8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Sahlah binti Suhail bin Amr Pilih Islam Ketimbang Keluarga

Sahlah binti Suhail bin Amr Pilih Islam Ketimbang Keluarga

Fiqhislam.com - Keteguhan hati yang ditunjukan seorang anak ternyata berbuah manis. Pilihan untuk percaya dan mengikuti sepenuhnya ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, ketimbang keluarga, akhirnya terbayar dengan masuknya orang tua ke dalam Islam.

Inilah yang terjadi dengan kisah hidup Sahlah binti Suhail bin Amr. Sahlah merupakan salah satu perempuan yang masuk dalam kelompok pertama yang memeluk agama Islam, bahkan sebelum Rasulullah SAW berdakwah di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Sahlah sebenarnya berasal dari keluarga terpandang di jajaran kaum Quraisy Makkah. Ayahnya, Suhail bin Amr, adalah pemimpin Bani Amir, yang dikenal juga dengan nama Abu Yazid. Suhail memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaum Quraisy. Kedudukannya disamakan dengan pembesar kaum Quraisy lainnya, seperti Abu Jahal, Uthbah bin Rabiah, dan Abu Sufyan.

Tidak hanya itu, Suhail bin Amr juga dikenal sebagai orator, negosiator, yang memiliki kemampuan diplomasi yang bagus. Sahlah memiliki dua saudara laki-laki, Abdullah dan Abu Jandal. Namun, tidak seperti anak-anaknya, Suhail justru memerangi dan membantah semua risalah dan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk saat Rasulullah SAW berdakwah di Makkah.

Demi menghindari serangan dan tekanan kaum kafir Quraisy, Abdullah dan Sahlah ikut hijrah ke Habasyah agar demi mendapatkan perlindungan. Dalam hijrah pertama kaum Muslimin tersebut, Sahlah juga ditemani oleh sang suami, Abu Hudzaifah bin Utbah. Di kalangan sahabat, Abu Hudzaifah adalah satu dari sedikit sahabat yang mampu membaca dan menulis. Alhasil, Abu Hudzaifah disebut sebagai salah satu sekretaris Rasulullah SAW.

Kendati telah berhijrah ke Habasyah, kaum Quraisy menebarkan berita bohong soal keislaman orang-orang di Makkah. Akhirnya, Sahlah dan keluarganya kembali ke Makkah. Namun, mereka justru ditangkap dan mendapatkan perlakuan semena-mena dari para petinggi kaum Quraisy. Sahlah dan keluarganya tetap mempertahankan keimanan dan tetap percaya kepada setiap ajaran Rasulullah SAW.

Saat perintah hijrah ke Madinah turun, Sahlah dan keluarganya akhirnya ikut dalam peristiwa hijrah. Mereka termasuk bagian  kelompok Muslimin yang mengalami dua kali hijrah. Ini dilakukan untuk menghindari tekanan dan serangan kaum kafir Quraisy. Namun, keinginan agar sang ayah bisa memeluk Islam tetap digenggam teguh oleh Sahlah.

 

Keteguhan Hati Sahlah binti Suhail bin Amr


Pada saat meletusnya Perang Badar, tepatnya 2 Hijriyah, Suhail bin Amr menjadi tawanan oleh kaum Muslimin. Pada saat itu, kaum kafir Quraisy memang mengalami kekalahan yang telak.

Ketika menjadi tawanan, Suhail melihat kaum Muslimin begitu baik dalam memperlakukan tawanan perang. Akhirnya, setelah membayar tebusan, Suhail dibebaskan.

Pada saat Perjanjian Hudaibiyah, Suhail merupakan salah satu negosiator dari kaum kafir Quraisy. Meski perjanjian itu dianggap menguntungkan kaum kafir Quraisy, akhirnya mereka tetap melanggar perjanjian tersebut.

Akhirnya, kaum Muslimin melancarkan penaklukan Kota Makkah. Di peristiwa inilah, Suhail mulai mengagumi sikap Rasulullah SAW dengan mengampuni dan membebaskan penduduk Makkah, yang pernah begitu memusuhi Rasulullah SAW.

Inilah kemudian yang mengubah pandangan Suhail. Setelah Fathul Makkah, Suhail akhirnya menyatakan keislamannya.

Keislaman Suhail ini pun disambut gembira oleh sang anak, Sahlah. Kesabaran dan keteguhan hati dari Sahlah akhirnya terjawab dengan berita gembira, masuknya sang ayah ke dalam Islam. Sahlah pun mengisi hidupnya dengan ketenangan dan senantiasa menjalankan serta patuh terhadap perintah Rasulullah SAW.

Sahlah selalu bertanya kepada Rasulullah SAW perihal ritual ibadah dan permasalah fikih. Ada satu hadis yang sempat diriwayatkan oleh Sahlah. Hadis ini pun sempat menjadi sorotan lantaran adanya pemberian susu kepada orang yang telah berusia dewasa. Dari Aisyah berkata, "Sahlah binti Suhail datang kepada Rasulullah SAW, dia berkata, 'Rasulullah, aku melihat wajah Abu Hudzaifah saat Salim masuk kepadaku,' Nabi bersabda, 'Susuilah dia.' Sahlah berkata, 'Bagaimana aku menyusuinya, sementara dia sudah dewasa?' Rasulullah tersenyum dan bersabda, 'Aku tahu dia sudah dewasa'."

Hadis ini memiliki latar belakang, Salim adalah hamba sahaya yang diangkat sebagai anak oleh Abu Hudzaifah. Padahal, saat itu, Salim sudah dewasa. Karena itu, Sahlah kesulitan berinteraksi dengan Salim, karena dianggap masih bukan mahram. Abu Hudzaifah pun kurang senang dengan hal itu. Akhirnya, Sahlah menemui Rasulullah untuk meminta pendapat kepada beliau atas hal tersebut.

Sebagian ulama pun berpendapat, susu yang diberikan kepada Salim itu tidak langsung dari tubuh Sahlah, melainkan melalui wadah seperti gelas. Sebab, Rasulullah SAW melarang adanya persentuhan kulit antara pria dan wanita yang bukan mahram. Hal ini seperti penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim. Beliau menyebutkan, "Sepertinya Sahlah mengeluarkan air susunya terlebih dahulu, barulah setelah itu diminum oleh Salim. Sehingga Salim tidak perlu menyentuh apa pun dan kulit tubuh mereka tidak bersentuhan, karena tidak halal seorang laki-laki melihat organ susu seorang wanita yang bukan mahramnya atau menyentuhnya."

Selain itu, Aisyah juga berpendapat, hal itu adalah kondisi khusus dan keringanan yang diberikan Rasulullah SAW kepada Sahlah binti Suhail. Tidak hanya itu, sebagian ulama menilai, apa yang dilakukan Rasulullah SAW adalah hendak memahramkan Salim dengan Sahlah dan menyatukannya di dalam satu rumah tanpa ada rasa canggung. Pemberian minum susu ini pun hanya sebanyak lima kali, tidak seterusnya.
[yy/republika]