27 Dzulhijjah 1442  |  Jumat 06 Agustus 2021

basmalah.png

Aspek Wasathiyah Islam

Aspek Wasathiyah Islam

Fiqhislam.com - Sikap moderat berarti memiliki kecenderungan untuk memilih jalan tengah. Dengan perkataan lain, seorang moderat tidak akan larut dalam titik ekstrem, baik yang terlalu banyak maupun terlampau sedikit mengenai suatu hal. Dalam bahasa Arab, karakteristik demikian diistilahkan sebagai wasathiyah.

Islam mengajarkan umatnya untuk mengutamakan pertimbangan yang proporsional. Menurut ajaran agama ini, aspek-aspek wasathiyah meliputi banyak hal. Di antaranya adalah memiliki semangat untuk menjaga kerukunan, ketenteraman, dan keadilan.

Dalam Alquran, ada banyak ayat yang mengandung perintah agar manusia berlaku adil. “Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS al-Hujurat: 9).

Al-I’tidal

Alquran surah al-Hujurat ayat sembilan mengajarkan ketentuan-ketentuan yang mesti diikuti Muslimin ketika sesamanya sedang terseret konflik. “Dan apabila ada dua golongan orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil,” demikian terjemahan ayat tersebut.

Sikap adil atau tidak memihak siapapun demi tujuan perdamaian disebut sebagai i’tidal. Sebagaimana dalam shalat, i’tidal pun berarti mengambil posisi tegak lurus. Tidak condong ke pihak manapun. Peran i’tidal yang dijalankan pemerintah bermakna mendukung penegakan hukum yang adil.

Asy-Syura

Salah satu aspek wasathiyah menurut ajaran Islam ialah musyawarah (asy-syura). Muslim yang gemar bermusyawarah berarti telah mengambil sikap jalan tengah.

Forum yang digelarnya dapat menjadi ruang untuk membicarakan masalah secara bersama-sama. Di dalamnya, berbagai pendapat, pandangan, dan argumentasi yang mulanya berlainan bisa saling didiskusikan. Alhasil, solusi yang bijaksana akan disepakati. Mufakat pun tercapai tanpa mencederai perasaan peserta musyawarah.

Dalam menegakkan asy-syura, perlu peran pemimpin yang mampu menjembatani perbedaan-perbedaan di tengah masyarakat. Setiap peserta musyawarah harus dapat menunjukkan kelemah-lembutan, baik dalam sikap, ucapan maupun perbuatan.

Hindari cara-cara emosional, seperti berkata kasar, menyela pembicaraan terus-menerus, apatah menggebrak meja. Forum ditutup dengan doa kafaratul majelis, seperti diajarkan Rasulullah SAW.

Al-Islah

Sikap ini berarti kehendak untuk melakukan perbaikan. Di antara bentuk-bentuk al-islah adalah menjaga harmoni dan menganjurkan perdamaian. Islah merupakan kewajiban bagi umat Islam, baik secara personal maupun sosial.

Penekanan islah ini lebih terfokus pada hubungan antara sesama umat manusia dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Allah SWT.

Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban, dijelaskan bahwa islah yang dilarang adalah menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah SWT. Begitu pula, jangan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan-Nya.

Di antara islah yang diperintahkan Allah Ta’ala berkaitan dengan masalah rumah tangga Muslim. Untuk mengatasi kemelut, sesuai petunjuk Alquran surah an-Nisa’ ayat 35, maka perlu adanya pihak ketiga untuk mendamaikan antara pihak suami dan istri. [yy/republika]

Oleh Hasanul Rizqa