2 Dzulhijjah 1443  |  Sabtu 02 Juli 2022

basmalah.png

Para Penggenggam Bara Api

Para Penggenggam Bara Api

Fiqhislam.com - Sungguh sebagian besar manusia merasa aneh jika ditanya seperti ini, Apakah engkau seorang sahabat Nabi ?

Jawaban atas hal ini merupakan sesuatu yang mustahil, jika kita melihat istilah sahabat dalam ilmu hadits. Karena dalam ilmu hadits seorang shahabat atau shahabiyyah adalah seseorang yang hidup pada masa Nabi shalllahu ‘alayhi wa sallam dan saat itu ia bertemu dengannya. Masa itu telah berlalu dan tidak akan mungkin kembali. Syarat-syarat ini mustahil  kita penuhi. Untuk itu, menurut ilmu mushthalahul hadits, tidak mungkin kita menjadi shahabat Nabi.

Syarat-syarat apakah yang wajib dipenuhi dalam diri manusia, menurut ulama hadits, sehingga seseorang bisa disebut sebagai seorang sahabat Nabi ..?

Syarat yang pertama :

Hendaknya ia melihat Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dalam kehidupannya. Atau pernah berkumpul bersamanya.

Maka tentu saja ia harus pula pernah melihat Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Sehingga tidaklah seorang dianggap sahabat meskipun ia hidup satu masa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, namun tidak pernah melihatnya, meskipun ia hidup sezaman dengannya.

Untuk itu raja Najasyi tidak bisa disebut sebagai seorang sahabat, meskipun ia hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dan beriman kepadanya pada masa hidupnya, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Sehingga berkatalah para ulama hadits, “Atau pernah berkumpul bersama dengannya.”

Termasuk dalam ungkapan ini, seseorang yang pernah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam akan tetapi tidak pernah melihatnya, karena cacat atau karena dihilangkan nikmat penglihatan. Seperti halnya Abdullah bin Ummi Maktum radhiyaLlahu ‘anhu. Beliau dianggap sebagai sahabat Nabi karena pernah berkumpul bersama dengan Rasul, meskipun tidak pernah melihatnya, karena ia memiliki kekurangan. Tentu saja, penglihatan yang dimaksud adalah melihat pada saat terjaga, bukan pada saat tidur.

Syarat yang kedua : 

Hendaknya ia beriman kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Maka tidaklah dianggap sebagai seorang sahabat Nabi, seseorang yang pernah hidup semasa dengan Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, dan melihatnya, dan pernah berkumpul bersamanya, akan tetapi orang tersebut masih kafir bertahun-tahun lamanya hingga Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam meninggal. Kemudian ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah meninggal barulah orang tersebut beriman. Maka orang seperti ini tidak bisa disebut sahabat, akan tetapi disebut Tabi’in, yang belajar melalui tangan sahabat Nabi.

Syarat yang ketiga :

Hendaknya ia mati dalam keimanan.

Maka sahabat adalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam di masa hidupnya Rasulullah, dan melihat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam di saat ia hidup, kemudian ia mati dalam keimanan.

Tiga syarat ini apabila terkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah sahabat. Dan sahabat ini jumlahnya banyak sekali. Lebih dari 114.000 yang memenuhi syarat-syarat ini. Sehingga kita bukanlah para sahabat. Karena kita tidak pernah hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Kita juga tidak pernah melihatnya. Kita tidak pernah melalui pengalaman-pengalaman hidup bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Sebagaimana telah kita sebut tadi, maka menurut ilmu musthalahul hadits, mustahil kita akan menjawab pertanyaan ini : Apakah anda sahabat ? Dengan jawaban,”Ya.”

Akan tetapi apa maksud dari pertanyaan ini : Apakah anda seorang sahabat ..?

Apabila mustahil untuk menjadi seorang sahabat dalam kajian mustalahul hadits, maka apa maksud dari kata “Kun Shahabiyyan .. Jadilah engkau seorang sahabat ..?” 

Maksudnya adalah engkau menjadi seperti seorang sahabat Nabi dalam aqidahmu, dalam imanmu, dalam pemikiranmu, dalam pemahamanmu terhadap agama ini, dalam obsesimu, dalam tujuan-tujuanmu, dalam pembelaanmu terhadap Islam, dalam kecemburuanmu terhadap kehormatan kaum muslimin, dalam menerapkan seluruh hal baik yang kecil maupun besar dalam agama ini.

Maksud dari pembahasan ini adalah agar kita memahami penyebab-penyebab sejati yang menjadikan seorang sahabat menjadi sahabat.

Sungguh, keutamaan para sahabat bukanlah saja karena mereka hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Atau karena mereka hidup di satu zaman tertentu. Karena sesungguhnya hidup pula semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’ith, dan yang lainnya dari kaum musyrikin.

Sesungguhnya keutamaan para sahabat ini muncul dari komitmen mereka untuk mempelajari agama ini dengan komitmen yang sungguh-sungguh. Dan mereka mengikuti Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dengan sangat dalam. Mereka mencintai syari’at ini dengan kecintaan yang tulus, jujur dan sejati.

Maksud dari pembahasan ini adalah agar kita menjadi kaum yang ber’amal. Sehingga tidaklah keinginan kita hanya sekedar mendengarkan cerita-cerita. Atau mengumpulkan riwayat-riwayat. Akan tetapi keinginan kita adalah agar mencapai apa yang telah dicapai oleh manusia-manusia hebat ini (maksudnya : para shahabat). Atau setidaknya mendekati apa yang telah mereka capai.

Dan inilah maksud dari ungkapan, “Kun Shahabiyyan, jadilah engkau seorang sahabat.”

Dan inilah maksud dari pertanyaan, “Apakah anda seorang sahabat ..?”

Salah seorang sahabatku mengucapkan sesuatu yang aneh. Dan nampaknya hal yang aneh inilah yang menjadi penyebab saya mempersiapkan pembahasan ini.

Dia berkata, “Sesungguhnya saya jika membaca kisah-kisah para sahabat, atau mendengar kisah-kisah sahabat, saya merasa diri menjadi lemah.”

Saya berkata, “Ini adalah hal yang sangat bertentangan. Sesungguhnya kita membaca sirah sahabat dan orang-orang shalih agar kita bersemangat dalam ber’amal. Agar kita menjadi rajin setelah lesu. Maka mengapa anda bisa merasakan seperti itu ?”

Dia berkata, “Setiap kali saya membaca tentang sahabat, saya mendapati amal-amal yang mustahil untuk saya lakukan.”

Dia berkata : “Saya mendapati kesungguhan para sahabat  dalam berjihad. Saya mendapati keteguhan mereka dalam keimanan. Saya mendapati tekad mereka yang kuat dalam melaksanakan shaum, qiyamullail, pengorbanan, shadaqah. Saya mendapati ketersambungan mereka dalam melakukan kebaikan dan kebajikan di malam dan siang hari. Di waktu musim dingin maupun panas. Tidak ada bedanya baik itu anak-anak maupun pemuda. Baik itu orang muda maupun orang tua. Seluruhnya bersungguh-sungguh untuk Allah Azza wa Jalla. Hartanya seluruhnya diberikan di jalan Allah. Fikirannya seluruhnya dicurahkan di jalan Allah.

Maka saat saya mendapati hal-hal tersebut, saya merasa sangat lemah sekali. Sangat jauh dari jalan hidup mereka. Maka diri saya tertutupi oleh perasaan tidak mampu dan putus asa.”  

Selesailah ucapan teman saya itu.

Saya berkata kepada teman saya itu.

“Sebagian ucapanmu itu dapat saya terima. Saya sungguh-sungguh sepakat. Akan tetapi setengah yang berikutnya saya berbeda pendapat denganmu. Maka sebagaimana yang kau ucapkan tadi, bahwa secara perbuatan, sahabat adalah generasi yang unik yang kehidupan mereka sangat menakjubkan sekali. Pengorbanan mereka tidak pernah berhenti sedetikpun. Oleh karena itu nilai mereka sangatlah tinggi. Sangat berharga sekali. Cukuplah jika engkau mendengar apa yang difirmankan Allah Azza wa Jalla tentang hak mereka secara keseluruhan,

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah ayat 100)

 Dan Allah Azza wa Jalla tidak menyebutkan syarat Ihsan (dengan baik) dalam ‘amalnya sahabat, maka Allah berfirman.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar. (At-Taubah ayat 100)

Akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka diberikan syarat ihsan kepada mereka.

Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (At-Taubah ayat 100)

Karena sesungguhnya para sahabat assabiqunal awwalun, baik itu muhajirin maupun anshar mereka seluruhnya telah ber’amal dengan ihsan.

Hal ini adalah sesuatu yang telah diketahui sebagai ciri dari generasi sahabat. Karena itu derajat mereka sangatlah tinggi dan mulia di sisi Rabb kita subhanahu wa ta’ala. Juga di sisi Rasulullah. Demikian pula di sisi kaum mu’minin. Satu derajat yang merupakan puncak keindahan. Ini adalah hal yang saya sepakat denganmu, bahwa sesungguhnya mereka, generasi sahabat ini telah mencapai satu derajat yang sangat tinggi.

Akan tetapi hal yang aku berbeda pendapat dengan temanku adalah, munculnya perasaan tidak mampu. Putus asa ketika mendengar kisah-kisah ini. Atau ketika membaca sirah mereka. Maka hal yang paling baik untuk menggantikan perasaan putus asa dan ihbath ini adalah kita menyibukkan diri kita dengan mencari tahu bagaimana kaum assabiqunal awwalun ini mencapai apa yang mereka capai ? Dan bagaimana mereka menemukannya ?

Fikirkanlah tentang masalah ini dengan akalmu. Para sahabat selalu berjalan di jalan yang dikenal, jalan yang jelas. Dan ini adalah jalan yang juga ada dihadapan kita. Jalan itu berada dalam kitab Allah Azza wa Jalla, dan dalam Sunnah Rasul yang Mulia shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Apabila perkaranya seperti itu, maka mengenal jalannya, dan melangkah di jalan tersebut menjadi jaminan agar kita mencapai apa yang mereka telah capai.

Contohnya, kalau saya berkata kepada Anda, “Jalanlah di jalan ini, janganlah berpaling ke kanan atau kiri, maka engkau akan mencapai kota Iskandariyah.”

Jalan yang lurus, dari titik ini ke titik berikutnya, akan menghantarkan engkau ke Iskandariyah. Maka setiap orang yang melangkah di atas deskripsi ini ia akan sampai.

Maka generasi sahabat telah berjalan di jalan ini. Tidak berpaling ke kanan atau kiri. Maka mereka telah mencapai apa yang ingin mereka capai. Demikian pula kita, jika melangkah di jalan yang sama, tanpa berpaling ke kanan maupun kiri, dengan sendirinya kita akan mencapai apa yang telah diraih para sahabat.

Kadangkala engkau berfikir bahwa engkau lebih pintar daripada syari’at Allah. Kadangkala kita berfikir seperti itu, karena kita menganggap bahwa kita mampu mengambil jalan yang lain yang dapat menghantarkan kita lebih cepat kepada apa yang ingin kita capai. Padahal asalnya, jalan yang lurus adalah jalan yang paling pendek. Dan jalan syari’at selalu jalan yang lurus, tidak ke kanan dan ke kiri. Allah Azza wa Jalla berfirman,

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah ayat 6) 

Anda mengucapkannya sekurang-kurangnya 17 kali dalam sehari dalam shalatmu. Tujuh belas raka’at yang diwajibkan atasmu untuk membaca al-fatihah. Agar Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbingmu

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (al-An’aam ayat 153)

Jalan ini selalu disifati sebagai jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mencoba untuk mengambil jalan yang bercabang dari jalan yang lurus ini maka ia tidak akan sampai selama-lamanya. Dan barangsiapa yang menyimpang walaupun satu derajat maka ia tidak akan sampai kepada tujuannya.

Dan barangsiapa yang melihat bahwa jalan tarbiyyah yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah jalan yang panjang, karena di dalamnya ada da’wah, ada cobaan, ada kesabaran, ada perjuangan, dan ketika ia mendapati jalan ini panjang, ia akan berkata,"Saya akan mengambil jalan yang lebih ringkas. Saya akan langsung masuk ke Badar. Saya akan mengubah masyarakat ini dengan pedang sebagaimana dulu Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam mengubah dengan pedang."

Beliau shallaLlahu 'alayhi wa sallam memang melakukan perubahan di Badar. Akan tetapi Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebelum sampai ke Badar, beliau telah menempuh perjalanan yang panjang. Akan tetapi banyak diantara kita menginginkan untuk menempuh jalan yang ringkas. Sehingga hasilnya bukan sebagaimana yang dicapai Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam dan para sahabatnya. Dan ia tidak akan pernah mencapainya. Karena sesungguhnya jalan yang lurus adalah jalan yang paling pendek.

Sebagaimana seseorang yang membawakan nilai keimanan dengan cara memaksa, dengan mencaci, dengan membentak, dengan menakut-nakuti.  Dan ia berkata bahwa ini adalah jalan yang paling pendek. Dan ini yang paling ringkas. Adapun jalan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana kita seluruhnya tahu adalah jalan yang santun, lembut, ceria, tersenyum, cinta, kasih sayang. Kadangkala nampak di awal sesuatu/perkara bahwasanya ini sangat panjang, akan tetapi hakikatnya ini merupakan jalan yang paling singkat untuk menuju hati.

Para sahabat, mereka menempuh jalan yang lurus ini, tidak ke kanan dan tidak ke kiri.

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Beritahukan kepadaku, satu perkara yang aku tidak akan tanyakan kepada seorangpun lagi setelahmu.”

Bersabda shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”

Inilah Din yang tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri. Kepada makna inilah, Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menaruh perhatiannya. Seperti terlihat dalam percakapannya yang menyentuh bersama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyaLlahu ‘anhu. Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam tentang keburukan yang ia takutkan jika ia temui.

Percakapan yang sangat panjang. Sangat indah. Kita tidak akan mengutip seluruhnya. Percakapan itu terdapat di shahih Bukhari, silahkan merujuknya bagi siapa yang menginginkan.

Akan tetapi ada titik yang penting sekali,  khususnya bagi kita sekarang. Maka setelah Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman di mana umatnya berada dalam kebaikan. Namun setelah kebaikan tersebut akan ada kabut.

Bertanyalah Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,

“Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan ..?”

 

Rasulullah bersabda, “Ya.”

Maka renungkanlah apa yang terkandung dalam ucapan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, karena sesungguhnya ia menggambarkan apa yang terjadi pada kondisi kita saat ini.

“Ya, akan ada da’i-da’i di atas pintu-pintu jahannam. Siapa saja yang menyambut seruan mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.”

 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kami sifat mereka.” 

Siapakah mereka, yaitu para da’i yang berada di atas pintu-pintu jahannam ..?”

Beliau bersabda, “Mereka berasal dari keturunan kulit-kulit kita, (artinya mereka adalah kaum muslimin), dan mereka berbicara dengan lisan-lisan kita.”  

Maha Suci Allah. Para da’i di depan pintu neraka, kita akan dapati mereka memperindah untukmu kemaksiatan. Di antara mereka ada yang mengajak agar kita menjadi pecandu khamar. Pecandu judi, atau narkotika. Di antara mereka ada orang-orang yang menjadikan indah di matamu aktifitas membuang-buang waktu. Atau aktifitas membuang-buang harta. Atau aktifitas saling membenci. Atau dijadikan indah di hadapan matamu perkara korupsi.

Demikianlah para da’i di depan pintu-pintu jahannam. Sesuatu yang sangat berbahaya.

Dalam kajian ini kita tidak akan membahas mengenai fadhail ‘amal (keutamaan amal-amal ibadah). Kita akan membahas tentang selamat dari jahannam. Kita akan membahas tentang jalan yang lurus. Dan tidak akan didapati selain jalan ini.

Sehingga, selain jalan ini, adalah jalan menuju pintu dari banyak pintu jahannam.

Jalan Islami, jalan yang lurus dan jelas. Adapun orang yang menempuh jalan sosialisme pada suatu ketika. Dan jalan kapitalisme pada saat yang lain. Serta membuka pintu sekulerisme pada saat yang lain. Tidak akan pernah mencapai apa yang ditujunya. Di sini kita ingin memperkenalkan rambu-rambu di jalan sahabat. Jalan lurus yang pernah dilalui oleh sahabat. Kita tidak ingin jalan yang singkat atau jalan yang menyimpang.

Kita tidak ingin masuk ke dalam padang Tih. Dan berbuat secara serampangan. Sebagaimana yang pernah dimasuki oleh Bani Israil ketika mereka menentang jalan yang lurus.

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (al-Maidah ayat 21) 

Mereka menentang, menolak, berlaku sombong, dan mereka mengusulkan jalur alternatif serta cara-cara yang berbeda. Dan hasilnya adalah mereka masuk ke padang Tih. Dan setelah mereka menempuh seluruh jalan, dan mencobanya, mereka tetap tidak akan bisa masuk ke dalam negeri yang disucikan. Kecuali dari arah yang diperintahkan oleh Nabi mereka. Karena sesungguhnya, hanya ada satu jalan yang menghantarkan kepada kebenaran. Jalan yang lurus yang diperintahkan oleh para Nabi.

Kita akan membahas pemahaman para sahabat tentang kata ikhlash ..? Apa pula pemahaman mereka tentang ilmu, tentang ‘amal, tentang dunia, tentang syurga ? Tentang ukhuwwah ? Tentang taubat ..?

Tentang makna-makna ini dan yang lainnya. Jalan yang lurus dalam setiap makna dari seluruh kata-kata tersebut. Hal ini dimaksudkan agar kita mengetahui dengan persis jalan ini. Agar kita bisa berjalan di atasnya. Tidak untuk mengetahui secara teoritis saja. Atau untuk mengisi akal kita dengan kumpulan informasi saja. Tidak. Bukan itu tujuan kita.

Dan sebelum kita berkenalan dengan rambu-rambu jalan ini, marilah kita berhenti sejenak, dan kita mencoba meneliti mengapa muncul perasaan tidak mampu dan putus asa di hati banyak  orang saat mereka mendengar kisah-kisah para sahabat ?

Marilah kita mencari penyebab-penyebab perasaan tidak mampu itu hingga kita mampu mengobati masalahnya dengan pengobatan yang sempurna.

Pertama : Ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.  

Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah sosok yang membina para sahabat. Dan RasulullahshallaLlahu ‘alayhi wa sallam hari ini tidak ada. Maka kita tidak akan mungkin menjadi  seperti para sahabat. Pemikiran seperti inilah yang paling banyak merasuk ke dalam akal sebagian besar orang. Namun, apakah keberadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam merupakan keharusan bagi petunjuk ke jalan yang benar ?

Padahal, sebagaimana telah kita ketahui jalan yang Allah Ta’ala inginkan agar kita berjalan di atasnya sesungguhnya masih ada di hadapan kita. Maka apakah keharusan, diri Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam harus berada di tengah-tengah kita ?

Apabila itu merupakan keharusan maka kita tidak akan memiliki peluang untuk mencapai tujuan, sebagaimana yang telah dicapai para sahabat. Karena Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah wafat. Ini merupakan faktanya. Dan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam tidak akan pernah kembali lagi hingga hari kiamat. Namun apabila hal ini bukan keharusan, maka masihkah ada peluang agar kita meraih apa yang dicapai oleh para sahabat ?

Agar kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan jelas, pertama-tama tidak ada seorangpun yang mengingkari pentingnya kehadiran Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dalam kaitan munculnya generasi pertama. Karena tidak akan pernah ada Diin ini tanpa Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Maka Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah orang mengajarkan tentang Rabb alam semesta. Kemudian ia menjadi suri tauladan terbaik yang sempurna bagi seluruh kaum mu’minin. Teladan atas segala sesuatu berdasarkan kemutlakan ayat ini.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzaab ayat 21) 

Selanjutnya tanyalah dirimu sendiri : Apakah teladan kenabian itu akan hilang dalam kehidupan kita setelah wafatnya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ?

Selama-lamanya sunnah masih akan tetap ada. Jalan hidupnya masih tetap ada. Kata-katanya akan tetap hidup di hadapan kita. Dan akan terus menaungi kehidupan kita, insya Allah hingga hari kiamat.

Sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengingkari secara tegas, orang-orang yang karena ketiadaan Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam mereka  berhenti dari ber’amal. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman terkait dengan perang Uhud.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imraan ayat 144)

Ayat ini turun ketika tersebar berita bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh saat perang Uhud. Maka putus asa lah sebagian dari sahabat. Mereka duduk-duduk saja di medan pertempuran. Hilanglah sudah semangat bertempur. Hilang pula seluruh keinginan untuk meraih kemenangan. Hilang juga harapan untuk hidup.

Maka, menurut sebagian para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum tersebut, hidup di dunia sesaat saja bersama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam lebih baik daripada hidup kekal di dunia tanpa bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menjadi musibah besar bagi mereka.

Dan tidak ragu lagi bahwa mushibah ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ini lebih terasa menyakitkan bagi para sahabat daripada mushibah ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallamdi tengah-tengah kita.

Karena mereka kehilangan setelah mendapatkan. Mereka pernah hidup bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Mereka bergaul dengannya. Berinteraksi dengannya. Shalat di belakangnya. Mendengarkan langsung hadits-haditsnya.

Mereka hidup secara utuh bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian disebutkan bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh. Mushibah yang sangat besar sekali.

Dan setelah mushibah yang besar ini, mereka tetap tidak diberikan udzur. Mereka tidak diberikan udzur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak diberikan udzur untuk tidak membela agama. Meskipun mereka mendapat mushibah.

Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. (Ali Imraan ayat 144)  

Berlawanan dengan hal itu adalah apa yang dilakukan oleh sahabat yang mulia, Tsabit bin DahdahradhiyaLlahu ‘anhu, yang memiliki pemahaman yang sangat dalam. Penglihatan yang sangat jernih. Beliau melewati orang-orang yang sedang duduk setelah mendengar kabar bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh.

Ia berkata kepada mereka,

“Apabila Muhammad telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah Hidup Tidak Mati. Berperanglah untuk agama kalian. Karena sesungguhnya Allah lah yang akan membela dan menolong kalian.” 

Kemudian beliau radhiyaLlahu ‘anhu berperang hingga menemui syahadah. Maka Tsabit bin Dahdah adalah sosok yang beriman. Sosok yang realistis. Dia berinteraksi bersama realitas dimana ia hidup. Dengan seluruh kondisi dan situasinya.

Sehingga ia beramal ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam masih ada. Dan ia beramal juga ketika Rasulullah tidak ada. Menganalisa dengan segera bersama peristiwa-peristiwa. Ber’amal bersama seluruh situasi di dalamnya.

Karena tidak ada hal yang mustahil yang bisa terjadi. Tidak ada kata “law/seandainya” dalam kehidupan seorang muslim. Misalnya berkata salah seorang di antara mereka, “Seandainya saya hidup di zaman Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pasti saya akan melakukan hal ini dan hal ini. Namun karena takdir dan keinginan Allah maka aku bukanlah sahabat, maka aku tidak akan bisa seperti sahabat.” Hal seperti ini disebut waham.

Dan (perkataan seandainya ini) sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam shahih Muslim :  

“Engkau membuka perbuatan syaithan.”

Dan siapakah yang mengetahui bahwa kalau engkau hidup sezaman dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, engkau akan mengikutinya ?

Sungguh pada masa itu ada ribuan kaum musyrikin yang hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.  Mereka pun memerangi Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Dan ada ribuan pula kaum munafiqin yang tinggal di kota madinah. Mereka shalat juga di masjid Nabi. Bahkan langsung di belakang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Akan tetapi mereka tidak beriman.

Tidakkah engkau tahu, kalau engkau hidup di masa itu engkau akan menghadapi fitnah agama nenek moyang. Akan menghadapi fitnah datangnya Nabi dari kabilah yang lain. Akan menghadapi fitnah diperangi oleh seluruh penduduk bumi. Fitnah akan disiksa. Fitnah untuk dilaparkan. Fitnah diusir. Fitnah hijrah. Siapakah yang tahu ..?

Hal yang pasti adalah, apa yang telah dipilihkan oleh Allah untukmu itu adalah yang paling utama. Maka tidak diterima alasan seorang muslim yang menganggap ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebagai alasannya untuk tidak mengikuti jejak para sahabat.

Pemahaman yang sama seperti yang dimiliki oleh Tsabit bin Dahdah, dan yang lebih besar lagi dimiliki oleh Abu Bakar as-Shiddiq di hari ketika Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam wafat. Yang saya yakin tidak ada orang yang paling sedih dengan wafatnya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam melebihi sedihnya Abu Bakar as-Shiddiq. Karena beliau adalah seseorang yang nampak secara perbuatan sangat mencintai Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Abu Bakar as-Shiddiq juga orang yang paling dekat di hati Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Akan tetapi kesedihan yang mendalam ini tidak menghalangi munculnya pandangan yang jernih dan pemahaman yang mendalam.

Dengarlah ucapannya saat Abu Bakar as-Shiddiq berkhutbah di hadapan manusia :

Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Akan tetapi barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah itu Hidup dan Tidak Mati.

Inilah sesungguhnya hakikat risalah kenabian. Hakikat diutusnya seorang Rasul. Hakikat penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka kita tidak menyembah para Rasul. Amal-amal kita tidak terikat dengan keberadaan mereka. Akan tetapi kita menyembah Allah Azza wa Jalla. Dan amal-amal kita terikat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Maka sesungguhnya Dia lah yang Maha Suci, yang Hidup dan Tidak Mati. Yang Kekal, yang Tidak Pernah Hilang.

Maka mengapa ada manusia yang berhenti ber’amal karena tidak adanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ?

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul . Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imraan ayat 144)

Kita tidak ingin seperti sahabat-sahabatnya Musa ‘alayhis salam, ketika Nabi Musa alayhis salam pergi untuk mengambil alwaah (papan-papan perintah dari Allah Ta’ala). Mereka tidak bersabar saat terpisah dengan Nabi Musa ‘alayhis salaam. Mereka kemudian menyembah anak sapi. Sedangkan kita tidak pernah menyembah anak sapi, kita tidak akan menyembahnya selama-lamanya, insya Allah.

Akan tetapi diantara kita ada yang menyembah hawa nafsunya. Ada yang menyembah syahwatnya. Ada yang menyembah keinginannya.

Allah Ta’ala berfirman,

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al-Jatsiyah ayat 23)

Sehingga jika Allah memerintahkan satu perkara sedangkan hawa nafsunya memerintahkan perkara yang lain, maka ia akan mengikuti hawa nafsunya dan meninggalkan perintah Allah. Inilah orang yang tidak menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. Karena sesungguhnya ibadah itu adalahittiba’ (mengikuti). Ibadah bukanlah kata-kata kosong yang tidak terikat dengan keinginan.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imraan)

Ittiba’ itu bukanlah kata-kata yang kosong, dan Diin ini telah disempurnakan-Nya saat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam masih hidup.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah ayat 3)

Karena itu, Diin ini tidak menerima penambahan seperti halnya ia tidak menerima pengurangan.

Jelas sekali. Bahwa hukum syari’at yang dituntut untuk dilakukan oleh para sahabat, juga adalah hukum syariat yang sama yang dituntut kepada kita untuk melakukannya. Beban yang sama. Shalat yang sama. Shaum yang sama. Infaq yang sama. Jihad yang sama. Hukum mu’amalat yang sama. Akhlaq yang sama.. Diin yang sama yang tidak berubah. Tidak diganti. Tidak ditambah. Tidak dikurangi.

Janganlah kita beranggapan, karena Allah Azza wa Jalla tidak akan berbuat zhalim meskipun sebesar biji dzarrah, karena Allah mengetahui bahwa kita memiliki kelemahan saat akan menerapkan syari’at Islam sepeninggal Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, maka syari’at Islam telah banyak dikurangi bagi kita.

Sehingga jika para sahabat shalat lima kali, maka cukuplah kita shalat tiga kali. Jika para sahabat berdakwah ke jalan Allah, maka kita tidak perlu berdakwah. Jika para sahabat membela ummat ini. Berjuang di jalan Allah. Menyebarkan kalimat Allah Azza wa Jalla di penjuru dunia. Membebaskan negeri-negeri dengan Islam. Menjadikan seluruh manusia menyembah Allah. Maka kita tidak melakukan itu. Karena kita lebih lemah.

Sungguh, tidak pernah ada ucapan seperti itu.

Maka Allah Azza wa Jalla yang Maha Bijaksana, yang Maha Menentukan, yang Maha Mengetahui atas ciptaan-Nya. Mengetahui keadaan mereka, kondisi mereka, hingga kemampuan mereka. Maka Allahsubhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita Diin yang sama. Syari’at yang sama. Beban yang sama. Dengan demikian kita mampu untuk menerapkan syari’at dengan penerapan yang sama. Karena tidaklah Allah Azza wa Jalla akan mewajibkan kepada kita sesuatu yang kita tidak mampu untuk melakukannya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah ayat 286)

Apakah di hari kiamat nanti akan ada hisab yang berbeda? Atau mizan yang berbeda ? Tidak. Hisabnya sama. Mizannya sama. Maka tidak akan ada nanti mizan khusus untuk generasi awal. Lalu mizan untuk generasi kedua. Kemudian mizan untuk generasi ke sepuluh. Tidak. Akan tetapi mizannya satu. Maka Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Bilal, Sa’ad, Abu Hurairah, Khalid, Khadijah, Aisyah dan Ummu Amarah radhiyaLlahu ‘anhum, seluruhnya akan ditimbang amalnya dengan mizan yang sama yang digunakan untuk menimbang amal Musa bin Nusair, Thariq bin Ziyad, Salahuddin al-Ayyubi, Ibnu Katsir, an-Nawawi, al-Bukhari, Quthuz dan seluruh manusia, baik yang shalih maupun yang lalai.

Seluruh manusia akan ditimbang amalnya dengan mizan yang sama. Mizan yang sama untuk menimbang amal saya dan amal anda. Amal seluruh yang hadir. Amal seluruh yang mendengar. Amal seluruh penduduk bumi. Seluruhnya dengan mizan yang sama. Hal ini sesuatu yang sederhana.

Namun hal yang patut diwaspadai juga, seyogyanya anda mengetahui dengan siapa anda berteman. Sehingga untuk urusan iman, anda harus melihat kepada orang yang lebih tinggi daripadamu. Karena dengan demikian anda akan termotivasi untuk ber’amal. Sedangkan untuk masalah dunia hendaknya anda melihat ke yang lebih rendah. Karena yang demikian itu agar anda tidak meremehkan ni’mat yang telah Allah berikan kepadamu.

Apabila Allah Azza wa Jalla akan menerapkan mizan yang satu. Akan menghisab dengan hisab yang satu. Telah menetapkan syari’at yang satu. Telah menciptakan jalan lurus yang satu. Dan Allah Ta’ala telah mengetahui bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam akan wafat setelah 23 tahun kenabiannya. Maka bersama hal itu seluruhnya Allah Ta’ala tidak meringankan sedikitpun siapa saja yang akan menempuh syari’at ini. Tidak meringankan kepada mereka (para sahabat) dan tidak akan meringankan kepada siapapun yang akan datang hingga hari kiamat.

Apabila hal seperti itulah nyatanya, maka tidak ragu lagi orang-orang yang datang terakhir seperti kita, dan orang-orang sebelum dan sesudah kita, seluruhnya akan mampu untuk mengenali rambu-rambu jalan yang telah dilalui oleh para sahabat. Dan mereka akan mencapai apa yang telah dicapai oleh para sahabat. Meskipun dengan ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Hal ini merupakan sesuatu yang nampak bagi akal. Bisa difahami, dan jelas, tidak ada satu pun dalam agama Allah ini sesuatu yang remang-remang. Atau sesuatu yang sulit fahami. Tidak ada dalam agama Allah Azza wa Jalla ini yang tersembunyi.

Sesungguhnya seluruhnya nampak dan sangat jelas. Tidak akan kita dapati sesuatu yang tersembunyi yang hanya ditelaah oleh sebagian orang-orang shalih. Sehingga mereka menyembah Allah Azza wa Jalla dengan jalan yang tidak diketahui dalam kitab Allah dan sunnah RasulullahshallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (an-Nahl ayat 89)

Maka sebab yang pertama manusia merasa tidak mampu untuk mengikuti para sahabat adalah ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Yang Kedua : Keluarnya para sahabat dari lingkaran kemanusiaan.

Ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa mereka itu (para sahabat) berbeda dengan manusia biasa. Diciptakan dengan cara yang berbeda sehingga dalam diri mereka tidak ada unsur-unsur kemanusiaan sebagaimana yang tertanam dalam diri kita. Ucapan seperti ini tidaklah benar.

Fikirkanlah mengenai realitas para sahabat. Bahkan fikirkanlah mengenai realitas diri Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Bukankah ia seorang manusia yang memiliki ciri-ciri kemanusiaan ..?

Beliau memakan makanan. Berjalan di pasar-pasar. Menikah. Memiliki keturunan. Mencintai. Membenci. Bergembira. Bersedih. Merasakan sakit.Beberapa firman Allah azza wa jalla dalam banyak tempat di kitab Allah azza wa Jalla telah menjelaskannya.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu. (al-kahfi ayat 110)

Perbedaannya hanya satu, antara aku dan kalian, yaitu pada kata,

“Diberikan wahyu kepadaku”

Maka Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah manusia biasa yang diturunkan kepadanya wahyu.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (al-kahfi ayat 110)

Maka janganlah merasa berat untuk ber’amal dengan segala alasan. Maka tidak perlu engkau merasa tidak mampu mengikuti Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, dengan alasan karena ia seorang Rasul.

Karena sesungguhnya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam manusia biasa juga seperti kita, sebagaimana ia telah diperintahkan untuk mengucapkan, “sesungguhnya aku manusia biasa seperti kalian.” Dan hal ini, subhanaLLah, untuk sebuah hikmah. Yaitu hikmahnya, agar kita mampu untuk mengikutinya.Kalaulah Rasulullah itu bukan seorang manusia, pastilah kita akan memiliki alasan untuk tidak mengikutinya.

Karena itulah Allah Azza wa Jalla tidak menurunkan seorang malaikat kepada kita untuk menyampaikan risalah-Nya.Kalau saja yang melaksanakan syari’at itu adalah malaikat, akan berkatalah orang-orang, “Sesungguhnya ia mampu melakukan itu karena ia malaikat, sedangkan kita tidak akan mampu melakukannya.” Dan apabila ia terhindar dari melakukan maksiat, mereka akan berkata pula, “Sesungguhnya ia terhindar dari maksiat karena ia malaikat, sedangkan kita tidak akan mampu melakukannya.” Karena itulah, tidak bisa tidak, seorang Rasul haruslah dari jenis kaum yang ia diutus kepada kaum itu.

Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul." (al-Israa ayat 95)

Maka Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah seorang manusia agar kita bisa meneladaninya. Tidaklah masuk akal jika hikmah keberadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebagai manusia adalah agar kita tidak bisa mengikutinya, karena ia seorang Rasul. Sedangkan kita bukanlah Rasul.

Apabila ucapan seperti ini benar, maka akan lebih utama lagi jika argumentasi seperti ini diterapkan oleh para sahabat yang mulia.

Apabila seorang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah seorang manusia maka wajiblah mengikuti dan meneladaninya. Karena kita telah mengetahui dengan yakin bahwa Allah Ta’ala tidak akan mewajibkan sesuatu kecuali kita mampu untuk melakukannya.

Para sahabat adalah manusia biasa. Mereka memiliki jasad sebagaimana jasad kita. mereka memiliki fithrah, sebagaimana fithrah kita. mereka memiliki naluri sebagaimana naluri kita. mereka memiliki kebutuhan, sebagaimana kebutuhan kita. Mereka memiliki seluruh sifat dan unsur-unsur kemanusiaan.

Perbedaannya adalah mereka telah memaksakan diri mereka sendiri untuk mengikuti al-Haq. Meskipun pahit. Mereka tetap melangkah di jalan Allah Azza wa Jalla meskipun sulit.

Dan tidaklah bersama makna itu kita akan berbicara seperti orang-orang yang berkata kurang adabnya dan tidak punya rasa malunya, yang berkata :

Para sahabat adalah lelaki, sedangkan kami juga adalah lelaki.

Mereka memaksudkan ucapan tersebut sebagai tikaman ke dalam diri para sahabat. Untuk mengurangi nilai keutamaan para sahabat. Maka bukanlah ini maksudnya.

Adapun maksudnya adalah kebalikan dari ungkapan tersebut. Sesungguhnya kita akan berkata bahwa mereka adalah manusia yang paling agung secara mutlak setelah para nabi. Keadaan mereka sebagai manusia yang agung tidaklah menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan mereka, tidak pula mengurangi keadaan mereka.

Maka nilai mereka menjadi tinggi karena mereka telah menyelematkan diri mereka dari ujian yang sangat sulit, yang bahkan langit dan bumi tidak mampu untuk memasukinya.

Untuk itu mengikuti mereka adalah sesuatu yang mungkin untuk dilakukan. Bahkan mengikuti mereka adalah sesuatu yang penting. Karena mereka adalah orang yang telah sukses dalam menjalani ujian hidup yang telah Allah berikan kepada mereka. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui akan kemampuan-kemampuan (qadar) manusia.

Bersama hal itu, maka saya tidaklah mengajak agar kita semua menjadi seperti Abu Bakar dan Umar radhiyaLlahu ‘anhuma. Saya hanya ingin mengatakan, adalah wajib bagi kita untuk menjadikan mereka sebagai panutan dalam ber’amal (qudwah amaliyyah). Dan kita mampu untuk melakukannya dengan kemampuan kita sebagai manusia. Juga karena manhaj Islam yang jernih yang akan kita lalui, adalah juga manhaj Islam yang sama dengan yang telah mereka lalui. Dan, dengan idzin Allah, kita juga akan sampai kepada tujuan yang telah mereka (para sahabat) capai. Hal ini akan tercapai jika kita memiliki tekad yang kuat untuk melangkahkan kaki kita di atas jalan ini.

Termasuk dalam sebab kedua mengapa sebagian besar kaum muslimin merasakan/menganggap bahwa mengikuti sahabat adalah sesuatu yang sulit, karena sebagian besar mereka lupa bahwa para sahabat adalah manusia biasa yang memiliki seluruh tabiat-tabiat manusiawi.

Mereka bukanlah makhluk yang khusus. Mereka bukanlah jin. Mereka bukanlah malaikat. Mereka hanyalah manusia biasa, yang telah sukses dalam mengemban amanah.

Dan sebelum saya meninggalkan poin pembahasan ini, saya ingin menunjukkan satu isyarat syariat kepada Anda. Saya ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa sebagian duat/penceramah memiliki saham dalam menanamkan problem ini.

Yaitu dengan cara menyebut-nyebut mereka (sahabat) dengan ungkapan yang berlebihan (hiperbola). Ungkapan-ungkapan ini kadangkala berasal dari riwayat yang tidak shahih, kadangkala pula berasal dari riwayat yang palsu.

Adapun riwayat-riwayat yang shahih mengenai sahabat, cukuplah itu untuk menjelaskan keutamaan sahabat. Kita tidak butuh lagi ungkapan-ungkapan berlebih-lebihan lainnya. Sungguh, mereka (para sahabat) telah mulia dengan kondisi mereka yang sebenarnya.

Contohnya, sebagian dari para da’i itu menceritakan satu kisah mengenai Sayyidina Khalid ibn Walid radhiyaLlahu ‘anhu. Bahwasanya, beliau pernah mengetahui bahwa dalam gelas yang diberikan oleh musuhnya terdapat racun. Maka beliau tetap meminum racun tersebut, untuk membuktikan kepada musuhnya bahwa dengan nama Allah, tidak akan ada sesuatu apapun yang dapat membahayakannya.

Maka Khalid ibn Walid, minum racun tersebut sambil membaca :

Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak akan membahayakan apapun juga.

Maka Khalid bin Walid meminum racun tersebut, dan tidak terjadi apa-apa. Cerita seperti ini sungguh berbahaya, dan tidak membawa manfaat. Dan tentu saja, setelah diperiksa ternyata riwayat dari kisah ini tidaklah shahih. Riwayat seperti ini juga bertentangan dengan sunnah kauniyyah. Karena Sayyidina Khalid ibn Walid, adalah manusia biasa yang terikat dengan hukum sebab-akibat. Maka ia tidak akan meminum racun. Ia juga mencari jalan keberhasilan.

Bahkan, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sendiri pernah memakan daging yang beracun. Hingga, saat diberitahukan (oleh Jibril) bahwa daging tersebut beracun, maka beliau memuntahkan potongan daging tersebut, dan tidak menelannya meskipun beliau adalah seorang Rasul, dan Allah Azza wa Jalla menjaganya. Akan tetapi, tetap saja beliau terikat dengan hukum sebab-akibat.  Padahal beliau ini seorang Rasul yang mengajarkan kepada kita apa yang harus kita lakukan.

Seperti inilah yang seharusnya kita ucapkan mengenai shahabat. Bahwa para sahabat adalah orang-orang yang berusaha mencari jalan menuju keberhasilan sebagaimana  kita. Mereka terikat dengan hukum sebab-akibat. Dan mereka telah berjalan di atas jalan yang jelas, terang-benderang.

Karena itu, tidak boleh ada di antara kita yang kemudian meminum racun, sambil membaca doa “Bismillahilladzi la yadhurru ma’as mihi sya’un”, lalu berkata, “saya melakukan ini karena mengikuti sahabat nabi. Saya melakukan ini karena mengikuti sayyidina Khalid bin Walid.” Ucapan yang seperti ini jelas tidak benar.

Kadang-kadang, memang, ungkapan-ungkapan berlebihan mengenai sahabat itu memang benar-benar pernah terjadi. Akan tetapi hal itu merupakan karamah yang khusus diberikan kepada sebagaian sahabat Nabi.

Karamah adalah sesuatu yang luar biasa, yang pernah dialami oleh seorang sahabat Nabi atau seorang yang shalih, tanpa orang tersebut bermaksud untuk melakukan hal tersebut. Artinya, para sahabat saat melakukan hal tersebut tidaklah dengan sengaja. Hal ini merupakan pemberian dari Allah Ta’ala kepadanya. Sebagai bentuk kemuliaan, hadiah dan nikmat dari Allah bagi sebagian wali-Nya, sahabat nabi dan orang-orang shalih.

Mereka adalah orang-orang shalih. Mereka adalah para sahabat Nabi. Akan tetapi mereka tidak akan mampu untuk mengulangi karamah ini kecuali atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada Umar ibn Khatthab, ketika ia menyeru dari Madinah. Beliau berteriak, "Wahai pasukan, naik ke atas bukit." 

Maka pasukan tersebut mendengar teriakannya. Padahal jarak antara beliau dengan pasukannya saat itu ratusan kilometer dari kota Madinah. Ini adalah karomah yang memang pernah terjadi kepada Umar bin Khattab. Akan tetapi engkau tidak diminta untuk melakukan hal yang sama. Engkau hari ini bisa melakukannya dengan sarana-sarana yang ada. engkau bisa menggunakan telepon. Engkau bisa menggunakan satelit. Engkau bisa menggunakan perangkat-perangkat modern. Engkau tidak perlu melakukan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar. Cara seperti tadi hanya khusus dilakukan oleh Umar pada saat itu saja. Dan tidak bisa diulangi untuk kedua kalinya oleh Umar.

Pada masanya, Umar bin khatthab berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, sebagaimana yang lazim digunakan pada saat itu. Umar tetap mengambil sebab-sebab/sarana-sarana yang wajar. Karamah itu hanya terjadi sekali saja.

Untuk itu wajib bagi setiap du'at, saat menceritakan kisah ini, harus pula menjelaskan kepada masyarakat bahwa peristiwa ini adalah adalah peristiwa khusus yang hanya terjadi sekali saja. Karena sesungguhnya kehidupan para sahabat, sebagaimana kita,  berjalan di atas hukum-hukum Ilahiyyah yang berlaku tetap di alam ini.

Kadang kala hal-hal yang berlebihan itu memang terjadi. Akan tetapi, hal itu tidak diterima oleh sahabat yang lain. Dalam arti para sahabat berselisih dengannya dalam hal itu. Atau bahkan, Nabi shallaLlahu 'alayhi wa sallam sendiri yang melarang sahabat itu untuk meneruskan perbuatannya.

Contohnya, seperti kerasnya sikap zuhud yang diterapkan oleh Abu Dzar Al-Ghifary radhiyaLlahu 'anhu. Abu Dzar Al-Ghifary ini pernah berkesimpulan bahwa seseorang yang hartanya masih tersisa di rumahnya lebih dari satu hari itu berarti termasuk dalam kategori menumpuk harta. Meskipun orang tersebut telah mengeluarkan zakatnya. Tentu saja, hal ini tidak disetujui oleh mayoritas sahabat lainnya.

Dan juga seperti Abdullah bin Amr bin Ash yang melakukan qiyamul lail setiap malam hingga pecah-pecahlah kakinya. Beliau juga mengkhatamkan al-Qur'an setiap malam dan shaum setiap siangnya. Perbuatan ini bukanlah perbuatan yang terpuji. Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam pun melarangnya untuk melakukan hal ini. Dan beliau shallaLlahu alayhi wa sallam memerintahkannya untuk seimbang/wajar dalam beribadah. Beliau menyuruhnya untuk shaum satu hari dan berbuka satu hari. Dan ini sudah merupakan shaum yang paling baik. Awalnya beliau menyuruhnya untuk shaum tiga hari setiap bulan, selanjutnya dua hari dalam sepekan, kemudian sehari shaum dan sehari berbuka.

Mengenai mengkhatamkan al-Qur'an, beliau menyuruhnya untuk mengkhatamkan setiap bulan sekali, selanjutnya beliau menyuruhnya mengkhatamkan sepekan sekali dan akhirnya setiap tiga hari sekali. Inilah dasar-dasar yang telah diletakkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam. Karena itu, janganlah ada yang berkata tentang Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa beliau selalu shalat malam sepanjang malamnya,  mengkhatamkan al-Qur'an setiap harinya dan shaum sepanjang malamnya. Sehingga sebagian besar orang saat mendengar kisah tentangnya, akan merasa putus asa dan tidak mampu untuk mengikuti jejak langkah para sahabat.   

Karena itu, hendaknya anda mengetahui apakah perbuatan tersebut sesuai dengan sunnah Rasulullah shallaLlahu 'alayhi wa sallam atau beliau shallaLlahu 'alayhi wa sallam telah melarang untuk melakukannya ?

Untuk itu, Anda sebagai da’i, hendaknya menyadari kepada siapa Anda berbicara ..? Hendaknya para da’i tidak mempersulit urusan. Karena seringkali, orang yang didakwahi itu adalah seseorang yang baru saja mulai berkomitmen kepada agamanya. Maka seorang da’i yang bijak, adalah seorang yang bicara dengan menyesuaikan bahasannya kepada siapa dia berbicara. Dan inilah yang kami inginkan dari pembicaraan ini.

Maka penggambaran yang hebat mengenai sifat-sifat ataupun perbuatan sahabat, sama saja apakah ungkapan itu nyata atau hanya ungkapan yang berlebihan, akan membawa keyakinan dalam diri sebagian orang bahwa para sahabat itu bukanlah seperti manusia biasa. Mereka tidak memiliki unsur-unsur kemanusiaan seperti kita. Dan akhirnya akan membawa kepada kesimpulan bahwa kita tidak bisa mengikuti mereka.

Yang ketiga : Sebagian kaum muslimin merasa sulit untuk mengikuti para sahabat, karena mereka menganggap bahwa setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) dari generasi sahabat memiliki kemampuan yang sempurna untuk melakukan segala hal.

Tentu saja, ucapan seperti ini tidaklah tepat. Karena sesungguhnya para sahabat adalah orang-orang terbaik, namun mereka bukanlah orang yang terbaik di semua segi kehidupan. Kadang kala ada di antara mereka yang gemilang di satu aspek, namun biasa-biasa saja di aspek yang lain.

Di antara mereka, misalnya, ada orang-orang yang hebat dalam urusan jihad, seperti halnya Khalid ibn Walid radhiyaLlahu ‘anhu, al-Qa’qa’ bin Amr at-Tamimy, Zubair bin Awwam radhiyaLlahu ‘anhum  atau yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang jenius dalam bidang militer.

Akan tetapi, pada saat yang sama, Khalid ibn Walid ketika memimpin shalat bersama orang-orang, seringkali salah dalam membaca al-Qur’an. Karena beliau tidak banyak menghafal al-Qur’an. Untuk itulah beliau sering berkata,

“Sesungguhnya aku disibukkan dengan jihad, hingga tidak sempat menghafal al-Qur’an”

Namun, dalam bidang al-Qur’an dan ulumul Qur’an kita akan mendapati Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari sebagai ulama yang mumpuni. Meskipun mereka tidak terlalu gemilang dalam bidang militer.

Dalam bidang ilmu hadits, menghafal hadits dan menukil ilmu, kita akan dapati Abu Hurayrah sebagai legenda ilmiyyah, perpustakaan terlengkap dan komputer bergerak. Sedangkan dalam bidang memberikan fatwa dan hukum syar'iyyah kita akan mendapati seseorang yang lebih gemilang daripadanya. Yaitu, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas'ud dan juga Ali ibn Abi Thalib radhiyaLlahu 'anhum.  

Dalam bidang infaq, kita akan mendapati Abu Bakar as-Shiddiq (meskipun sebenarnya, Abu Bakar as-Shiddiq bisa kita temui kontribusinya dalam segala bidang) dan juga Utsman bin Affan serta Abdurrahman ibn 'Auf radhiyaLlahu 'anhum.

Sedangkan dalam bidang administrasi kita akan mendapati Umar ibn Khattab dan Muawiyyah Ibn Abi Sufyan radhiyaLlahu 'anhum. Setiap orang memiliki keunggulan dalam satu bidang. Setiap orang menonjol dalam satu bidang.

Pada masa kita saat ini juga, ada di antara kita yang sangat mudah dan cepat dalam berinfaq fi sabiliLlah, akan tetapi kontribusinya dalam bidang ilmu sangatlah sedikit. Adapula yang mampu menjadi khathib yang fasih, akan tetapi tidak memiliki kemampuan di bidang politik. Yang lainnya, ada pula yang gemilang dalam Ulumul Qur’an akan tetapi tidak memiliki kemampuan dalam menetapkan hukum.

Anda akan mendapati potensi yang berbeda-beda. Bakat yang berbeda-beda. Hasil ilmu yang berbeda-beda. Pendidikan yang berbeda-beda. Anda akan mendapati kesenjangan yang sangat banyak di masyarakat kita. dan kita butuh bakat yang berbeda-beda untuk menutupi kesenjangan ini. 

Ketika kita melihat generasi shahabat dengan perspektif seperti ini maka kita tidak akan menjadikan generasi sahabat sebagai panutan secara umum, akan tetapi kita menjadikan mereka sebagai panutan secara khusus, dimana kita memiliki potensi dalam hal itu.

Sehingga, jika anda adalah seorang komandan pasukan, maka panutan anda adalah Khalid ibn walid. Kalau anda bergerak dalam bidang manajemen maka panutanmu adalah Umar ibn Khatthab. Demikianlah, sehingga tidak ada lagi perasaan putus asa dalam hatimu saat mengikuti para sahabat.

Oleh : Dr. Raghib as-Sirjani
Diterjemahkan Oleh : Muhammad Setiawan
muslimdaily.net