fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan Raja

Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan RajaFiqhislam.com - Sisilia adalah tempat pertemuan dua peradaban. Dikuasai oleh orang-orang Arab tahun 831, pulau ini dalam kendali Muslim sampai akhir abad 11.

Selama rentang waktu tiga abad, orang-orang Arab Muslim membangun bendungan, sistem irigasi, waduk dan menara air, memperkenalkan tanaman baru seperti jeruk dan lemon, kapas, kurma, dan beras.

Pada awal abad ke-11, sekelompok tentara Norman yang dipimpin oleh Roger berkuda ke selatan Italia untuk merebut Sisilia dari orang-orang Arab Muslim.

Pada  tahun 1101 Roger berhasil menaklukkan Sisilia. Empat tahun kemudian, ia mewariskan Sisilia pada anaknya, Roger II, pada tahun 1130.

Tinggi, berambut gelap, berjanggut dan gemuk, Roger II, memerintah kerajaannya dengan bijaksana. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, dokter, ahli geografi, dan penyair.

Pada tahun 1138, di istana kerajaan Palermo, Sisilia, Roger II mengadakan pertemuan dengan seorang cendikiawan Muslim terkemuka. Saat cendikiawan Muslim itu memasuki aula, sang raja bangkit, dan membawanya melintasi marmer berkarpet untuk menduduki tempat terhormat di samping raja. Cendikiawaan Muslim itu diminta datang dari Afrika Utara untuk membahas peta dunia.

Cendikiawan Muslim tersebut yang merupakan ahli geografi bernama Muhammad Al-Idrisi. Ia lahir di Ceuta, Maroko. Setelah belajar di Cordoba, Spanyol, ia melakukan beberapa tahun perjalanan meliputi sepanjang Mediterania, Lisbon  hingga ke Damaskus.

Pada pertemuan itu, Roger II meminta Al Idrisi untuk membantu pembuatan peta yang saat itu masih simbolik dan hanya berdasarkan pada tradisi dan mitos ketimbang penyelidikan ilmiah. Roger II ingin membuat sebuah peta dunia dengan menampilkan garis pantai, tanjung, teluk, perairan dangkal, dan pelabuhan.

Dimulai dengan Akademi Geografi


Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan RajaKeinginan Roger II untuk membuat peta ia percayakan kepada Al-Idrisi. Untuk melaksanakan proyek tersebut, Roger II mendirikan sebuah akademi geografi dengan dirinya sebagai direktur dan Al-Idrisi sebagai sekretaris. Roger II ingin tahu kondisi  yang tepat dari setiap daerah, iklim, jalan, sungai-sungai, dan laut dunia luar.

Akademi geografi  tersebut dimulai dengan mempelajari dan membandingkan karya-karya geografi sebelumnya dari 12 cendikiawan yang 10 diantaranya adalah Muslim.

Dominasi Muslim di bidang geografi dikarenakan para pedagang Muslim sering mencatat perjalanan mereka, menjelaskan rute, dan kondisi kota-kota di sepanjang jalan.

Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Khurdadhbih, Al-Yaqubi, Qudamah, Ibnu Hawqal dan Al-Mas'udi. Dua ahli geografi dari era pra-Islam yang dilihat karya geografinya adalah Paulus Orosius dan Ptolemy.

Setelah memeriksa panjang lebar karya geografi mereka, Roger II dan Al Idrisi memutuskan untuk mulai mengumpulkan informasi. Pelabuhan Sisilia dipilih sebagai tempat yang ideal untuk mulai mengumpulkan informasi.

Selama bertahun-tahun hampir setiap kapal yang merapat di Palermo, Messina, Catania, atau Syracuse diinterogasi tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Tidak hanya mengandalkan informasi dari para pelaut, Roger II dan Al-Idrisi mengumpulkan informasi dari para wisatawan. Jika mereka menemukan wisatawan yang telah mengunjungi sebuah wilayah, maka wisatawan tersebut diminta untuk menceritakan daerah yang dikunjungi, tentang iklim negara tersebut.

Selain itu, bagaimana kondisi sungai, danau, gunung, pantai, dan tanahnya, bagaimana kondisi jalan, bangunan, monumen, tanaman, kerajinan, impor, dan ekspornya, bagaimana budaya, agama, adat dan bahasanya.

Jika informasi yang didapatkan dirasa masih kurang, maka dilakukan ekspedisi ilmiah ke daerah-daerah tersebut. Dalam ekspedisi ilmiah terdapat juru gambar dan kartografer sehingga dapat merekam visual wilayah tersebut.

Selama 15 tahun mengumpulkan informasi, Al-Idrisi dan Roger II membandingkan data, mencari fakta-fakta, dan membuang semua informasi yang bertentangan.  Akhirnya, pengumpulan informasi pun selesai dan pembuatan peta pun dimulai.

Membuat peta
Di bawah arahan Al-Idrisi, sebuah peta dibuat pada sebuah papan perak. Al-Idrisi menjelaskan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Perkataan Al-Idrisi berlawanan dengan semua orang yang percaya bahwa bumi itu datar. Maka ia pun membuat peta bola dunia (globe) yang terbuat dari perak seberat 400 kilogram.

Al-Idrisi kemudian membuat garis yang menandai batas dari tujuh iklim dunia, timur dan barat dan dibatasi oleh lintang dari Kutub Utara hingga Khatulistiwa. Al-Idrisi mencatat dari Atlantik di Barat dan ke Cina di Timur 180 hingga 360 derajat bujur dunia.

Setelah sketsa kasar selesai dibuat oleh Al-Idrisi, para perajin perak memindahkan garis-garis besar negara, lautan, sungai, jurang, semenanjung dan pulau-pulau ke papan perak.

Selain membuat peta, Al-Idrisi mempersiapkan untuk Roger II sebuah buku petunjuk peta yang berisi informasi yang dikumpulkan dari bukunya terdahulu yang berjudul Nuzhat A-Musytaq fi Ikhtiraq A-Afaq (Hiburan untuk Manusia yang Rindu Mengembara ke Tempat-Tempat Jauh) yang berisi peta-peta yang sangat rinci mengenai Eropa, frika dan Asia.

Buku tersebut dinamakan Al-Kitab Al-Rujari (Buku Roger) yang berisi 71 peta bagian, sebuah peta dunia, peta iklim, dan penjelasan beberapa kota.

Keunggulan peta Al-Idrisi
Keunggulan peta Al-Idrisi dibandingkan peta dunia Eropa abad pertengahan adalah informatif. Peta Al Idrisi menggambarkan peta dari tujuh benua dan tujuh samudera yang dilengkapi pula dengan informasi seperti rute-rute perdagangan, nama-nama danau, sungai, kota-kota besar, lautan, daratan, dan gunung disertai dengan data-data jarak, dan tinggi suatu tempat jika diperlukan.

Selain itu, Buku Roger secara sistematis menggambarkan dunia dari barat ke timur dan dari selatan ke utara yang tergambar dalam peta Al-Idrisi. Setiap bagian buku dibuka dengan gambaran umum wilayah, daftar kota-kota utama, laporan lengkap dari setiap kota, dan jarak antar kota.

Seperti dari Fez menuju Ceuta, Selat Gibraltar di utara membutuhkan waktu tujuh hari, atau dari Fez menuju Tlemcen sembilan hari, dan seterusnya.

Al-Idrisi juga menggambarkan kota yang hilang dari Ghana (dekat Timbuktu, di Niger) sebagai kota yang paling besar, paling padat dihuni, dan pusat perdagangan terbesar negara-negara negro.

Al-Idrisi memberikan penjelasan rinci tentang Spanyol. Dia memuji Toledo, dengan situs yang dipertahankan, dinding halus dan dibentengi benteng. "Taman-taman Toledo yang dicampur dengan kanal mengairi kebun buah dan menghasilkan buah dengan kuantitas luar biasa. Keindahan yang tak terkatakan," tulis Al-Idrisi.

Al-Idrisi juga menyebut kota beserta keterangannya. Seperti Kota Hastings disebutkan sebagai kota yang cukup besar, padat penduduknya, dengan banyak bangunan, pasar, banyak industri dan perdagangan.

Dover di sebelah timur adalah sebuah kota yang tidak jauh dari sungai London; London disebut sebagai  kota pedalaman; Chartres sebuah pasar pertanian; Meaux merupakan pusat negeri Perancis; dan Roma yang disebut sebagai kota yang memiliki keindahan oriental dengan 1.200 gereja, dan jalan yang diaspal dengan marmer biru dan putih.

Pasca meninggalnya Roger II, Al-Idrisi melanjutkan untuk menulis sebuah karya geografi untuk William I, putra Roger II. Namun, pada  tahun 1160, terjadi pemberontakan di Sisilia melawan William I.

Mereka menjarah istana, membakar catatan pemerintah, buku, dan dokumen termasuk edisi latin baru dari buku Roger II yang rencananya akan Al-Idrisi sajikan kepada William. 

Karena pemberontakan tersebut Al-Idrisi melarikan diri ke Afrika Utara. Di sana ia menetap selama enam tahun dan kemudian meninggal. Teks Arab dari Buku Roger diterbitkan di Roma oleh pers Medici pada tahun 1592 dan tidak lagi tersedia untuk Eropa dalam bahasa Latin sampai abad ke-17.

Kartografer Muslim yang menginspirasi
Al-Idrisi bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibnu Muhammad ibnu Abdullah ibnu Idris Asy-Syarif. Di kalangan umat Islam ia dikenal dengan Asy-Syarif Al-Idrisi Al-Qurthubi, sementara Barat mengenalnya dengan nama Dreses.

Al-Idrisi dilahirkan di Kota Cetua, Afrika Utara, pada tahun 1100 M. Ia tumbuh dan besar di Cetua dan menempuh pendidikan di Cordova, Spanyol, dan meninggal dunia tahun 1166 M.

Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter. Namun, minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta (kartografi).

Sejarawan SP Scott memuji karya geografi Al-Idrisi sebagai sebuah era baru dalam sejarah pengetahuan. Informasi historis karya-karya Al-Idrisi sangat menarik dan berharga, meskipun deskripsi karyanya terhadap banyak tempat di bumi masih otoritatif.

Selama tiga abad, para pakar geografi menyalin peta Al-Idrisi tanpa perubahan. Posisi relatif danau yang membentuk sungai Nil, seperti yang digambarkan dalam karyanya, tidak banyak berbeda dari yang dibuat Baker dan Stanley lebih dari 700 tahun kemudian.

Karya teks geografi Al-Idrisi, Nuzhatul Mushtaq, juga sering dikutip oleh para pendukung teori hubungan Andalusia-Amerika pra-Columbus. Bukunya yang lain, Rawdh An-Nas wa Nuzhat An-Nafs (Kesenangan Manusia dan Kegembiraan Jiwa) berisi rincian-rincian yang sangat akurat mengenai Nigeria, Timbuktu, Sudan, dan hulu sungai Nil.

Selain itu, Al-Idrisi juga menulis beberapa buku yang membahas tanaman obat dan zoology. Bukunya yang paling terkenal di bidang ini adalah Kitab Al-Jami’ li Shifat Asytat An-Nabatat.

Al-Idrisi menginspirasi pakar geografi Islam lainnya seperti Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Piri Reis dan Barbary Corsairs. Petanya juga menginspirasi Christopher Columbus dan Vasco Da Gama.

republika.co.id