pustaka.png.orig
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Jasa Syekh Thaib Umar dalam Pengembangan Pendidikan Islam

Jasa Syekh Thaib Umar dalam Pengembangan Pendidikan Islam


Fiqhislam.com - Pendidikan merupakan tonggak dari syiar Islam di Indonesia. Seiring perkembangannya, pen didikan ini mulai berubah meng gunakan pembelajaran modern. Hal ini tak terlepas dari peran ulama asal Sumatra Barat, Syekh Muhammad Thaib Umar.

Dia merupakan cendekiawan yang pertama kali menggunakan model pembelajaran modern di sekolah agama di Sumatra Barat. Dia pula yang mereformasi bahasa khutbah Jumat dan khutbah hari raya dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Syekh Thaib Umar lahir di Sungayang, Batusangkar, Sumatra Barat, pada 1874. Dia merupakan putra dari salah satu ulama terkenal saat itu, Umar bin Abdul Qadir. Sejak kecil, dia dibimbing langsung oleh ayahnya, sehingga dia memiliki kelebihan dibandingkan teman-temannya.

Sang alim mulai belajar huruf-huruf Alquran sejak berusia tujuh tahun. Setahun kemudian, untuk lebih meningkatkan ilmu agama, ia juga berguru ke surau milik pamannya, H Muhammad Yusuf. Di tempat inilah ia belajar membaca ayat dan surah pendek. Ketika menginjak usia sembilan tahun, orang tuanya mengirim dia belajar mengaji kepada H Muhammad Yasin di surau Tengah Sawah, Sungayang, hingga khatam Alquran.

Sejak kecil hingga dewasa, dia tidak pernah merasakan menuntut ilmu di sekolah umum karena adanya diskriminasi pendidikan dari pemerintah Belanda. Akan tetapi, Thaib Umar sangat menguasai ilmu agama setelah menimba ilmu agama ke beberapa ulama terkenal, seperti Syekh Haji Abdul Manan dan Syekh M Shalih.

Di masa kecilnya, Thaib Umar memang dikenal sebagai anak yang cerdas. Sebagai ulama, ayahnya saat itu berharap bisa mengirimkannya ke Makkah untuk menuntut ilmu. Pada 1892 Thaib Umar berangkat ke Tanah suci bersama ayahnya untuk menunaikan ibadah haji.

Setelah melaksanakan ibadah haji, Thaib Umar tinggal di Makkah selama lima tahun untuk mendalami ilmu agama. Dia pun berguru kepada banyak ulama yang di antaranya adalah Syekh Akhmad Khatib Al-Minangkabawi.

Pada 1897 Thaib Umar kembali ke Tanah Air dan mengajar ilmu agama di surau yang didirikan ayahnya di kampung halaman. Seiring berjalannya waktu, santri-santri yang mengikuti pengajiannya pun makin bertambah.

Setelah berusia 23 tahun, dia membangun surau sendiri di Tanjung Pauh, Sunga yang, Batusangkar. Surau yang dibangunnya itu juga berkembang dengan cepat. Jumlah santrinya terus meningkat. Tak hanya berasal dari sekitar Batusangkar, tapi juga dari daerah lain di Sumatra Barat.

Setelah cukup lama mengajar, Thaib Umar pun mulai melakukan sejumlah inovasi, khususnya terhadap sistem pengajaran dan jumlah mata pelajaran agama. Di surau yang didirikannya, Thaib Umar mengajarkan ilmu nahu, saraf, fikih, dan tafsir.

Kemudian, dia memperbarui model pendidikan Islam tersebut. Dia menambahkan mata pelajaran Islam lainnya, seperti ushul fikih, hadis, musthalah hadis, tauhid, mantiq, ma'ani, bayan, dan ilmu badi'.

Pada 1909 Thaib Umar juga membuat terobosan surau menjadi lembaga pendidik an madrasah di Batusangkar. Dalam pengelolaannya, kemudian dia menyerahkan kepada guru-guru agama yang pernah menjadi santrinya. Sementara, Thaib Umar sendiri membangun madarasah lagi di Sungayang, yaitu Madrasah School.

Madrasah tersebut berbeda dari pesantren atau surau. Para santri tak lagi mengaji dengan model sorogan atau halaqah, melainkan telah menggunakan sarana bangku, meja, dan papan tulis. Madrasah School lebih modern dibandingkan madrasah yang dibangun sebelumnya.

Madrasah tersebut merupakan yang pertama di Sumatra Barat yang menggunakan model seperti itu. Mata pelajaran yang diajarkan juga terus ditambahkan untuk membuka wawasan murid-muridnya. Di samping mata pelajaran agama Islam, Thaib Umar juga menambahnya dengan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu berhitung dan aljabar.

Namun, pembaruan yang dilakukan Thaib Umar tersebut dianggap terlalu modern untuk masyarakat Minangkabau kala itu, sehingga Madrasah School hanya dapat bertahan kurang dari empat tahun. Pada 1914 Thaib Umar terpaksa menutup sekolah modern itu. Setelah itu, Thaib Umat kembali menerapkan model pengajaran seperti di surau.

Selain berdakwah lewat pendidikan formal, Thaib Umar juga aktif dalam berdakwah untuk masyarakat umum. Bahkan, dia berdakwah lewat tulisan di majalah Al-Munir pada 1914. Majalah tersebut dipimpin oleh H Abdullah Ahmad.

Lewat majalah pertama di Minang kabau tersebut, Thaib umar sering menyampaikan pandangan-pandangannya yang lebih modern. Dengan optimistis, dia kerap mengajak generasi muda Muslim untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum tanpa mengesampingkan ilmu agama. Ilmu pengetahuan umum itu dirasa penting untuk kebutuhan hidup di dunia.

Karena itu, dia tidak menyukai kebiasaan generasi Muslim Indonesia yang hanya mementingkan pelajar ilmu fikih. Visi Al-Munir sesuai dengan tujuan dakwah Thaib Umar selama hidupnya. Majalan tersebut juga bertujuan menyiarkan agama Islam yang sejati dan menegakkan syariat Nabi Muhammad SAW. Apalagi, majalah tersebut juga berani dalam mengkritik pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Syekh Thayyib Umar pernah menulis syair sindiran terhadap para santri dalam majalah Al-Munir yang terbit 1912. Berikut syairnya:

Jangan diikut masa yang lata Menuntut ilmu suatu mata Sekadar fiqih hanya dicinta Sehabis umur sendi anggota Habislah masa fiqih tak terang Rupa yang sungguh berupa karang Awaklah faqih disangka orang Ilmu yang tahqiq dapatnya jarang Adapun masa dahulu hari Ilmu dituntut pemagar diri Sekadar bergelar faqih dan kari Untuk pelepas rodi negeri Lebih-lebih di Minangkabau Guru masyaikh pandai mengimbau Ditipunya awam seperti kerbau Ke dalam khalwat banyak terambau.

Selain melakukan pembaharuan dalam pendidikan Islam, Thaib Umar juga melakukan pembaharuan lainnya di Masjid Lantai Batu Batusangkar pada 1918. Dimasjid itu, dia menjadi pelopor penggunaan bahasa Indonesia saat menyampaikan khutbah Jumat dan khutbah hari raya Idul Fitri maupu Idul Adha. Terobosan Thaib Umar tersebut tentu merupakan suatu kemajuan. Karena, sebelumnya, khutbah Jumat dan khutbah hari raya hanya menggunakan bahasa Arab yang tidak banyak masyarakat mengerti.

Langkah Thaib Umar itu pun mendapat kecaman dari ulama-ulama tradisional. Kendati demikian, Thaib Umar tetap dengan pendiriannya. Dia tetap menyelipkan bahasa Indonesia dalam khutbahnya.

Dalam buku 50 Pendakwah Pengubah Sjarah, Thaib Umar bahkan disebutkan sebagai ulama pertama yang menulis buku khut bah Jumat dan khutbah hari raya dalam bahasa Indonesia. Pada 1918 buku khutbah dalam bahasa Indonesia itu dicetak dan disebarkan ke seluruh Minang kabau.

Setelah melakukan sejumlah pembaharuan, Syekh Thaib Umar dipanggil oleh Allah pada 22 Juli 1920. Dia wafat di kampung halamannya di Batusangkar. Pemikiran Thaib Umar yang berkemajuan patut diteladani oleh seluruh masyarakat Muslim Indonesia, sehingga tidak tertinggal lebih jauh dari peradaban Barat.

Syekh Thaib Umar merupakan ulama besar tanah Minang yang melahirkan banyak tokoh. Dia merupakan ulama yang me megang teguh ajaran Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Di antara muridnya adalah Prof Mahmud Yunus, seorang tokoh pendidikan Islam Indonesia.

Selama hidupnya, Syekh Thaib Umar juga pernah menulis kitab risalah yang berjudul Aqa'id al-Iman. Kitab terebut menjabarkan akidah lima puluh yang sesuai dengan ajaran Aswaja. [yy/republika]