12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Hujjatul Islam: Ibnu Taimiyah, Sang Mujaddid Teguh Pendirian

Hujjatul Islam: Ibnu Taimiyah, Sang Mujaddid Teguh Pendirian

Fiqhislam.com - Abul Abbas Taqiuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al- Harrani atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah, adalah seorang ulama besar Islam dari Harran, Turki. Ia lahir pada 10 Rabiul Awwal 661 H (22 Januari 1263 M).

Disamping dikenal sebagai Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai sosok ulama yang keras dan teguh dalam pendirian, sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam. Dia dikenal pula sebagai seorang mujaddid (pembaharu) dalam pemikiran Islam.
 
Ia berasal dari keluarga religius. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang ulama, hakim, dan khatib. Kakeknya, Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan hafidz (penghapal Alquran).

Ibnu Taimiyah lahir di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun (tahun 1268), ia dibawa ayahnya ke Damaskus, Suriah, disebabkan serbuan tentara Mongol atas Irak.

Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera menghapalkan Alquran dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafizh dan ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubus Sittah dan Mu’jam At-Thabrani Al-Kabir.

Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah, yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghapalkannya secara cepat dan tepat.

Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghapalnya. Sehingga ulama tersebut berkata, "Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar. Sebab, belum pernah ada seorang bocah sepertinya."

Sejak kecil, Ibnu Taimiyah hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Alquran dan Sunah Nabi.

Kemampuannya dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan di usia 19 tahun, ia telah memberi fatwa dalam masalah-masalah keagamaan. Ibnu Taimiyah sangat menguasai ilmu Rijalul Hadits (perawi hadits) yang berguna dalam menelusuri hadits dari periwayat atau pembawanya dan Fununul Hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih.

Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu ushul sambil mengomentari para filsuf. Sehari semalam ia mampu menulis empat buah khurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syariah.

Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi, bahwa karangan Ibnu Taimiyah mencapai 500 judul. Karya-karyanya yang terkenal adalah Majmu' Fatawa yang berisi masalah fatwa-fatwa dalam agama Islam.

Penguasaan  Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga melampaui kemampuan para ulama zamannya.

Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat 727 H) pernah mengatakan, apabila Ibnu Taimiyah ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya.

"Para Fuqaha (ahli fikih) dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan mazhab-mazhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujjah-nya," kata Az-Zamlakany.

Az-Zamlakany menambahkan, Ibnu Taimiyah tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariah atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. "Ia juga mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku," ujarnya.

Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H) juga mengatakan, Ibnu Taimiyah adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. "Pada zamannya, dia adalah satu-satunya yang sangat menguasai hadits dan fikih, paling zuhud, pemberani, pemurah, pejuang amar makruf nahi mungkar, dan banyak menulis buku-buku," kata Adz-Dzahabi.

Menurut Adz-Dzahabi, pada waktu itu tidak seorang pun yang bisa menyamai atau mendekati tingkatan Ibnu Taimiyah. "Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist," ungkapnya.

Ibnu Taimiyah tidak hanya andal di lapangan ilmu pengetahuan saja. Ia juga pernah memimpin sebuah pasukan untuk melawan pasukan Mongol di Syakhab, dekat Kota Damaskus, pada 1299 Masehi dan mendapat kemenangan yang gemilang.

Pada Februari 1313, ia juga bertempur di kota Yerussalem dan mendapat kemenangan. Dan sesudah karir militernya itu, ia tetap mengajar sebagai ulama ulung.

Sejarah mencatat bahwa Ibnu Taimiyah tidak saja dikenal sebagai dai yang tabah, wara', zuhud dan ahli ibadah, namun juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Ia juga dikenal sebagai mujahid pembela Islam dari kezaliman musuh dengan pedangnya. Sebagaimana halnya ia seorang pembela akidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan gagah berani, Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Ia sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. "Tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia (Ibnu Taimiyah) bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari," tutur salah seorang Amir yang turut dalam pertempuran tersebut. Akhirnya, dengan izin Allah SWT, pasukan Tartar berhasil dihancurkan. Maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Namun, karena ketegaran, keberanian dan kelantangannya dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepadanya. Mereka meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya ia harus mengalami berbagai tekanan di penjara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

Ternyata, penjara tidak menghalangi kejernihan fitrah keilmuan Ibnu Taimiyah, tidak  menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang akidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

Pengagum-pengagumnya di luar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang berguru pada Ibnu Taimiyah. Ia mengajarkan mereka agar kembali kepada syariat Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan saleh.

Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan, dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal bersamanya di penjara. Akhirnya, penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Namun, kenyataan ini menjadikan musuh-musuhnya dari kalangan  ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan Ibnu Taimiyah dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi ini pun  menjadikannya semakin terkenal.

Pada akhirnya, mereka menuntut kepada pemerintah agar ia dibunuh. Namun, pemerintah tidak mendengar tuntutan  mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Walau demikian, Ibnu Taimiyah berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan  arang. Ia menulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berpikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya seorang Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah wafatnya di dalam penjara Qal`ah, Damaskus, disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Ia berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, dan mengalami sakit 20 hari lebih.

Selama dipenjara, ia selalu beribadah, berdzikir, shalat tahajud dan membaca Alquran. Dikisahkan, setiap harinya, Ibnu Taimiyah membaca tiga juz. Selama itu pula, ia sempat menghatamkan Alquran 80 atau 81kali. Yang mengagumkan, selama berada dalam penjara, Ibnu Taimiyah tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazahnya dishalatkan di Masjid Jami` Bani Umayyah sesudah shalat Dzuhur. Seluruh penduduk Damaskus (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para umara`, ulama, tentara dan sebagainya, Sehingga Kota Damaskus libur total hari itu. Bahkan hampir seluruh warga kota, baik yang tua, muda, laki, perempuan, dan anak-anak keluar untuk menghormati kepergiannya.

Seorang saksi mata pernah berkata tentang pemakama Ibnu Taimiyah, "Menurut yang aku ketahui, tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa."

Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta  dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad  bin Hambal.

Ibnu Taimiyah wafat pada tanggal 20 Dzulhijjah 728 H, dan dikuburkan pada waktu menjelang Ashar di samping kuburan saudaranya, Syekh Jamal Al-Islam Syarafuddin.

republika.co.id