12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia

Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia

Fiqhislam.com - Pasukan tentara Islam akhirnya berhasil menguasai sebagian daratan Eropa, dari Jabal Tariq hingga Pegunungan Barans, pada 711 M. Ajaran Islam pun bersemi di benua Eropa. Kotakota di Spanyol, seperti Zaragoza, Barcelona, dan Daniyah, berada dalam genggaman peradaban Islam.

Sejarah Islam lebih banyak menonjolkan sosok Tariq bin Ziyad sebagai pahlawan dalam penaklukan Spanyol. Padahal, selain itu ada pula tokoh lainnya yang tak kalah hebat peranannya dalam proses penaklukan Andalusia. Pahlawan itu bernama Musa bin Nushair.

“Ia dijuluki sebagai Penakluk Andalusia,” ujar Syekh Muhammad Said Mursi dalam bukunya yang bertajuk Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Selain dikenal sebagai seorang pemimpin yang adil, Musa bin Nushair pun dikenang sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan dai yang tangguh.

Musa terlahir pada 19 H. Ia menghabiskan masa kecilnya di Damaskus. Ia sempat menyaksikan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti tragedi pembunuhan Khalifah Usman bin Affan dan Perang Sifin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan.

Musa bin Nushair lahir dari bangsa Arab yang tinggal di perbatasan Kerajaan Persia Zoroaster, di sebelah barat Sungai Eufrat. Keluarganya berasal dari etnis Arab hitam dan tumbuh selama masa kejayaan 0pemerintahan Umar al-Farouk. Nama lengkapnya adalah Musa bin Nushair bin Abdurrahman bin Zaid al-Lahmi.

Ayah bernama Nushair. Sang ayah berprofesi sebagai komandan pengawal pribadi Khalifah Muawiyah, penguasa pertama Dinasti Umayyah. Pada waktu Muawiyah menjabat gubernur Syam, ia dipercaya menjadi kepala penjaga. Ketika Khalifah Muawiyah memimpin angkatan laut kedua melawan Roma, Musa saat itu baru berusia 15 tahun. [yy/republika]

 

Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia

Fiqhislam.com - Pasukan tentara Islam akhirnya berhasil menguasai sebagian daratan Eropa, dari Jabal Tariq hingga Pegunungan Barans, pada 711 M. Ajaran Islam pun bersemi di benua Eropa. Kotakota di Spanyol, seperti Zaragoza, Barcelona, dan Daniyah, berada dalam genggaman peradaban Islam.

Sejarah Islam lebih banyak menonjolkan sosok Tariq bin Ziyad sebagai pahlawan dalam penaklukan Spanyol. Padahal, selain itu ada pula tokoh lainnya yang tak kalah hebat peranannya dalam proses penaklukan Andalusia. Pahlawan itu bernama Musa bin Nushair.

“Ia dijuluki sebagai Penakluk Andalusia,” ujar Syekh Muhammad Said Mursi dalam bukunya yang bertajuk Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Selain dikenal sebagai seorang pemimpin yang adil, Musa bin Nushair pun dikenang sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan dai yang tangguh.

Musa terlahir pada 19 H. Ia menghabiskan masa kecilnya di Damaskus. Ia sempat menyaksikan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti tragedi pembunuhan Khalifah Usman bin Affan dan Perang Sifin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan.

Musa bin Nushair lahir dari bangsa Arab yang tinggal di perbatasan Kerajaan Persia Zoroaster, di sebelah barat Sungai Eufrat. Keluarganya berasal dari etnis Arab hitam dan tumbuh selama masa kejayaan 0pemerintahan Umar al-Farouk. Nama lengkapnya adalah Musa bin Nushair bin Abdurrahman bin Zaid al-Lahmi.

Ayah bernama Nushair. Sang ayah berprofesi sebagai komandan pengawal pribadi Khalifah Muawiyah, penguasa pertama Dinasti Umayyah. Pada waktu Muawiyah menjabat gubernur Syam, ia dipercaya menjadi kepala penjaga. Ketika Khalifah Muawiyah memimpin angkatan laut kedua melawan Roma, Musa saat itu baru berusia 15 tahun. [yy/republika]

 

Strategi Musa Bin Nushair Menaklukkan Andalusia

Strategi Musa Bin Nushair Menaklukkan Andalusia


Strategi Musa Bin Nushair Menaklukkan Andalusia


Fiqhislam.com - Musa bin Nushair banyak belajar dan tak pernah lupa memperhatikan bagaimana strategi dan persiapan angkatan laut. Pada beberapa titik dalam kariernya, Musa mempraktikkan apa yang telah ia pelajari untuk ekspedisi angkatan lautnya sendiri.

Ketika sudah beranjak dewasa, Musa mulai bergabung dalam sebuah ekspedisi militer dalam sebuah pertempuran melawan angkatan laut Roma. Ketika tampuk kekuasaan Dinasti Umayyah dikelola Marwan bin al-Hakam, Musa menjadi sahabat karib anaknya, bernama Abdul Malik bin Marwan.

Pada masa kekuasaan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), Musa turut dalam ekspedisi penaklukan Afrika, papar Syekh Said Mursi. Ia ditunjuk sebagai kepala penasihatnya. Di abad ke-8 M, sempat terjadi kekacauan di Maroko. Kabilah Barbar memberontak dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Umayyah.

Dalam waktu singkat, Musa berhasil memadamkan gejolak di sana dan mengajak kembali penduduknya masuk Islam. Bahkan, Musa juga berhasil menaklukkan wilayah barat Maroko yang belum pernah tersentuh. Pada 705 M, Khalifah Walid bin Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Afrika bagian utara dan sekitarnya. Pada tahun yang sama, Musa berhasil menaklukkan Sicilia, sebelah selatan Italia dan memperoleh kemenangan besar.

Pasukan yang dipimpinnya meraih harta rampasan yang begitu banyak. Pulau tersebut tetap berada di bawah kendali umat Kristen, Musa hanya bermaksud menghukum mereka, bukan merebut wilayah mereka.

Musa memiliki strategi yang sangat bijak, yaitu dengan membaurkan bangsa Arab dan Barbar. Ia melakukan hal tersebut agar bangsa Barbar merasa dihormati. Dengan kekuatan tersebut, Musa dapat memperluas wilayah kekuasaan ke seberang lautan, yaitu Andalusia.

Dalam membuka wilayah tersebut, ia memberi kepercayaan kepada Tariq bin Ziyad sebagai pemimpin invasi. Tariq berhasil membuka wilayah Spanyol dan membagi pasukannya menjadi empat kelompok. Ia menyebarkan pasukan tersebut ke Cordoba, Malaga, Granada, dan Toledo.

Sedangkan, Musa memimpin 10 ribu pasukannya ke Spanyol dan bertemu dengan Tariq di Toledo. Penaklukan Spanyol terus berjalan hingga ke Zaragoza, Aragon, Leon, Astoria, dan Galicia. Seluruh daratan Spanyol berhasil ditaklukkan pasukan Muslim pada 86 H (715 M), di bawah pemerintahan Khalifah Walid.

Akan tetapi, khalifah meminta Musa untuk menghentikan penaklukan karena mencemaskan masa depan pasukan dan akibat yang ditimbulkan bila masuk terlalu jauh ke dalam wilayah Spanyol. Ia diminta kembali ke Damaskus.

Sebelum kembali ke Damaskus, Musa mengangkat anaknya yang bernama Abdulaziz sebagai penguasa Cordoba. Ia juga mengangkat anaknya yang bernama Abdullah untuk menjadi gubernur Afrika. [yy/republika]