9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Ibnu Mas'ud, Sahabat yang Diizinkan Nabi Berfatwa

Ibnu Mas'ud, Sahabat yang Diizinkan Nabi Berfatwa

Fiqhislam.com - Abdullah bin Mas’ud ra adalah sahabat yang terkenal dan termasuk sahabat yang diizinkan berfatwa. Meskipun ia adalah sahabat yang sangat dipercayai, namun ketika meriwayatkan hadis tubuhnya akan bergetar hebat, air matanya menetes, keringat bercucuran dari keningnya, dan urat-uratnya menegang. Hal itu terjadi sebab ia sangat takut terjerumus dalam kedustaan, meski mendengarnya langsung dari Rasulullah SAW.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa Abu Amr Syaibani ra berkata, “Selama setahun aku tinggal bersama Ibnu Mas’ud, tidak pernah aku dengar satu ucapan pun darinya yang ia nisbatkan kepada Rasulullah SAW. Namun jika ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW tubuhnya akan bergetar.”

Amr bin Maimun ra berkata, “Setiap hari Kamis, selama setahun, aku selalu hadir di majelis Ibnu Mas’ud dan tidak pernah aku mendengar satu ucapan pun yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Pernah ia menerangkan hadits Nabi SAW dan dari lidahnya, hadis tersebut keluar dengan lancar. Seketika itu pula seluruh tubuhnya bergetar, air matanya menetes, keringat bercucuran dari keningnya, dan urat-uratnya menegang. Ia berkata, “Insya Allah, inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW.” Kadangkala ia berkata, “Ya hampir seperti inilah sabda Rasulullah.” Atau, “Hadits ini kurang lebih demikian.” (Muqaddimah Awjaz Musnad Ahmad)

Ia masuk Islam pada masa permulaan, dan telah ikut hijrah ke Habasyah. Ia selalu menyertai setiap peperangan Rasulullah SAW dan menjadi pelayan khusus beliau, sehingga ia dijuluki shahibul-na’al (tuan sandal), shahibul-wisadah (tuan bantal), shabibul-matharah (tuan air wudhu) Rasulullah SAW. Inilah gelar-gelar yang ia sandang karena banyak melayani Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai dirinya, “Seandainya aku memilih pemimpin dari kalian tanpa musyawarah, maka Abdullah bin Mas’ud yang aku akan pilih.”

Beliau juga bersabda, “Kamu boleh berjumpa denganku setiap waktu.”

Sabda lainnya, “Jika kalian ingin  membaca Alquran sesuai dengan bacaan ketika diturunkan, maka bacalah seperti yang dibaca oleh Abdullah bin Mas’ud.”  Kemudian sabda Nabi SAW, “Jika Abdullah bin Mas’ud menerangkan hadis, maka percayailah keterangannya.”

Diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Musa Asy’ari ra bahwa ketika mereka datang dari Yaman, beberapa lama mereka mengira Ibnu Mas’ud termasuk Ahlul-bait. Sebab Ibnu Mas’ud dan ibunya sering berada di rumah Rasulullah SAW sebagaimana ahli rumahnya.

Begitulah Ibnu Mas’ud selalu berhati-hati dalam menerangkan hadits Nabi SAW. Sebab ia selalu mengingat sabda Nabi SAW, “Barangsiapa berdusta atas namaku, neraka Jahanamlah tempatnya.” Walaupun hadits-hadits itu ia dengar langsung dari Nabi SAW, tetap ada kekhawatiran pada dirinya akan terjerumus dalam kedustaan. [yy/republika]