fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Al-Mustakfi Billah, Di Bawah Bayangan Panglima

Nama aslinya Abdullah bin Al-Muktafi bin Al-Mu'tadhid (944-946 M). Ibunya seorang mantan budak bernama Amlahunas. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Al-Mustakfi Billah atau Abul Qasim.

Al-Mustakfi dilantik sebagai Khalifah Bani Abbasiyah ke-22 setelah pencopotan Al-Muttaqi. Pelantikannya berlangsung pada Shafar 333 H dalam usia 41 tahun.

Setahun masa pemerintahan Al-Mustakfi, Amirul Umara bernama Tuzun meninggal. Salah seorang panglimanya yang terkemuka bernama Abu Ja'far bin Syairazad segera diangkat menggantikan posisinya.

Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', Ibnu Syairazad sangat berambisi terhadap jabatan itu. Bahkan ia sempat mengumpulkan pasukan. Untuk itu, khalifah memberinya posisi penting.

Sementara itu, Panglima Ahmad bin Buwaih yang menguasai wilayah Kirman dan Makram telah maju dengan pasukannya merebut dan menguasai wilayah Ahwaz di sepanjang pinggiran sungai Tigris. Dengan kedudukan itu, ia semakin mendekati Baghdad.

Ketika berita mangkatnya Tuzun sampai ke telinganya, ia bersama pasukannya bergerak menuju Baghdad. Ia hendak merebut jabatan Amirul Umara. Khalifah Al-Mustakfi dan Amir Zairik bin Syairazad terpaksa melarikan diri dari Baghdad. Panglima Ahmad bin Buwaih dan pasukannya menduduki ibukota.

Belakangan Khalifah Al-Mustakfi muncul kembali dan pura-pura menerima kedatangan Panglima Ahmad bin Buwaih. Untuk membuktikan hal itu, ia mengangkat sang panglima sebagai Amirul Umara. Dengan demikian, resmilah Panglima Ahmad bin Buwaih memegang kekuasaan tertinggi dalam Daulah Abbasiyah. Ia pun mengumumkan dirinya dengan panggilan Amir Muiz Ad-Daulah.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, Panglima Buwaih meresmikan wilayah Fars tetap berada di bawah kekuasaan saudaranya dan keturunannya. Ia pun menganugerahkan panggilan untuk saudaranya itu dengan Amir Imadh Ad-Daulah.

Selanjutnya ia meresmikan wilayah Isfahan untuk tetap di bawah kekuasaan saudaranya, Panglima Hasan bin Buwaih beserta keturunannya dan melekatkan panggilan kepadanya dengan julukan Amir Rukn Ad-Daulah.

Dengan demikian, keluarga Buwaih memegang posisi penting yang amat menentukan sejarah Daulah Bani Abbasiyah selanjutnya. Merekalah yang akan mewarnai sejarah dan melakukan perubahan.

Sementara itu, Panglima Zairak bin Syairazad datang menghadap Muiz Ad-Daulah. Dengan kemurahan hatinya, Muiz memberikan jabatan Diwan Jibwatul Amwal
(Kepala Jawatan Pajak) kepada Ibnu Syairazad.

Menjelang pengujung 334 H, terbongkar rencana Khalifah Al-Mustakfi yang akan membunuh Amir Muiz Ad-Daulah. Rencana itu disiapkan oleh Qahrimanat Illam yang mendapatkan persetujuan dari sang khalifah.

Muiz Ad-Daulah segera mengirimkan dua orang pembesar dari Jawatan Penyelidik atau Diwan Nuqaba' untuk menyeret sang khalifah dan Qahrimanat ke hadapannya. Sejarah mencatat, betapa Khalifah Al-Mustakfi dan Qahrimanat diseret dari istana dan dibawa menghadap Muiz Ad-Daulah.

Setelah terbukti rencana gelap itu, Khalifah Al-Mustakfi dijebloskan ke penjara. Sedangkan Qahrimanat bin Illam dipotong lidahnya. Khalifah Al-Mustakfi hanya memerintah selama satu tahun empat bulan. Ia masih tetap hidup dalam penjara sampai 335 H dan wafat dalam usia 42 tahun.

republika.co.id

Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni