkati tiba di Pulau Jawa tepatnya di Batavia atas undangan Jamiat Kheir. Ia disambut dengan sangat luar biasa saat tiba di Batavia. Kedudukannya dimuliakan karena kepandaian dan kealimannya.

Sebelum kedatangan Syekh Surkati, Abdullah mengatakan, Jamiat Kheir mengembangkan pendidikan modern, tapi polanya masih tradisional. Berdasarkan pengalaman mengajarnya di lembaga pendidikan modern yang ada di Makkah, Syekh Surkati kemudian mencoba menerapkan pola pendidikan modern tersebut di Jamiat Kheir.

"Yang membawa sistem pendidikan modern adalah Syekh Surkati, disebut sistem madaris oleh para pelaku pendidikan Islam di Jawa, jadi beliau memperkenalkan sistem madaris atau sistem pendidikan modern," kata Abdullah.

Sistem madaris menyajikan ruang kelas seperti sekolah-sekolah di Eropa. Siswanya memakai seragam saat belajar seperti di sekolah orang-orang Barat. Sistem madaris juga memiliki manajemen sekolah seperti jadwal mata pelajaran dan tingkatan atau kelas, seperti diniyah, ibtidaiyah, awaliyah, tsanawiyah, aliyah, dan mualimin.

Pada zaman Syekh Surkati, kurikulum pendidikan Jamiat Kheir memadukan pendidikan agama dan pengetahuan umum. Ia memperkenalkan konsep pendidikan seperti itu untuk membuka pikiran umat bahwa Is lam tidak mendikotomikan antara pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan umum.

"Diniyah, ibtidaiyah, awaliyah, tsanawiyah itu adalah konsep pendidikan yang dibawa Syekh Surkati ke Indonesia, itu namanya sistem madaris yang diperkenalkan Syekh Sur kati, dulu konsep itu belum dikenal di Indonesia," ujarnya.

Bisa dikatakan, Syekh Surkati adalah bapak pendiri madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah di Indonesia meskipun sistem pendidikan madaris yang dibawanya ke Indonesia hasil adopsi dari pendidikan di Makkah dan Madinah.

Pemikiran Syekh Surkati juga banyak di pengaruhi oleh pemikiran Syekh Muhammad Rasyid dan Syekh Muhammad Abduh. Ada juga ulama yang menyebut Syekh Surkati sebagai pembawa paham Syekh Abduh ke Indonesia.

"Jadi, konsep besar reformasi pendidikan Islam yang diusung Syekh Abduh dibawa ke Indonesia oleh Syekh Surkati,'' kata Abdullah.

Untuk membangun peradaban, mengubah keadaan, dan keluar dari belenggu kolonialisme, Syekh Surkati berpendapat, satu-satunya jalan adalah dengan menghilangkan kebodohan atau mencerdaskan umat. Maka, ia memulainya dari lembaga pendidikan untuk berjuang mencerdaskan umat.

"Jamiat Kheir setelah Syekh Ahmad Sur kati menjadi pengelola lembaga pendidikan tersebut terbukti berkembang pesat," jelasnya.

Selain menawarkan sistem pendidikan modern, Syekh Surkati juga memerdekakan jiwa-jiwa dan pemikiran yang tidak merdeka. "Menurut Syekh Surkati, anak yang ter belenggu jiwanya tidak mungkin bisa pintar dan maju, sementara seorang guru tidak bisa leluasa mengajar ke anak didiknya kalau ji wanya tidak merdeka.'' [yy/republika]