12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Belajar dari Thawus, Ulama yang tak Mempan Disogok

Belajar dari Thawus, Ulama yang tak Mempan Disogok

Fiqhislam.com - Keteguhan Thawus bin Kaisan dalam menjaga kesucian iman dan ilmu patut menjadi teladan bagi setiap umat Islam terutama para  alim yang dekat dengan penguasa. Seperti dikisahkan dalam buku “Mereka adalah Tabiin” , Thawus disebut sebagai sosok yang mantap dalam iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal.

Bagaimana tidak mesti berkali-kali pengusa setingkat gubernur memberikan hadiah demi mengurangi keritikan tajam Thawus terhadap lingkaran kekuasaan, Thawus tidak segan menolak dan mengembalikannya hadiahnya secara langsung. Dia tetap menyampaikan apa yang memang harus disampaikan seperti sebuah nasihat dan ilmu yang juga pernah dia terima dari sahabat-sahabat Rasulullah SAW. 

Thawus memiliki pendapat bahwa kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa. Untuk itu dia tidak segan ketika menyampaikan nasihatnya (berdakwah) selalu menyampaikan sesuai apa yang disampaikan Rasulullah SAW dan Alquran. Karena bila baik pemimpinnya, akan baik pula umatnya. Bila rusak pemimpinnya, rusak pula rakyatnya. 

Begitulah sekilas tentang Dzakhwan bin Kaisan yang mendapat julukan Thawus (burung merak) karena dia laksana thawus bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya. Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernur negerinya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf yang juga berpengaruh di Makkah. 

Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat dan pamornya melejit, terutama sejak ia mampu membendung gerakan Abdullah bin Zubair. Muhammad bin Yusuf mewarisi banyak sifat jahat saudaranya, Hajjaj bin Yusuf, namun tak sedikit pun kebaikan Hajjaj yang diambilnya.

Pada musim dingin, kebanyakan penduduk Yaman memilih diam tidak protes atas kondisi yang menyulitkan akibat kerakusan sang penguasa. Namun  Thawus bin Kaisan dan Wahab bin Munabbih mendatangi Muhammad bin Yusuf.

Setelah duduk di hadapan wali itu, Thawus memberikan nasihat panjang lebar, berupa anjuran dan juga ancaman. Sementara itu orang-orang duduk di depan amirnya dan tercengah melihat keberanian Thawus memberikan nasihat kepada orang yang kekuasaanya sedang di atas angin.

Melihat ketangkasan Thawus dalam menyampaikan nasihat, Muhammad bin Yusuf yang kala itu baru beberapa tahun menjabat sebagai gubernur hanya tersenyum. Namun penguasa itu menghiraukan nasihat Thawus untuk memperbaiki pribadinya. 

Dengan santai Muhammad bin Yusuf berbisik kepada pengawalnya yang sedang memperhatikan Thawus berceramah di depan pusan pemerintahannya.   “Ambilkan seperangkat pakaian berwarna hijau yang mahal lalu letakkan di bahu Abdurrahman (panggilan lain Dzakhwan bin Kaisan).” 

Setelah menyerukan kepada pengawalnya Muhammad bin Yusuf bergumamam. “ Heem, setelah ini kau akan diam.” Kata Muhammad sambil menyinggungkan bibirnya.

Ternyata benar, pengawal itu segera melaksanakan perintahnya. Dia megambil seperangkat pakaian warna hijau yang mahal lalu dia meletakkannya di atas bahu Thawus.  Akan tetapi, Thawus terus saja melanjutkan nasihatnya. Bukan karena cara memberinya yang tidak sesuai kehendak Thawus tapi tekadnya untuk mengajak penguasa zalim kembali kejalan yang benar.

Ketika itu Thawus merasa ada beban bertambah di antara pundak kanannya. Namun dia tidak menghiraukannya. Dia sadar dari wanginya kalau itu adalah sebuah pemberian dari yang untuk menghentikan dakwahnya. Namun, perlahan tapi pasti, di tengah ia sedang semangat berbicara, sesekali diselingi dengan menggoyangkan bahunya secara halus hingga akhirnya jatuhlah pakaian tersebut. Setelah itu dia berdiri dan beranjak dari tempat itu.

Muhammad bin Yusuf tersinggung menyaksikan hal tersebut. Wajah dan matanya berangsur memerah, namun dia tidak berkata apa-apa. Sementara itu Thawus dan Wahab sudah berada di luar majelis. Wahab berkata kepada Thawus.“Demi Allah, sebenarnya kita tidak perlu membuat dia marah kepada kita. Apa salahnya bila Anda menerima pakaian tadi kemudian Anda jual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin?”

Thawus berkata, “Apa yang Anda katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, “Kami akan mengambil seperti Thawus bin Kaisan,” (Yakni menerima pemberian penguasa) akan tetapi mereka tidak melakukan seperti yang Anda ucapkan.” (yakni menjual dan menyedekahkannya kepada fakir miskin).

Upaya Muhammad bin Yusuf menjatuhkan kehormatan Thawus dengan menyogoknya mealui barang-barang mewah  tetap dilanjutkan. Meski usaha pertamanya gagal, Muhammad bin Yusuf yang sedang berada pada kekuasaan itu tidak patah arang. Kali ini seakan Muhammad bin Yusuf ingin pemberiannya dengan barang yang 1000 kali lipat lebih mahal dari pada pemberiannya ketika itu.  Yang diibaratkan pemberiaan kali ini sebagai pembalasan karena Thawus bin Kaisan telah menolak pemberian pertamanya

Setelah beberapa hari setelah itu. Muhammad bin Yusuf menyiapkan perbendaharaan hartanya lalu mengutus seorang kepercayaannya membawa satu pundi-pundi berisi 700 dinar emas, lalu dia berkata.“Berikan bingkisan ini kepada Thawus,” 

Karena pemberiaan pertamanya telah gagal Muhammad bin Yusuf meminta agar pemberiannya tidak sampai balik lagi. “ Harus diusahakan supaya dia menerimanya.” pintanya. Si penguasa pun tak segan akan memberikan hadiah kepada pengawalnya jika berhasil membujuk Thawus untuk menerima pemberian sang penguasa. “Bila engkau berhasil, aku sediakan untukmu hadiah yang berharga.” Kata Muhammad bin Yusuf lagi.

Dengan wajah riang gembira dan penuh keyakinan akan menerima hadia dari sang gubernur, utusan yang mendapat perintah itu langsung berangkat dengan membawa hadiah tersebut ke tempat kediaman Thawus.  Kala itu di sebuah desa dekat Shan’a yang disebut dengan al-Janad tempat tinggal Thawus, dia sedang bersama teman-teman seperjuangannya berbincang ringan.

Setelah memberi salam kepada orang-orang yang ada di dekat Thawus, utusan itu berkata.  “Wahai Abu Abdirrahman, ini ada nafkah dari amir untuk Anda.”  “Maaf, saya tidak memerlukan itu.” Jawab Thawus dengan lembut tanpa sambil melihat apa yang disodorkan utusan gubernur itu.

Meski sempat melihat barang yang disodorkan kehadapannya. Thawus tidak membukan bungkusan itu. “Coba lihat dulu wahai Thawus siapa tahu satu saat kamu membutuhkannya,” kata utusan itu sambil merayunya.

Segala kata dalam rayuan sudah utusan gubernur itu itu keluarkan. Cara-cara juga sudah dia lakukan, Namun hasilnya tetap nihil. Pemberian itu tidak berhasil Thawus terima.  Thawus tak memberikan reaksi apapun.“Silahkan ambil barang ini sebelum saya berlaku tidak adil.” Katanya

Karena sang  gubernur sudah mengancam dari awal jangan sampai peberiannya itu kembali lagi, akhirnya utusan itu mencari kesempatan Thawus lengah. Secara diam-diam dia taruh pundi-pundi itu di salah satu sudut rumah Thawus. Setelah itu diapun kembali dan melapor kepada amir. 

“Wahai amir, Thawus telah menerima pundi-pundi itu.” Betapa senangnya amir mendengar berita itu, namun dia tak berkomentar sedikit pun. Dia berpikir bahwa Thawus pasti telah membelanjakannya untuk keperluan macam-macam dan habis. Di sininalah upaya balas dendam untuk mempermalukan Thawus dimulai.

Beberapa hari setelah itu, sang gubernur itu mengutus dua orang dan diikuti pula oleh utusan yang membawakan hadiah untuk Thawus. Tujuannya adalah mengambil kembali hadiah yang tempo hari diberikann kepada Thawus.

Agar tidak ketahuan kelicikannnya. Sang gubernur meminta utusannya untuk berkata. “ Bahwa utusan Thawus dahulu keliru menyerahkan harta itu kepada Anda. Sebenarnya harta itu untuk orang lain.” Katanya. “Untuk itu sekarang kami datang untuk menariknya kembali dan menyampaikannya kepada orang yang benar.” Kata pengawal itu kepada Thawus.

Meski tidak tahu bahwa pertanyaan itu adalah jebakan untuk menjatuhkan martabatnya. Thawus menjawab dengan tenang dan apa adanya.  “Aku tidak menerima apa-apa dari amir, apanya yang harus aku kembalikan?” Namun, kedua pengawal itu bersikeras dan meminta Thawus segera mengembalikannya.  “Tapi anda telah menerimanya.” katanya lagi.

Thawus menoleh kepada utusan gubernur dan bertanya. “Benarkah aku telah menerima sesuatu darimu?” Utusan itu gemetar karena takut lalu menjawab: “Tidak, tetapi saya menaruh uang itu di lubang dinding tanpa sepengetahuan Anda.” katanya.Thawus berkata, “Coba lihatlah di tempat tersebut!”

Kedua pengawal itu memeriksa tempat yang dimaksud dan ternyata mereka mendapatkan pundi-pundi berisi uang itu masih utuh seperti semula. Keduanya harus menyibak sarang laba-laba untuk mengambilnya lalu dikembalikanlah uang itu kepada gubernur.

Peristiwa Thawus telah dizalimi oleh gubernurnya itu diceritakan kepada Hajjaj bin Yusuf ketika berada di Mekah untuk menunaikan ibadah haji.  Hajjaj yang juga saudara dari sang gubernur yang memiliki pengaruh besar di wilayah baitullah itu bertanya-tanya tentang perkara manasik haji yang belum diketahui Hajjaj.

Namun, ketika sedang asik berbicang, Hajjaj mendengar suara seseorang bertalbiah (membaca doa talbiah) di samping Baitullah dengan suara keras dan memiliki gema yang menggetarkan hati.

Karena suara lirih itu Hajjaj berkata. “Bawalah orang itu kemari!” Orang itupun dibawa masuk kemudian ditanya. “Dari golongan manakah engkau?” Dia menjawab, “Saya adalah satu di antara kaum Muslimin.” Hajjaj berkata, “Bukan itu yang aku tanyakan, saya bertanya dari negeri mana engkau berasal?” Dia menjawab, “Saya penduduk Yaman.” Hajjaj berkata, “Bagaimana keadaan gubernurku yang di sana?” (yakni saudara Hajjaj) Dia menjawab, “Waktu saya pergi, beliau dalam keadaan gemuk, kuat, dan segar bugar.”

Mendengarkan jawab yang bukan diharapkannya Hajjaj berkata lagi.  “Bukan itu yang aku maksud.” Dengan nada sedikit kesal, Hajjaj bertanya balik. “Lalu dalam hal apa yang ingin anda ketahui tentang gubernur saya di sana?”. Hajjaj dengan lembaut kembali bertanya lagi.  “Bagaimana perlakuannya terhadap kalian?” Dia menjawab, “Waktu saya pergi, beliau adalah seorang yang zhalim dan jahat, taat kepada makhluk dan membangkang terhadap sang Khaliq.”

Wajah Hajjaj merah padam karena malu mendengar perkataan orang tersebut. Lalu dia berkata, “Bagaimana engkau bisa mengatakan demikian sedangkan engkau tahu kedudukan dia di sisiku (yakni saudaranya)?” Dia menjawab, “Apakah Anda mengira bahwa kedudukan dia di sisi Anda lebih mulia daripada kedudukan saya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sedangkan saya bertamu di rumah-Nya sebagai haji, saya beriman kepada nabi Muhammad SAW, dan saya melaksanakan agama Nabi Muhammad” dam Hajjaj bin Yusuf pun bungkam, tak mampu bicara apa-apa. [yy/republika]